Studi Harvard: Ganti Lemak Hewani dengan Nabati Turunkan Risiko Kematian Pasien Kanker Prostat
Baca dalam 60 detik
- Penelitian Harvard terhadap 5.000 pria menunjukkan penggantian lemak hewani dengan nabati menurunkan risiko kematian dini hingga 16%.
- Konsumsi lemak jenuh tinggi dari daging merah dan susu penuh lemak meningkatkan risiko kematian kardiovaskular hingga 42%.
- Temuan ini menegaskan pentingnya pola makan nabati dalam perawatan jangka panjang pasien kanker prostat nonmetastatik.

Sebuah studi terbaru dari Harvard T.H. Chan School of Public Health mengungkapkan bahwa pasien kanker prostat yang mengganti lemak hewani dengan lemak nabati memiliki risiko kematian yang lebih rendah secara signifikan. Temuan ini memberikan panduan diet yang jelas bagi jutaan pria yang hidup dengan kanker prostat, di mana perawatan jangka panjang kini tidak hanya fokus pada penyakitnya, tetapi juga pada kesehatan jantung dan pencegahan kanker lainnya.
Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Network Open ini melibatkan hampir 5.000 pria yang terdiagnosis kanker prostat nonmetastatik dan diikuti selama lebih dari 12 tahun. Hasilnya, mereka yang mengonsumsi lemak jenuh dalam jumlah tertinggi dari sumber hewani seperti daging merah, mentega, dan produk susu penuh lemak memiliki risiko kematian 24% lebih tinggi dibandingkan mereka yang paling sedikit mengonsumsinya. Lebih mengkhawatirkan, kelompok ini juga memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular yang melonjak hingga 42%.
Sebaliknya, ketika para peneliti mensimulasikan penggantian 10% kalori harian dari lemak hewani dengan lemak nabati, risiko kematian dari segala sebab turun hingga 16%. Penggantian lemak jenuh dengan lemak tak jenuh tunggal juga dikaitkan dengan penurunan risiko kematian sebesar 20%. Temuan ini menegaskan bahwa jenis dan sumber lemak yang dikonsumsi setelah diagnosis kanker prostat memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup pasien.
Menurut Lorelei Mucci, profesor epidemiologi di Harvard dan penulis utama studi, manfaat lemak nabati tidak hanya berasal dari lemaknya itu sendiri. "Komposisi lemak mungkin salah satu komponen, tetapi bukan satu-satunya faktor di balik manfaat lemak nabati," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa makanan nabati juga dikaitkan dengan penanda inflamasi yang lebih rendah serta profil insulin dan metabolisme yang lebih baik. Namun, studi ini tidak menemukan hubungan antara jenis lemak dengan risiko kematian akibat kanker prostat itu sendiri, yang menunjukkan bahwa manfaat utama berasal dari perlindungan kardiovaskular dan pencegahan kanker lain.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang besar. Berdasarkan data Globocan 2020, kanker prostat merupakan salah satu kanker yang paling umum diderita pria di Indonesia, dengan lebih dari 13.000 kasus baru setiap tahunnya. Seiring meningkatnya angka harapan hidup dan perubahan gaya hidup, jumlah penyintas kanker prostat di Indonesia diperkirakan akan terus bertambah. Sayangnya, pola makan tradisional yang kaya akan santan dan daging olahan, serta meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, dapat meningkatkan asupan lemak jenuh. Ahli gizi di Indonesia pun mulai mendorong konsumsi lebih banyak tahu, tempe, kacang-kacangan, dan minyak zaitun sebagai sumber lemak sehat yang lebih mudah diakses.
S. Adam Ramin, seorang ahli urologi dari Los Angeles, menekankan bahwa temuan ini bukan tentang veganisme ketat, melainkan tentang menjadikan lemak sehat dan tanaman sebagai 'pahlawan' dalam setiap menu makan. "Ini tentang hierarki yang mengutamakan tanaman," katanya. Makanan nabati kaya akan serat dan senyawa seperti likopen dan isoflavon yang dapat membantu mengatur peradangan dan mendukung kesehatan metabolisme. Serat juga berperan dalam menjaga mikrobioma usus yang sehat, yang oleh sebagian ahli disebut sebagai 'penjaga sistem imun'.
Meski demikian, Ramkishen Narayanan, direktur Center for Urologic Health di Providence Saint Joseph Medical Center, mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. "Saya tidak akan menganggap temuan ini saja cukup untuk merekomendasikan perubahan besar dalam praktik klinis," katanya. Namun, ia mengakui bahwa diet merupakan komponen penting untuk kesehatan kardiovaskular dan umur panjang secara keseluruhan. Para ahli sepakat bahwa bagi penyintas kanker prostat, menjaga kesehatan jantung sama pentingnya dengan memantau kekambuhan kanker.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah panduan diet ini akan diintegrasikan ke dalam protokol perawatan standar di Indonesia. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat, akankah pasien dan dokter mulai lebih serius membahas pola makan sebagai bagian dari terapi? Studi ini memberikan bukti kuat bahwa pilihan di piring dapat memengaruhi masa depan kesehatan, dan sudah saatnya perawatan kanker tidak hanya berfokus pada obat, tetapi juga pada nutrisi.



