Satu-satunya Teknisi Wanita di Depo Rapid Rail: Menembus Dominasi Pria di Industri Berat
Baca dalam 60 detik
- Nur Atiqah Norhaizad, 28 tahun, menjadi satu-satunya teknisi perempuan di tim peralatan depo LRT Kelana Jaya, Malaysia, menantang stereotip gender di bidang teknik berat.
- Kariernya di Rapid Rail menunjukkan bahwa dukungan tim dan kesiapan fisik menjadi kunci sukses perempuan di lingkungan kerja yang didominasi mesin-mesin raksasa.
- Kisahnya membuka ruang diskusi tentang keterwakilan perempuan di sektor transportasi dan infrastruktur, sejalan dengan tren peningkatan partisipasi perempuan di industri serupa di Asia Tenggara.

Di tengah hiruk-pikuk depo kereta api yang dipenuhi alat berat, seorang perempuan muda berdiri tegap. Nur Atiqah Norhaizad, 28 tahun, adalah satu-satunya teknisi wanita di tim peralatan depo LRT Kelana Jaya milik Rapid Rail. Baginya, menjadi perempuan bukan halangan untuk berkarya di dunia yang selama ini didominasi pria.
Keseharian Nur Atiqah diisi dengan pemeriksaan dan perbaikan mesin-mesin penopang operasional kereta, mulai dari forklift pengangkat komponen, mesin profil roda, hingga derek di atas kepala. Tugasnya menuntut ketelitian dan fisik yang prima. Namun, ia justru menemukan kepuasan di sana. "Saya bangga menjadi teknisi perempuan karena ini langka. Saya menikmati tantangannya," ujarnya saat ditemui di tempat kerjanya.
Perjalanan Nur Atiqah tidak singkat. Lulusan diploma teknik mesin dari Taiping Vocational College ini memulai karier di bidang teknik sejak usia 21 tahun. Sebelum bergabung dengan Rapid Rail tiga tahun lalu, ia sudah malang melintang di pekerjaan serupa. Pengalaman itu membuatnya tidak canggung berada di lingkungan yang mayoritas pria. "Saya sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini," katanya.
Di balik keahliannya, ada tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Pekerjaan ini menuntut energi besar. Namun, Nur Atiqah menegaskan bahwa perbedaan energi antara pria dan wanita bisa disiasati dengan kerja sama tim. "Kami saling membantu. Tim saya sangat suportif, mereka mengajari saya banyak hal," tuturnya. Dukungan rekan kerja menjadi modal berharga untuk terus berkembang.
Keselamatan adalah prioritas utama. Nur Atiqah mengingatkan pentingnya mengikat rambut dan memastikan jilbab tidak tersangkut mesin. Ia juga menjaga kebugaran dengan pola makan sehat dan minum air yang cukup. "Tidak harus ke gym, yang penting menjaga diri," pesannya. Di luar pekerjaan, ia melepas stres dengan berlari, mengikuti maraton, hiking, dan memancing.
Minatnya pada dunia perbaikan sudah tumbuh sejak kecil. Saat sekolah, ia menyukai mata pelajaran Keterampilan Hidup karena bisa memegang perkakas. Ia juga sering membantu kakaknya yang seorang montir memperbaiki motor. Dukungan orang tua menjadi penyemangat terbesar. "Saya teknisi perempuan pertama di keluarga. Orang tua selalu mendukung dan mengingatkan untuk berhati-hati," kenangnya.
Meski sempat mendapat saran untuk memilih pekerjaan kantoran, Nur Atiqah memilih tetap pada jalurnya. "Saya sudah mencoba kerja di meja, tapi saya lebih suka memperbaiki sesuatu," tegasnya. Ke depan, ia bercita-cita menjadi teknisi senior dan terlibat langsung dalam perawatan kereta. Ia pun mendorong perempuan lain untuk berani mencoba karier di bidang teknik. "Pengetahuan itu luas. Awalnya saya takut karena tubuh saya kecil dan semua terlihat besar, tapi akhirnya saya belajar," pungkasnya.
Kisah Nur Atiqah menjadi cermin bagi industri transportasi di kawasan, termasuk Indonesia. Di tengah upaya mendorong kesetaraan gender, kehadiran teknisi perempuan di sektor perkeretaapian masih jarang. Padahal, partisipasi perempuan di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) terbukti membawa perspektif baru dan meningkatkan keselamatan kerja. Menurut data Organisasi Buruh Internasional (ILO), proporsi perempuan di sektor transportasi global baru sekitar 20 persen, dan di bidang teknik kerap lebih rendah lagi. Indonesia sendiri, melalui Kementerian Perhubungan, mulai mendorong keterlibatan perempuan dalam operasional kereta, meski jumlahnya masih terbatas.
Kisah Nur Atiqah tidak hanya soal karier individu, tetapi juga tentang mengubah paradigma. Ketika seorang perempuan mampu menaklukkan mesin-mesin raksasa, ia membuka jalan bagi generasi berikutnya. Pertanyaannya, akankah industri perkeretaapian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, semakin terbuka terhadap talenta perempuan? Atau justru masih akan didominasi stereotip bahwa pekerjaan berat adalah ranah laki-laki?



