Duel Juventus vs Milan: Gullit Kritik Laga Membosankan, Ingatkan Ramos Butuh Dukungan
Baca dalam 60 detik
- Legenda AC Milan, Ruud Gullit, menyoroti dua laga sebelumnya yang berakhir 0-0 dan berharap duel kali ini lebih hidup.
- Gonçalo Ramos, rekrutan termahal Serie A musim ini, dinilai tidak bisa bekerja sendirian tanpa dukungan lini tengah dan sayap.
- Kegagalan Juventus dan Milan di Liga Champions musim lalu menjadi pengingat bahwa kedua raksasa Italia masih belum pulih sepenuhnya.

Laga big match Serie A antara Juventus dan AC Milan di Allianz Stadium, Turin, Jumat (3/10) dini hari WIB, mendapat sorotan tajam dari legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit. Mantan pemain yang pernah membela kedua klub tersebut menilai rivalitas klasik Italia ini belakangan kehilangan daya tariknya. Pasalnya, dua pertemuan terakhir kedua tim pada musim 2025-2026 berakhir tanpa gol, sebuah fakta yang menurut Gullit mencederai reputasi laga yang seharusnya menjadi tontonan kelas dunia.
Gullit, yang kini aktif sebagai analis, tidak ragu menyebut pertandingan tahun lalu di San Siro sebagai bencana. "Nol gol, nol hiburan. Di atas kertas ini laga besar, tapi kenyataannya mengecewakan," ujarnya kepada La Gazzetta dello Sport. Kritik ini muncul di tengah membaiknya performa kedua tim yang sama-sama memenangi dua laga perdana musim ini. Namun, Gullit mengingatkan bahwa kemenangan atas tim-tim kecil belum menjadi tolok ukur untuk laga sebesar ini.
Lebih jauh, Gullit menyoroti kegagalan Juventus dan Milan menembus Liga Champions musim 2025-2026. Bianconeri finis di peringkat keenam, sementara Rossoneri di posisi kelima, sebuah kemunduran yang menurutnya tidak bisa diterima bagi klub sebesar mereka. "Tim-tim seperti ini punya DNA Liga Champions. Musim lalu Milan nyaris lolos, tapi di momen krusial mereka menyia-nyiakan kerja keras berbulan-bulan," kata Gullit. Ia menilai untuk kembali ke puncak, dibutuhkan pemain-pemain yang mampu mengambil keputusan tepat di lapangan, bukan sekadar mengandalkan nama besar.
Perhatian khusus Gullit tertuju pada Gonçalo Ramos, striker anyar Milan yang diboyong dari Paris Saint-Germain dengan nilai transfer mencapai €75 juta, menjadikannya pembelian termahal di Serie A musim panas ini. Meski mengaku menyukai karakter pemain asal Portugal itu, Gullit menilai ekspektasi yang terlalu tinggi justru bisa menjadi bumerang. "Anda tidak bisa berharap satu striker menyelesaikan semua masalah. Berapa banyak bola yang dia terima? Bagaimana peran pemain lain yang seharusnya memasoknya di kotak penalti? Ramos pantas mendapat kepercayaan, tapi dia butuh dukungan dari seluruh tim," tegasnya. Pernyataan ini relevan mengingat Milan di bawah pelatih anyar, Rúben Amorim, masih dalam tahap adaptasi dengan skuad yang dirombak besar-besaran.
Menariknya, legenda Italia, Gigi Buffon, justru menilai Juventus sedikit diunggulkan dalam laga nanti. Namun, Gullit tidak sependapat. Menurutnya, setelah baru dua pekan kompetisi, belum ada indikator kuat untuk menentukan favorit. Ia justru menyoroti perbedaan pendekatan kedua pelatih: Thiago Motta di Juventus yang dinilai solid, sementara Amorim di Milan mencoba memadukan pemain muda dan berpengalaman. "Tim yang banyak berubah selalu butuh waktu. Milan harus bekerja keras untuk memulihkan kepercayaan diri mereka," pungkas Gullit.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini tetap menarik karena menyajikan taktik kelas Eropa dan peran pemain-pemain bintang yang kerap menjadi idola. Selain itu, hasil pertandingan ini akan memengaruhi persaingan papan atas Serie A yang selalu dinanti, terutama bagi mereka yang mengikuti liga Italia melalui siaran langsung. Pertanyaannya, akankah kedua tim mampu mematahkan tren 0-0 dan memberikan tontonan yang layak untuk status big match? Atau justru kembali mengecewakan seperti yang dikhawatirkan Gullit?


