Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyapu Jakarta: Pramono Anung Terbitkan Imbauan 5M
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta menginstruksikan warga untuk menerapkan protokol 5M menyusul terdeteksinya abu vulkanik Anak Krakatau di udara Ibu Kota.
- Langkah ini menyusul koordinasi intensif antara Pemprov DKI, BMKG, dan BNPB untuk memantau kualitas udara secara real-time.
- Para ahli mengingatkan bahwa partikel abu vulkanik dapat memicu gangguan pernapasan akut, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh warga Ibu Kota untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang kini mulai menjangkau wilayah Jakarta. Dalam sebuah video yang diunggah melalui kanal resminya, Pramono menegaskan pentingnya penerapan protokol 5M sebagai langkah antisipasi dini melindungi kesehatan dan keselamatan keluarga.
Imbauan ini muncul di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Selat Sunda. Meski jaraknya lebih dari 150 kilometer dari Jakarta, sebaran partikel halus abu vulkanik terbawa angin hingga mencapai langit ibu kota, memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka pendek. Pramono menggarisbawahi bahwa kondisi ini memerlukan respons cepat dan terkoordinasi, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga kesadaran individu masyarakat.
Protokol 5M yang diserukan mencakup lima langkah utama: memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, menggunakan pelindung mata seperti kacamata, membatasi aktivitas luar ruang yang tidak mendesak, menutup rapat sumber air bersih dan makanan, serta mencuci bersih kulit atau kendaraan yang terpapar abu. Langkah-langkah ini dirancang untuk meminimalkan risiko iritasi saluran pernapasan, gangguan penglihatan, serta kontaminasi bahan konsumsi.
Dalam pernyataannya, Pramono menekankan pentingnya ketenangan dan kewaspadaan, bukan kepanikan. "Bila wilayahnya mulai terdampak abu vulkanik, lakukan 5M. Tetap waspada, lindungi diri dan keluarga, mari bersama-sama jaga Jakarta," ujarnya, Minggu (6/9/2026). Ia juga memastikan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berkoordinasi secara intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memantau kualitas udara secara real-time.
Fenomena ini mengingatkan pada kejadian serupa pada 2018 ketika letusan Anak Krakatau memicu tsunami Selat Sunda, meski kali ini dampak yang dirasakan lebih bersifat atmosferik. Para ahli vulkanologi memperkirakan bahwa sebaran abu dapat berlangsung selama beberapa hari hingga berminggu-minggu tergantung arah dan kecepatan angin. Bagi warga Jakarta yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma atau bronkitis, imbauan ini menjadi sangat krusial karena partikel abu vulkanik yang halus dapat menembus saluran pernapasan bagian dalam.
Dari sisi kebijakan, langkah Pemprov DKI ini menunjukkan kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana alam yang tidak selalu datang dari wilayah sendiri. Namun, efektivitas imbauan ini sangat bergantung pada kepatuhan masyarakat. Pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah protokol 5M ini akan diikuti dengan pembagian masker gratis di titik-titik strategis, atau pengukuran kualitas udara yang transparan dan mudah diakses publik? Ke depan, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta edukasi berkelanjutan, akan menjadi kunci dalam memitigasi dampak kesehatan dari fenomena vulkanik yang semakin sering terjadi akibat dinamika geologi kawasan ini.



