Robot Canggih China Mencuri Perhatian di LEAP 2026 Riyadh: Bukti Nyata Ambisi Saudi Vision 2030
Baca dalam 60 detik
- Pameran teknologi LEAP 2026 di Riyadh menjadi panggung bagi robot-robot China, mulai dari robot tinju hingga robot berkaki empat untuk industri.
- Kehadiran produk seperti robot telepon HONOR dan robot AGIBOT menandai semakin eratnya kolaborasi teknologi China-Timur Tengah, sejalan dengan target diversifikasi ekonomi Saudi.
- Bagi Indonesia, geliat ini menjadi cermin pentingnya mengakselerasi adopsi robotika dan AI untuk mengejar ketertinggalan daya saing industri.

Riyadh, 6 September 2026 โ Dua robot humanoid bertinju di tengah arena pameran, dikelilingi lautan ponsel yang merekam setiap gerakan. Ini bukan pertandingan eksibisi biasa, melainkan daya tarik utama stan Unitree Robotics pada gelaran LEAP Tech Conference di Riyadh, Arab Saudi, yang berlangsung 31 Agustus hingga 3 September 2026. Lebih dari sekadar atraksi, kehadiran robot-robot China ini menjadi simbol nyata percepatan transformasi teknologi di kawasan Teluk.
Ali Alshaer, pengunjung asal Saudi, mengaku takjub melihat kelincahan robot-robot tersebut. "Gerakannya mulus, responsnya cepat, dan bisa melakukan banyak aksi. Saya tidak menyangka teknologinya sudah semaju ini," ujarnya kepada Xinhua. Kekaguman serupa diungkapkan Yulia Bekulova, pengunjung asal Rusia, yang menyebut China kini memproduksi produk berteknologi tinggi yang dapat dinikmati dunia, berbeda dengan masa lalu yang hanya mengandalkan produksi massal.
Di stan AGIBOT, robot berkaki empat AGIQUAD D1 MaxPro yang dilengkapi "pelana" menjadi primadona. Banyak pengunjung antre untuk mencoba menungganginya. Namun, staf AGIBOT menegaskan bahwa robot ini bukan sekadar wahana hiburan. Dengan kapasitas muatan besar dan kemampuan adaptasi di segala medan, robot ini dirancang untuk inspeksi industri dan misi penyelamatan darurat. "Kami ingin pengunjung merasakan langsung kemampuan muatan dan mobilitasnya," kata seorang staf.
HONOR juga memanfaatkan ajang ini untuk debut internasional Robot Phone, ponsel pertama di dunia yang diproduksi massal dengan gimbal mekanis 3-sumbu terintegrasi. Pengunjung seperti Amr Aljamal dari Yordania mengaku terkesan. "Fungsi yang dulu butuh peralatan kamera profesional kini ada di ponsel. Banyak solusi inovatif datang dari China," katanya. CEO HONOR Saudi Arabia, Liao Gang, menyebut perangkat ini sebagai tonggak sejarah dan menegaskan komitmen perusahaan untuk menghadirkan lebih banyak produk China ke pasar Saudi, sejalan dengan Saudi Vision 2030 yang menjadikan AI dan robotika sebagai pilar penting.
Bagi Indonesia, pameran ini menyiratkan pesan penting. Saat China dan Arab Saudi berlari kencang dalam pengembangan robotika dan AI, Indonesia masih berkutat pada tahap adopsi awal. Padahal, potensi penerapan robotika di sektor industri, kesehatan, dan logistik Indonesia sangat besar. Jika tidak segera berbenah, Indonesia berisiko semakin tertinggal dalam persaingan ekonomi digital regional. Pemerintah perlu mendorong riset, investasi, dan kolaborasi dengan pemain global untuk membangun ekosistem robotika yang mandiri.
Deng Feng, presiden AGIBOT untuk Timur Tengah dan Asia-Pasifik, menegaskan bahwa Timur Tengah adalah salah satu pasar robotika dan AI paling menjanjikan. Perusahaannya telah membentuk tim di kawasan dan aktif menjajaki kemitraan lokal. "Perusahaan China dan mitra Timur Tengah saling melengkapi dan bersama-sama memajukan industri robotika kecerdasan embodied," ujarnya. Sementara itu, Duta Besar China untuk Saudi, Chang Hua, menyatakan bahwa semakin banyak perusahaan robotika China membawa teknologi baru ke Saudi dan mendapat sambutan hangat. "China selalu melakukan kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi dalam semangat keterbukaan. Banyak perusahaan China sudah berdiskusi dengan mitra Saudi. Kami berharap pembicaraan ini segera membuahkan hasil," katanya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Indonesia mampu mengambil pelajaran dari rivalitas teknologi global ini? Atau justru hanya menjadi penonton pasif di tengah lompatan besar negara lain? Jawabannya bergantung pada keberanian pemerintah dan pelaku industri untuk bertransformasi, bukan sekadar menjadi pasar konsumen teknologi asing.



