Gelombang Protes Fans Internasional: Kim Soo-hyun Didorong Mundur dari Dua Ajang Penghargaan K-Pop
Baca dalam 60 detik
- Fans K-pop dari luar negeri melancarkan kampanye #KimSooHyunOutAAA menuntut pembatalan kehadiran aktor Kim Soo-hyun di TMA dan AAA.
- Protes ini muncul meski kepolisian Korea Selatan telah menutup kasus dugaan hubungan dengan Kim Sae-ron karena bukti tak cukup.
- Penyelenggara kedua acara belum mengubah jadwal, sementara agensi Goldmedalist masih meninjau situasi secara internal.

Kontroversi yang membelit aktor Korea Selatan Kim Soo-hyun kembali memanas. Sejumlah penggemar K-pop internasional kini ramai-ramai menuntut agar bintang drama "Queen of Tears" itu dicoret dari daftar pembawa acara di dua ajang penghargaan musik bergengsi, The Fact Music Awards (TMA) dan Asia Artist Awards (AAA). Aksi ini muncul hanya sebulan setelah kepolisian Korea Selatan memutuskan tidak menyerahkan Kim ke kejaksaan terkait tuduhan hubungan dengan mendiang aktris Kim Sae-ron yang masih di bawah umur.
Gelombang protes ini dipicu oleh pengumuman resmi yang dirilis panitia TMA pada 28 Agustus lalu. Dalam keterangannya, Kim Soo-hyun dijadwalkan hadir sebagai presenter di acara yang akan digelar di Stadion Utama Busan Asiad pada 19 September mendatang. Tak berselang lama, AAA menyusul dengan konfirmasi pada 1 September bahwa aktor berusia 38 tahun itu akan tampil di ajang yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Nasional Kaohsiung, Taiwan, pada 5-6 Desember.
Keputusan tersebut langsung memicu reaksi keras dari sebagian penggemar internasional. Mereka melancarkan kampanye di media sosial dengan tagar #KimSooHyunOutAAA, disertai gambar wajah sang aktor yang dicoret. Seorang penggemar menuliskan, "Kami berdiri bersama fandom lain untuk menuntut Kim Soo-hyun dikeluarkan dari acara yang dihadiri artis perempuan dan idola di bawah umur." Aksi ini menunjukkan bahwa meskipun secara hukum kasusnya telah berakhir, opini publikโkhususnya di kalangan penggemar globalโmasih menyimpan resistensi kuat terhadap aktor tersebut.
Konteks hukum kasus ini memang penting untuk dicermati. Pada Juli lalu, polisi Korea Selatan memutuskan untuk tidak meneruskan kasus Kim Soo-hyun ke kejaksaan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak, dengan alasan bukti yang tidak cukup. Tuduhan ini berawal dari klaim keluarga Kim Sae-ron yang disampaikan melalui kanal YouTube HoverLab pada Maret 2025. Mereka menyebut bahwa Kim Soo-hyun menjalin hubungan dengan Kim Sae-ron selama enam tahun, dimulai ketika aktris tersebut masih berusia 15 tahun. Keluarga kemudian melaporkan kasus ini ke polisi pada Mei 2025. Kim sendiri mengakui pernah berpacaran dengan Kim Sae-ron, namun membantah bahwa hubungan tersebut dimulai saat aktris itu masih di bawah umur.
Reaksi publik yang terbelah pun tak terhindarkan. Sebagian pihak menilai bahwa terus menyerang Kim Soo-hyun setelah putusan polisi adalah tindakan yang tidak adil dan berisiko memperburuk citranya yang sudah terlanjur tercoreng. Mereka berargumen bahwa kasus ini telah ditutup secara hukum, sehingga tidak ada alasan untuk menghukum aktor tersebut lebih jauh. Namun, di sisi lain, kelompok penggemar yang vokal menekankan bahwa isu ini bukan sekadar soal hukum, melainkan juga etika dan moral, terutama terkait perlindungan anak di bawah umur. Perdebatan ini menunjukkan bahwa kasus yang melibatkan figur publik seringkali tidak selesai hanya dengan keputusan pengadilan; ia terus bergulir di ruang publik dan memengaruhi karier serta penerimaan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, panitia TMA dan AAA menyatakan belum ada perubahan jadwal terkait kehadiran Kim Soo-hyun. Sementara itu, agensi yang menaunginya, Goldmedalist, hanya berkomentar singkat bahwa mereka akan mempelajari masalah ini secara internal. Sikap wait-and-see ini menunjukkan bahwa keputusan akhir mungkin akan sangat dipengaruhi oleh arah opini publik ke depan.
Bagi penggemar K-pop di Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat bahwa industri hiburan Korea tidak hanya berputar pada musik dan drama, tetapi juga pada isu-isu sosial yang kompleks. Kasus Kim Soo-hyun menyoroti bagaimana tuntutan akuntabilitas dari penggemar global dapat menjadi kekuatan yang signifikan, bahkan mampu menggoyahkan posisi seorang bintang papan atas. Pertanyaannya kini, akankah penyelenggara acara mengambil sikap tegas demi menjaga citra industri, atau justru bertahan pada keputusan awal? Jawabannya akan menentukan apakah tren 'pemboikotan moral' ini akan menjadi preseden baru dalam pengelolaan karier artis di Korea Selatan.



