Taanusiya Chetty Ukir Prestasi di Miss World 2026: Posisi Ketiga dan Penghargaan Kemanusiaan
Baca dalam 60 detik
- Wakil Malaysia, Taanusiya Chetty, berhasil meraih posisi ketiga di final Miss World 2026 di Nha Trang, Vietnam.
- Selain itu, ia juga membawa pulang penghargaan Beauty With A Purpose, menggarisbawahi komitmennya pada aksi sosial.
- Pencapaian ini menandai keberhasilan Malaysia di ajang kecantikan global setelah penantian panjang sejak 1998.

Wakil Malaysia, Taanusiya Chetty, berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah Miss World 2026 dengan meraih posisi kedua runner-up pada final yang digelar di Nha Trang, Vietnam. Di usianya yang ke-26, perempuan yang berprofesi sebagai pendidik ini tidak hanya berhasil menembus enam besar finalis, tetapi juga membawa pulang penghargaan Beauty With A Purpose—sebuah pengakuan atas dedikasi sosial yang ia usung.
Pencapaian ini menjadi angin segar bagi Malaysia, yang sejak 1998 belum pernah menembus posisi tiga besar. Saat itu, Lina Teoh berhasil menempati urutan ketiga. Sebelumnya, pada 1994, Rahimah Orchient Yayah masuk jajaran sepuluh besar, dan Deborah Henry mengulang sukses serupa dengan menembus 16 besar pada 2007. Kini, Taanusiya membuktikan bahwa Malaysia masih memiliki daya saing di panggung kecantikan internasional.
Yang menarik, Taanusiya bukan sekadar wajah cantik. Latar belakangnya sebagai guru memberinya perspektif unik dalam menyuarakan isu pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Dalam ajang tersebut, ia juga menampilkan tarian silat—seni bela diri khas Melayu—yang menjadi simbol kekayaan budaya Malaysia di hadapan juri dan penonton global. Kemampuannya berbahasa dalam empat bahasa, yaitu Melayu, Inggris, Mandarin, dan Tamil, semakin memperkuat posisinya sebagai duta yang mampu menjangkau beragam komunitas.
Kemenangan Taanusiya di Miss World 2026 tidak hanya membanggakan Malaysia, tetapi juga memberikan pelajaran bagi negara tetangga, termasuk Indonesia. Ajang kecantikan semacam ini kerap dipandang sebelah mata, namun nyatanya menjadi panggung diplomasi budaya dan advokasi sosial yang efektif. Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang di Miss World, dengan prestasi terbaik diraih oleh Maria Harfanti yang masuk lima besar pada 2015. Namun, sejak itu, capaian Indonesia cenderung stagnan, dan belum ada yang mampu menembus posisi tiga besar.
Konteks ini menjadi relevan bagi industri kecantikan dan pemberdayaan perempuan di Indonesia. Keberhasilan Taanusiya menunjukkan bahwa kombinasi antara kecerdasan, kepedulian sosial, dan kebanggaan budaya dapat menjadi kunci sukses di ajang internasional. Hal ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi para kontestan Indonesia untuk tidak hanya mengandalkan penampilan fisik, tetapi juga membangun narasi yang kuat tentang isu-isu sosial yang mereka perjuangkan.
Perjalanan Taanusiya di Miss World 2026 juga menyoroti pentingnya persiapan yang matang, tidak hanya dalam hal penampilan, tetapi juga penguasaan wawasan global dan kemampuan berkomunikasi. Dengan latar belakang pendidikan, ia mampu menyampaikan pesan-pesan sosial dengan cara yang meyakinkan, sebuah kualitas yang semakin dicari oleh juri di ajang kecantikan modern. Ini sejalan dengan pergeseran paradigma Miss World yang kini lebih menekankan pada kecantikan yang bermakna, bukan sekadar fisik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Indonesia dapat belajar dari kesuksesan Malaysia ini. Dengan potensi besar yang dimiliki para perempuan Indonesia, baik dari segi pendidikan maupun keberagaman budaya, bukan tidak mungkin prestasi serupa dapat diraih. Namun, diperlukan strategi yang lebih terarah dalam mempersiapkan kontestan, termasuk pendampingan dalam isu advokasi dan pengembangan personal branding. Jika langkah ini diambil, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengukir sejarah baru di pentas Miss World berikutnya.



