Indra Kantono: Dari Konsultan ke Raja Koktail Asia, Kini Menantang Batas Bisnis Bar
Baca dalam 60 detik
- Pendiri Jigger & Pony, Indra Kantono, meraih dua penghargaan internasional bergengsi pada 2026, menegaskan posisinya sebagai ikon industri bar Asia.
- Ekspansi ke Jakarta melalui Cosmo Pony dan konsep bar Korea BOP menjadi bukti strategi 'global fluency' yang diusungnya.
- Kantono memprediksi masa depan bar koktail tidak lagi sekadar minuman, melainkan perpaduan kuliner, musik, dan pengalaman budaya.

Indra Kantono, pria kelahiran Indonesia yang membesarkan nama Jigger & Pony di Singapura, baru saja menuai pengakuan internasional ganda: dinobatkan sebagai Best International Bar Mentor di Spirited Awards dan menerima Roku Industry Icon Award di Asia's 50 Best Bars. Di balik prestasi itu, ia tengah merayakan kelahiran anak pertamanyaโsebuah tahun yang menurutnya 'di luar dugaan'. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana ia kini menggeser fokus dari sekadar bar koktail ke sebuah ekosistem bisnis yang lebih luas.
Perjalanan Kantono tidak dimulai dari dunia minuman. Lulusan Anglo-Chinese School dan Raffles Junior College ini sempat menempuh pendidikan di New York dan bekerja di Bain & Company serta perusahaan ekuitas swasta. Namun, dorongan untuk berwirausaha selalu ada, terinspirasi orang tuanya yang bergerak di bisnis kayu di Kalimantan dan usaha roti ibunya. Titik balik terjadi ketika ia bertemu istrinya, Guoyi Gan, pramugari Singapore Airlines yang menginginkan kebebasan berkarya. Mereka sepakat membangun bar, bukan hotel, karena modal yang terbatas.
Dengan tabungan S$400.000, pasangan ini memulai Jigger & Pony pada 2012. Kini, setelah 14 tahun, grup mereka telah memiliki delapan venue dan mempekerjakan 120 orang di Singapura dan Jakarta. Pengakuan atas pengaruh Kantono datang dari Asia's 50 Best Bars yang menyebutnya memperlakukan hospitality sebagai disiplin organisasi, bukan sekadar produk. Ia juga aktif menjadi mentor, pembicara, dan advokat industri yang berkelanjutan.
Bagi Indonesia, ekspansi Cosmo Pony di Jakarta menjadi sorotan. Berkolaborasi dengan Union Group, bar ini langsung menempati peringkat ke-15 di Asia's 50 Best Bars. Kantono menyebutnya sebagai upaya membawa 'semangat Singapura' ke Jakarta, dan ini baru awal. Ia berencana memperluas jejak ke destinasi lain di Asia. Ini menjadi sinyal bahwa pasar bar premium di Indonesia semakin diperhitungkan, seiring tumbuhnya kelas menengah yang menghargai pengalaman berkualitas.
Proyek terbarunya, Bartenders of Pony (BOP), yang mengusung konsep bar Korea pertama di luar Korea Selatan, menunjukkan arah barunya. BOP tidak sekadar meniru Seoul, melainkan menerjemahkan budaya minum Korea ke dalam konteks Singapura. Kantono percaya masa depan bar koktail adalah melampaui definisi tradisional: menggabungkan elemen makanan, musik, atau tema lain. Ia mencontohkan Offtrack di Singapura yang memadukan musik, dan Bar Leone di Hong Kong yang mengusung olahraga.
Kantono, yang kini menyebut dirannya berada di 'bisnis selera dan zeitgeist budaya', tetap menekankan pentingnya koneksi antarmanusia. "Alkohol hanyalah sebagian kecil dari pekerjaan saya. Koneksi dengan orang lain adalah hal yang layak dilindungi," ujarnya. Pendekatan mentorship-nya pun tidak konvensional: ia membangun budaya belajar melalui Pony Academy dan sistem buddy, bukan sekadar hubungan satu-lawan-satu.
Ke depan, tantangan bagi Kantono adalah bagaimana mempertahankan relevansi di tengah pasar yang semakin jenuh. Dengan tren bar yang mulai mengarah pada konsep hibrida, akankah model bisnis ala Jigger & Pony mampu terus beradaptasi? Atau justru ekspansi ke Jakarta dan kota-kota Asia lainnya akan menjadi kunci pertumbuhan berikutnya? Waktu yang akan menjawab.



