Erupsi Anak Krakatau Justru Diperlukan: Mbah Rono Ungkap Proses Alami Pembentukan Gunung
Baca dalam 60 detik
- Pakar vulkanologi Surono menilai erupsi yang terjadi adalah mekanisme alami untuk membangun kembali tubuh Gunung Anak Krakatau.
- Setelah episode erupsi menerus 25 jam, aktivitas gunung kini menunjukkan pola strombolian, namun status Siaga Level III masih bertahan.
- Masyarakat pesisir Lampung dan Banten diminta waspada terhadap potensi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan setelah serangkaian erupsi yang berlangsung hampir dua hari. Pakar gunung api yang akrab disapa Mbah Rono menegaskan bahwa aktivitas vulkanik ini bukan sekadar ancaman, melainkan bagian dari siklus alami gunung termuda di Indonesia itu untuk 'menumbuhkan' tubuhnya kembali.
Menurut Surono, sapaan akrabnya, setiap letusan yang terjadi merupakan respons atas akumulasi tekanan dari pasokan magma yang terus mengalir dari perut bumi. Material vulkanik yang dilontarkan, seperti abu dan batuan pijar, akan jatuh di sekitar kawah dan secara perlahan membentuk lapisan baru. Proses ini, ujarnya, adalah cara Anak Krakatau untuk meningkatkan ketinggian dan volume tubuhnya setelah sekian lama kehilangan massa akibat letusan dahsyat pada 2018 silam.
"Secara alamiah dia memang harus melepaskan tekanan itu. Material yang keluar akan menumpuk dan menjadi bagian dari tubuh gunung, sehingga ukurannya bertambah besar," jelas pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Geologi ini. Ia menambahkan, abu halus yang terbawa angin hingga jarak jauh merupakan konsekuensi yang tak terhindarkan dari setiap letusan.
Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa episode erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB telah berakhir. Namun, aktivitas vulkanik tidak serta-merta berhenti. Badan Geologi mencatat tiga kali erupsi strombolian dengan kolom abu hitam setelah periode tersebut, menandakan transisi ke pola letusan yang lebih pendek namun tetap berbahaya.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa pemantauan instrumental pada 6-7 September masih merekam kegempaan yang tinggi. "Kembalinya erupsi strombolian mengindikasikan berakhirnya episode erupsi menerus, tetapi potensi letusan susulan masih mengancam," ujarnya dalam keterangan resmi di Bandung, Senin (7/9). Status Gunung Anak Krakatau pun masih bertahan di Level III (Siaga), dengan rekomendasi larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi.
Bagi warga pesisir Banten dan Lampung, kabar ini menjadi pengingat akan risiko yang mengintai. Meski erupsi saat ini cenderung ringan, sejarah mencatat letusan besar Anak Krakatau pada 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda. Oleh karena itu, imbauan untuk tidak mendekati area kawah bukan sekadar formalitas, melainkan langkah mitigasi yang harus dipatuhi.
Mbah Rono sendiri menilai masyarakat tak perlu panik berlebihan. Ia menekankan bahwa aktivitas ini adalah siklus normal yang akan terus berulang. "Yang penting adalah memahami karakteristik gunung dan selalu waspada," katanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa potensi letusan eksplosif tetap ada, terutama jika tekanan magma tidak terdistribusi secara merata.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat tubuh Anak Krakatau akan pulih dan apakah pola erupsi ini akan berlanjut dalam skala yang lebih besar. Para ahli akan terus memantau perkembangan seismik dan deformasi gunung untuk memberikan peringatan dini yang akurat. Bagi Indonesia, yang berada di cincin api Pasifik, kesiapsiagaan terhadap bencana vulkanik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.



