Erupsi Anak Krakatau: Warga Jakarta Borong Masker, Stok Menipis di Pasar Pramuka
Baca dalam 60 detik
- Lonjakan permintaan masker di Pasar Pramuka terjadi sehari setelah abu vulkanik Anak Krakatau terdeteksi mencapai Jakarta.
- Pedagang melaporkan stok di tingkat distributor mulai kosong, memicu kekhawatiran kelangkaan jika erupsi berlanjut.
- BMKG memantau dua klaster sebaran abu yang berpotensi mengganggu kualitas udara dan penerbangan di wilayah barat Indonesia.

Gelombang pembelian masker melanda Pasar Pramuka, Jakarta Timur, pada Senin (7/9/2026) siang, menyusul menyebarnya abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau hingga ke ibu kota. Lorong-lorong pasar yang biasanya lapang kini dipadati warga yang mengantre di kios-kios alat kesehatan, mencari perlindungan pernapasan dari partikel abu yang dilaporkan mulai terasa di sejumlah wilayah.
Fenomena ini bukan sekadar respons sesaat. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dirilis pukul 06.00 WIB menunjukkan dua klaster sebaran debu vulkanik yang membentang dari Selat Sunda hingga sebagian Sumatera dan Jawa. Klaster pertama mencakup Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, serta Samudra Hindia di sekitarnya, dengan ketinggian kolom abu mencapai 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer. BMKG menggarisbawahi bahwa pada ketinggian tersebut, abu berpotensi mengganggu jarak pandang dan kualitas udara di wilayah terdampak.
Gilang, seorang pedagang masker di Pasar Pramuka, mengonfirmasi bahwa permintaan melonjak sejak Minggu (6/9) dan terus berlanjut hingga hari ini. "Dari kemarin penjualan meningkat, konsumen yang mencari juga banyak," ujarnya saat ditemui di lokasi. Namun, di balik lonjakan tersebut, Gilang menyampaikan kekhawatiran: stok di kiosnya nyaris habis, dan distributor pun sedang kosong. "Sekarang stok mulai kosong semua, tinggal sedikit. Dari distributor juga tidak ada," tambahnya.
Peristiwa ini mengingatkan pada pengalaman pahit saat erupsi Gunung Kelud pada 2014 dan krisis abu akibat letusan Gunung Merapi yang pernah melumpuhkan aktivitas warga di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Saat itu, permintaan masker melonjak drastis dalam hitungan jam, dan harga sempat meroket hingga tiga kali lipat di beberapa daerah. Kini, pola serupa tampak berulang di Jakarta, meski belum ada laporan mengenai kenaikan harga yang signifikan.
Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah perkotaan terhadap dampak bencana alam yang berasal dari luar daerah. Meski jarak Jakarta dari Anak Krakatau mencapai lebih dari 150 kilometer, sebaran abu yang terbawa angin mampu menembus batas administrasi dan memengaruhi kesehatan masyarakat. Para ahli kesehatan masyarakat menyarankan penggunaan masker berstandar N95 atau KN95 untuk filtrasi partikel halus, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
Di sisi lain, lonjakan permintaan ini juga menyoroti pentingnya kesiapan rantai pasok alat kesehatan di tingkat eceran. Pedagang seperti Gilang berharap pemerintah daerah segera berkoordinasi dengan distributor untuk memastikan ketersediaan stok, setidaknya hingga status erupsi diturunkan. "Kami tidak ingin kehabisan saat warga paling membutuhkan," tuturnya.
BMKG sendiri terus memantau perkembangan erupsi dan sebaran abu melalui citra satelit Himawari-9 serta informasi dari PVMBG dan VAAC Darwin. Masyarakat diimbau untuk memantau informasi resmi dan mengurangi aktivitas di luar ruangan jika abu mulai terlihat. Pertanyaannya, akankah pola pembelian panik ini menjadi pelajaran bagi sistem distribusi nasional untuk lebih tanggap menghadapi bencana serupa di masa depan?



