Tiga Eks Petinggi Demokrat Jabar Hijrah ke NasDem, Siap Bertarung di Pemilu 2029
Baca dalam 60 detik
- Tiga mantan pengurus Demokrat Jawa Barat resmi menyandang atribut NasDem, menandai pergeseran peta kekuatan politik di provinsi tersebut.
- Langkah ini dipandang sebagai upaya NasDem memperkuat basis kader menjelang Pemilu 2029, dengan target kursi DPR RI dan DPRD.
- Kepindahan ini berpotensi memicu perombakan strategi partai di Jabar, sekaligus menjadi sinyal dinamika politik nasional ke depan.

Tiga tokoh yang sebelumnya memegang kendali di tubuh Partai Demokrat Jawa Barat resmi berpindah haluan ke Partai NasDem, Minggu (6/9/2026). Achdar Sudrajat, Wawan Setiawan, dan Toto Purwanto Sandi, yang notabene pernah duduk di jajaran pengurus DPD Demokrat Jabar, kini siap mengibarkan bendera baru di panggung politik menuju Pemilu 2029.
Perkenalan resmi ketiganya berlangsung di Akademi Bela Negara Partai NasDem, Pancoran, Jakarta Selatan. Momen itu ditandai dengan penyematan jaket partai oleh Sekretaris Jenderal NasDem, Hermawi Taslim, disusul penyerahan Kartu Tanda Anggota (KTA). Kehadiran mereka langsung disambut Ketua DPW NasDem Jawa Barat, M. Rahmat, yang menyebut perpindahan ini sebagai bagian dari dinamika politik yang lumrah.
Di balik seremoni tersebut, tersimpan pesan strategis. Ketiga tokoh ini bukan wajah baru di panggung politik Jawa Barat. Achdar Sudrajat, misalnya, pernah menjadi anggota DPRD Jabar dua periode, sementara Wawan Setiawan mengabdi satu periode, dan Toto Purwanto Sandi mencatatkan tiga periode. Pengalaman panjang mereka di legislatif menjadi modal berharga yang coba direbut NasDem untuk memperkuat mesin politiknya di provinsi dengan jumlah pemilih terbesar kedua di Indonesia.
Ambisi mereka pun terang-terangan disampaikan. Wawan Setiawan mengungkapkan harapannya untuk kembali duduk di kursi legislatif melalui NasDem, sementara Achdar Sudrajat dengan tegas menyatakan kesiapannya maju sebagai calon anggota DPR RI pada Pemilu 2029. "Saya all out akan berjuang habis, dan saya akan menambah suara untuk Partai NasDem," ujarnya, seperti dikutip dalam acara tersebut. Toto Purwanto Sandi, yang mengaku telah menaruh minat pada NasDem sejak 2019, menyebut konsep politik tanpa mahar sebagai daya tarik utama yang membuatnya mantap pindah.
Fenomena perpindahan kader antarpihak ini bukanlah hal baru dalam politik Indonesia, namun momentumnya selalu menarik dicermati. Bagi NasDem, perekrutan tokoh-tokoh senior dari partai lain merupakan strategi untuk mempercepat konsolidasi dan meningkatkan elektabilitas di daerah. Sementara bagi Demokrat, kehilangan kader-kader berpengalaman di Jabar bisa menjadi pukulan telak, mengingat provinsi ini merupakan salah satu lumbung suara nasional.
Bagi pengamat politik, langkah ini juga mencerminkan pragmatisme yang kian mengemuka di kalangan politisi. Ketika mesin partai tidak lagi mampu memberikan jaminan kemenangan, kader cenderung mencari kendaraan politik yang dianggap lebih menjanjikan. "Ini adalah dinamika yang wajar dalam sistem multipartai, di mana loyalitas seringkali tunduk pada kalkulasi elektoral," ujar seorang analis politik yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, keputusan Toto Purwanto Sandi yang menunda kepindahannya hingga 2026 menunjukkan bahwa perpindahan partai bukanlah keputusan impulsif. Ada pertimbangan matang yang melibatkan penilaian terhadap arah dan prospek partai. Hal ini mengindikasikan bahwa NasDem, di bawah kepemimpinan Surya Paloh, berhasil membangun citra sebagai partai yang terbuka dan menjanjikan kaderisasi yang lebih baik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Demokrat merespons. Apakah partai berlambang mercy tersebut akan melakukan langkah serupa untuk merekrut tokoh dari partai lain, atau justru berfokus pada penguatan internal? Yang jelas, peta politik Jawa Barat mulai bergeser, dan pergerakan para tokoh ini akan menjadi salah satu indikator penting dalam membaca arah kompetisi menuju 2029. Mampukah NasDem memanfaatkan suntikan darah segar ini untuk menembus ambang batas parlemen di Jabar? Atau justru Demokrat mampu membendung arus perpindahan yang lebih besar?



