Ganti Willock: Debut Fernandez-Pardo Bisa Jadi Titik Balik Lini Serang Newcastle
Baca dalam 60 detik
- Penampilan impresif Matias Fernandez-Pardo saat debut melawan Bournemouth memicu perdebatan soal posisi starter Joe Willock di Newcastle.
- Statistik Fernandez-Pardo di Lille musim ini menunjukkan potensinya sebagai pengganti Allan Saint-Maximin, dengan kemampuan dribel dan kreativitas di atas rata-rata.
- Keputusan Matthias Jaissle untuk menurunkan pemain muda Spanyol itu saat melawan Leeds bisa menentukan arah permainan menyerang Newcastle ke depan.

Kegagalan Newcastle United menciptakan peluang bersih saat ditahan imbang 2-2 oleh Bournemouth di St. James' Park akhir pekan lalu menjadi sorotan tajam. Hasil imbang itu memang tidak buruk, namun cara The Magpies tampil—dengan hanya satu peluang emas dan xG 0,71—menunjukkan lini serang mereka masih jauh dari kata memuaskan. Di tengah kebuntuan itu, muncul satu nama yang langsung mencuri perhatian: Matias Fernandez-Pardo, pemain anyar yang baru bergabung dari Lille.
Pelatih Matthias Jaissle kini dihadapkan pada dilema menarik. Joe Willock, yang dipercaya mengisi posisi gelandang serang, gagal memberikan dampak signifikan. Dalam 63 menit bermain, mantan pemain Arsenal itu tidak melepaskan satu pun tembakan ke gawang dan tidak menciptakan peluang bagi rekan-rekannya. Penampilan yang dinilai 6/10 itu jelas tidak cukup untuk mengamankan tempatnya di susunan utama, terutama saat tim membutuhkan kreator di belakang penyerang.
Di sisi lain, Fernandez-Pardo yang masuk pada menit ke-63 langsung memberi warna berbeda. Dalam 27 menit, pemain berusia 21 tahun itu menunjukkan keberanian membawa bola, dengan catatan 100% dribel sukses dan dua dari tiga duel dimenangkan. Aksi-aksinya di sisi sayap mengingatkan publik Tyneside pada sosok Allan Saint-Maximin, pemain yang dulu menjadi favorit karena kemampuannya menghibur penonton dengan gocekan dan trik-triknya.
Keputusan Jaissle untuk memainkan Fernandez-Pardo sejak awal melawan Leeds United akhir pekan depan akan menjadi ujian penting. Bukan hanya bagi pemain muda itu, tetapi juga bagi filosofi permainan Newcastle. Jika Fernandez-Pardo mampu tampil konsisten, ia bisa menjadi jawaban atas kebuntuan kreativitas tim, sekaligus membuktikan bahwa investasi di bursa transfer Januari tidak sia-sia.
Perbandingan dengan Saint-Maximin memang tidak bisa dihindari. Pemain Prancis itu meninggalkan warisan 13 gol dan 21 assist selama membela Newcastle, dengan gaya bermain langsung yang kerap membuat bek lawan kewalahan. Fernandez-Pardo, yang bisa bermain di seluruh lini depan, memiliki profil serupa: berani mengambil risiko, lincah, dan haus akan peluang. Statistiknya di Ligue 1 musim ini menempatkannya di 1% teratas untuk sentuhan di kotak penalti lawan, expected assist, dan dribel sukses—angka yang menunjukkan bahwa performanya bukan sekadar kebetulan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk diikuti. Liga Premier Inggris selalu menjadi barometer gaya bermain yang dinamis, dan bagaimana Jaissle mengelola talenta muda seperti Fernandez-Pardo bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub di Indonesia yang kerap kesulitan mengembangkan pemain muda. Keputusan berani untuk memberi menit bermain lebih banyak kepada pemain muda adalah langkah yang patut dicontoh, terutama di tengah kecenderungan klub-klub kita yang lebih memilih pemain asing senior.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Jaissle berani mengambil risiko? Memberi start perdana kepada Fernandez-Pardo di laga tandang melawan Leeds adalah pernyataan berani. Jika berhasil, Newcastle tidak hanya mendapatkan pemain baru, tetapi juga identitas permainan yang lebih menghibur. Jika gagal, kritik akan kembali menghujat. Namun, seperti kata pepatah, keberanian sering kali berbuah manis. Keputusan Jaissle dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah kebangkitan lini serang Newcastle.



