Lampu dari Benda Tua: Kisah Ayah-Anak Menghidupkan Antik di Tengah Gempuran Pasar Modern
Baca dalam 60 detik
- Toko antik East Inspirations di Chinatown Singapura mengubah barang rusak menjadi lampu meja bernilai seni, dijalankan ayah-anak sejak 2016.
- PK Cheong, pendiri berusia 72 tahun, memadukan keahlian mesin dengan kecintaan pada budaya Tionghoa untuk melestarikan cerita di balik setiap objek.
- Di tengah penurunan permintaan lampu vas dan persaingan produk murah dari China, toko ini bertahan berkat pelanggan setia dan inovasi desain berkelanjutan.

Di tengah hiruk-pikuk South Bridge Road, Singapura, sebuah toko antik bernama East Inspirations berdiri kokoh sejak 1993. Di balik etalasenya yang penuh sesak dengan porselen Tiongkok dan perabot vintage, terdapat filosofi yang dijaga ketat oleh pendirinya, Cheong Poh Kwai (PK), 72 tahun: setiap benda rusak berhak mendapat kehidupan kedua—bahkan menjadi sumber cahaya baru.
PK, yang akrab disapa demikian, bukanlah pengusaha antik biasa. Sebelum membuka toko, ia adalah seorang masinis di pabrik lampu meja pada 1970-an. Keahlian teknis itu menjadi fondasi ketika ia mulai bereksperimen mengubah porselen pecah menjadi lampu pada 1985. Awalnya, ia terinspirasi setelah melihat gudang penuh antik di Guangzhou, China. “Saya terkejut. Saat itu hati saya tergerak. Mereka begitu indah,” kenangnya. Dari situlah ia mulai mengoleksi dan mempelajari antik, meski harus menyembunyikan pembeliannya dari istri karena keterbatasan finansial.
Kini, East Inspirations dijalankan bersama putranya, Jacob, 37 tahun, yang bergabung sekitar 2016 setelah karier di perbankan tidak berjalan mulus. Jacob mengakui bahwa keputusan itu adalah “lifeline” bagi keduanya: ayahnya dapat terus berkarya, sementara ia mendapat kesempatan menghabiskan waktu bersama sang ayah. Perbedaan selera di antara mereka justru dianggap sebagai kekayaan—Jacob menyebutnya menambah variasi koleksi toko.
Keunikan East Inspirations terletak pada kemampuannya menyulap benda tak terduga menjadi lampu meja. Salah satu karya favorit PK menggunakan dua cetakan biskuit milik ibunya—satu bermotif ikan melambangkan kelimpahan tahunan, yang lain teratai simbol banyak keturunan. “Tujuan pertama memberi kehidupan kedua, tujuan kedua mewariskan tradisi,” ujarnya. Ia juga pernah mengubah balok ventilasi bambu dari rumah yang akan dihancurkan di Guangzhou menjadi lampu, karena warna dan makna auspicious bambu yang berarti “naik lebih tinggi setiap langkah”.
Namun, bisnis ini tidak luput dari tantangan. PK mengakui permintaan lampu vas kini menurun. “Dulu lebih umum, mungkin karena banyak orang tidak lagi menggunakan vas. Selain itu, pasokan dari China membuat orang bisa membeli lebih murah secara online,” katanya. Meski demikian, pelanggan setia sejak 1990-an masih setia kembali, bahkan membawa pelanggan baru. Jacob kini mengelola media sosial dan sesi apresiasi teh yang ia perkenalkan sebagai cara menarik pengunjung muda.
“Secara teknis, apa pun bisa dijadikan lampu—bahkan sebongkah batu,” kata PK.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan dengan tren upcycling dan ekonomi kreatif yang mulai tumbuh di kota-kota besar. Banyak pengrajin lokal yang juga mengubah barang bekas menjadi produk bernilai seni, namun jarang yang mengangkat nilai budaya sekuat yang dilakukan PK. Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka: dapatkah pendekatan serupa—memadukan warisan budaya dengan keterampilan teknis—menjadi model bisnis yang berkelanjutan di tengah arus produk massal? East Inspirations membuktikan bahwa dengan sentuhan personal dan cerita di balik setiap benda, bisnis antik masih punya tempat di hati kolektor dan generasi penerus.



