Macet GBLA Tak Kunjung Usai, DPRD Jabar Desak Gerbang Tol KM 151 Dibuka
Baca dalam 60 detik
- Komisi V DPRD Jawa Barat meminta akses Tol Padaleunyi KM 151 dibuka dan jam operasional KM 149 diperpanjang untuk mengurai kemacetan saat laga Persib.
- Ketidakselarasan jadwal kereta cepat Whoosh dengan pertandingan malam disebut memperparah penumpukan penonton di sekitar stadion.
- Pembenahan lalu lintas Bandung Timur dinilai berjalan lambat, sementara kawasan itu terus tumbuh dengan fasilitas publik baru.

Kemacetan parah yang berulang setiap Persib Bandung bertanding di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) memaksa DPRD Jawa Barat mengambil sikap tegas: gerbang Tol Padaleunyi KM 151 yang selama ini mangkrak harus segera difungsikan, dan jam operasional gerbang KM 149 perlu diperpanjang. Desakan ini disampaikan menyusul kekacauan lalu lintas yang hampir selalu terjadi di Bandung Timur, terutama saat laga berlabel big match digelar.
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari, menilai persoalan ini tidak bisa lagi diselesaikan secara parsial. Menurutnya, seluruh moda transportasi—mulai dari jalan tol, angkutan umum, hingga kereta cepat—harus dirancang sinkron dengan jadwal pertandingan. Ia mencontohkan, kereta cepat Whoosh mengakhiri operasinya pukul 21.00, sementara pertandingan normal baru berakhir sekitar pukul 20.45. Dengan waktu tempuh dari stadion ke stasiun yang mustahil dicapai dalam 10 menit, suporter otomatis kehilangan opsi pulang memakai moda tersebut.
"Perjalanan dari stadion ke Whoosh paling cepat 15 menit, itu pun setelah keluar dari area parkir. Jika pertandingan selesai pukul 20.45, mustahil mengejar kereta terakhir," ujar Zaini di Bandung, Sabtu (5/9/2026). Ketidakcocokan jadwal ini, lanjutnya, memaksa ribuan penonton beralih ke kendaraan pribadi, yang ujung-ujungnya menumpuk di ruas jalan menuju GBLA.
Zaini menyoroti gerbang Tol KM 151 yang sebenarnya sudah berdiri namun tak pernah difungsikan. Akibatnya, arus kendaraan dari arah timur hanya bisa keluar di Gedebage atau Buah Batu, dua titik yang sama-sama rawan macet. "Akses tol 151 itu sudah ada, tapi tidak pernah dipakai. Semua kendaraan akhirnya numpuk di Gedebage," katanya. Ia mendesak pemerintah provinsi berkoordinasi dengan pusat untuk membuka akses tersebut, setidaknya pada hari pertandingan.
Kepadatan akibat laga Persib tidak lagi terbatas di sekitar stadion. Pada pertandingan besar, macet merembet hingga Jalan Soekarno-Hatta, Cimencrang, bahkan kawasan Masjid Al Jabbar. Kondisi makin parah jika hujan turun. Zaini menilai penanganan lalu lintas di Bandung Timur berjalan "di tempat", berbeda dengan kawasan pusat kota yang mulai tertata. Padahal, Bandung Timur terus bertumbuh dengan hadirnya fasilitas publik baru yang menarik massa dalam jumlah besar.
Menurut Zaini, solusi jangka pendek yang realistis adalah membuka gerbang tol KM 151 dan memperpanjang jam layanan KM 149 pada hari pertandingan. Namun, ia menggarisbawahi bahwa upaya itu hanya akan efektif jika diiringi pengaturan jadwal transportasi umum yang lebih adaptif. "Semua stakeholder harus terlibat, terutama pemerintah kota," tegasnya. Ia juga menyoroti lambatnya pembenahan infrastruktur jalan di Bandung Timur, yang kontras dengan progres di pusat kota.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana pemerintah provinsi dan pusat merespons desakan ini. Akankah gerbang tol yang sudah berdirikokoh itu akhirnya dibuka, atau justru menjadi monumen kemacetan yang terus berulang? Bagi warga Bandung Timur, jawabannya menentukan apakah mereka bisa bernapas lega saat Persib kembali berlaga di GBLA.



