BNPB Kerahkan Hujan Buatan dan Water Mist untuk Bersihkan Abu Vulkanik Krakatau di Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Operasi modifikasi cuaca digelar BNPB hari ini, Minggu (6/9/2026), untuk menekan sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah mencapai Jakarta, Banten, dan Lampung.
- Dua strategi utama disiapkan: memicu hujan buatan serta penyemprotan kabut air (water mist) sebagai langkah cadangan jika awan hujan tak kunjung terbentuk di tengah musim kemarau.
- Pemerintah memastikan belum ada korban jiwa, namun pendataan kerusakan di 15 kecamatan terdampak masih berlangsung dan distribusi logistik serta masker mulai dilakukan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung bergerak cepat dengan menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Minggu (6/9/2026) untuk menekan konsentrasi abu vulkanik sisa erupsi Gunung Anak Krakatau yang mulai menyelimuti langit Jakarta, Banten, dan Lampung. Langkah ini diambil setelah partikel halus dari letusan tersebut mengganggu aktivitas warga di tiga provinsi, memaksa pemerintah mengerahkan armada pesawat yang telah disiagakan di Pangkalan Udara Pondok Cabe.
Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto, dalam rapat koordinasi virtual yang digelar hari ini menegaskan bahwa misi penyemaian awan akan berlangsung hingga malam hari. "Hari ini juga kita melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Jadi pesawatnya sudah siap di Pondok Cabe," ujarnya. Operasi ini menjadi uji efektivitas teknologi modifikasi cuaca dalam skala besar, mengingat wilayah yang disasar mencakup ibu kota negara beserta penyangganya.
BNPB menyiapkan dua pendekatan untuk mengatasi partikel abu di atmosfer. Pertama, memicu hujan buatan agar partikel tersapu turun ke permukaan. Namun, tantangan muncul karena musim kemarau membuat pertumbuhan awan hujan tidak menentu. Untuk mengantisipasi hal ini, BNPB berkolaborasi dengan BMKG menggunakan metode water mist—penyemprotan kabut air dari udara—sebagai solusi alternatif untuk mengurai partikel yang membahayakan kesehatan.
Erupsi yang terjadi sejak beberapa hari terakhir tidak hanya berdampak pada kualitas udara. Data sementara menunjukkan 15 kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, Pandeglang, dan Tanggamus terkena imbas langsung, baik berupa hujan abu tipis maupun kerusakan ringan pada infrastruktur. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa, tetapi pendataan menyeluruh terus dilakukan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah.
Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, operasi ini menjadi penanda bahwa risiko abu vulkanik tidak lagi hanya milik daerah dekat gunung. Dalam beberapa tahun terakhir, pola sebaran abu dari Anak Krakatau kerap mencapai wilayah urban, mengganggu penerbangan dan memicu gangguan pernapasan. Upaya BNPB kali ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengelola risiko bencana lintas wilayah, meski efektivitas water mist masih perlu dievaluasi lebih lanjut.
Di sisi lain, respons cepat ini memunculkan pertanyaan tentang kesiapan jangka panjang. Apakah teknologi modifikasi cuaca akan menjadi instrumen rutin dalam penanggulangan bencana? Atau justru hanya solusi sementara yang menutupi perlunya mitigasi struktural di kawasan rawan erupsi? Analis kebencanaan menilai bahwa investasi pada sistem peringatan dini dan edukasi publik tetap menjadi kunci, sementara OMC hanyalah salah satu alat dalam kotak peralatan darurat.
Pemerintah juga telah mulai mendistribusikan masker dan logistik dasar bagi warga terdampak, sebuah langkah yang diapresiasi namun perlu dipastikan menjangkau daerah terpencil. Dengan musim kemarau yang masih berlanjut, tantangan membersihkan udara dari abu vulkanik belum selesai dalam hitungan hari. Pertanyaan besar yang menggantung: mampukah langkah-langkah teknis ini diimbangi dengan penguatan sistem kesehatan masyarakat yang siap menghadapi dampak lanjutan dari bencana serupa di masa depan?



