Masa Depan Doctor Who: Mark Gatiss Ingatkan Jangan Ulangi Kesalahan Dallas
Baca dalam 60 detik
- Mantan penulis Doctor Who, Mark Gatiss, menyarankan showrunner baru untuk tidak terlalu memusingkan kontinuitas alur, terutama soal kemunculan Billie Piper sebagai Dokter.
- BBC telah mengumumkan akan membuka proses tender untuk produksi Doctor Who dan membatalkan spesial Natal, menandai perubahan besar dalam arah serial fiksi ilmiah legendaris ini.
- Gatiss menekankan pentingnya menarik penonton baru daripada mencoba memuaskan semua kalangan, sebuah pelajaran yang relevan bagi industri hiburan global, termasuk Indonesia.

Masa depan serial fiksi ilmiah legendaris Doctor Who tengah berada di persimpangan jalan. BBC baru saja mengumumkan akan membuka proses tender untuk produksi musim berikutnya, sekaligus membatalkan spesial Natal yang sempat direncanakan. Di tengah ketidakpastian ini, Mark Gatiss, penulis dan aktor yang pernah terlibat dalam berbagai episode, memberikan wejangan penting bagi siapapun yang akan memegang kendali TARDIS berikutnya: jangan ulangi kesalahan sinetron legendaris Dallas.
Gatiss, yang juga dikenal sebagai salah satu kreator serial Sherlock, menyoroti momen kontroversial di akhir musim terbaru Doctor Who, di mana Ncuti Gatwa (Dokter ke-15) beregenerasi menjadi Billie Piper, aktris yang sebelumnya memerankan Rose Tyler, sahabat setia Dokter. Para penggemar sempat berspekulasi bahwa Piper memerankan inkarnasi baru Time Lord, namun aktris berusia 43 tahun itu dengan tegas membantahnya. Bagi Gatiss, misteri ini sebenarnya tidak perlu dijelaskan secara gamblang.
Dalam wawancaranya dengan podcast Half the Picture, Gatiss menganalogikan situasi ini dengan akhir serial Dallas yang tayang pada 1978โ1991. Ia menceritakan bagaimana karakter J.R. Ewing (diperankan Larry Hagman) pada episode pamungkas bertemu dengan sosok misterius yang ternyata iblis, dan akhirnya J.R. menembak dirinya sendiri. Ketika Dallas dihidupkan kembali 15โ20 tahun kemudian, sang tokoh utama hanya berkata, "Saya melihat banyak hal gila malam itu," karena ia sedang mabuk. Menurut Gatiss, cara ini adalah contoh sempurna bagaimana sebuah serial dapat mereset cerita tanpa perlu menjelaskan semuanya secara detail.
"Di masa depan, jika seseorang ingin menjelaskan mengapa Dokter berubah menjadi Billie Piper, itu mudah. Tetapi sama mudahnya untuk tidak ambil pusing, karena sebenarnya itu tidak terlalu penting. Selalu ada penjelasan. Saya sendiri sudah memikirkan 18 kemungkinan," ujar Gatiss, yang juga berperan sebagai Profesor Lazarus di serial tersebut. Ia menegaskan bahwa kunci kesuksesan Doctor Who ke depan adalah memperlakukan serial ini sebagai sebuah awal yang baru, bukan kelanjutan yang terbebani sejarah panjang.
Gatiss juga mengkritik pendekatan film TV Doctor Who tahun 1996 yang gagal karena mencoba merangkul semua kalangan penonton sekaligus. "Hal yang krusial, dan alasan mengapa film TV langsung tersendat, adalah mereka mencoba membuatnya untuk semua audiens. Padahal audiens yang paling penting adalah penonton baru. Jika Anda memulai sebuah episode Doctor Who di dalam TARDIS, membahas Master dan Daleks, penonton baru pasti akan bingung," jelasnya. Baginya, regenerasi yang dialami Dokter adalah momen yang tepat untuk memperkenalkan cerita kepada generasi baru, tanpa harus terikat pada lore lama yang rumit.
Keputusan BBC untuk membuka tender ini merupakan langkah besar yang jarang terjadi untuk serial sebesar Doctor Who. Dalam pernyataan resminya, BBC menegaskan bahwa Doctor Who tetap menjadi bagian penting dari korporasi, dan proses tender ini adalah bentuk komitmen untuk memastikan serial ini dinikmati generasi mendatang. Namun, pembatalan spesial Natal yang seharusnya menjadi jembatan menuju musim berikutnya menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini awal dari perubahan format yang lebih radikal?
Bagi penggemar di Indonesia, perkembangan ini patut disimak. Doctor Who memiliki basis penggemar yang cukup besar di tanah air, terutama di kalangan penggemar serial fiksi ilmiah. Perubahan arah yang diambil BBC bisa menjadi pelajaran berharga bagi industri televisi Indonesia, yang juga kerap menghadapi dilema antara mempertahankan penggemar lama dan menarik penonton baru. Fenomena reboot atau remake serial klasik yang marak di berbagai platform streaming juga relevan dengan konteks ini. Bagaimana cara terbaik untuk menghidupkan kembali warisan budaya pop tanpa kehilangan esensinya?
Mark Gatiss sendiri optimistis bahwa Doctor Who akan terus bergulir, terlepas dari siapa yang akan memegang kendali. Ia mengingatkan bahwa serial ini selalu punya kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan, seperti yang telah dibuktikan sejak era modern yang dimulai pada 2005. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah BBC akan berani mengambil risiko dengan pendekatan yang benar-benar baru, atau justru akan terjebak dalam nostalgia yang berlebihan? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: TARDIS akan selalu menemukan jalannya.



