Hull City Pesta Poin di Awal Musim: Sebuah Sinyal Bertahan atau Sekadar Keberuntungan?
Baca dalam 60 detik
- Hull City mengoleksi tujuh poin dari tiga laga perdana Premier League, dengan catatan tiga clean sheet beruntun.
- Sejarah mencatat tak ada tim promosi yang terdegradasi setelah meraih minimal tujuh poin di tiga pertandingan awal.
- Meski demikian, pelatih Sergej Jakirovic menargetkan 38-40 poin sebagai batas aman untuk bertahan di kasta tertinggi.

Hull City, tim promosi yang musim lalu nyaris terdegradasi ke League One, kini menjadi kejutan di Premier League dengan mengoleksi tujuh poin dari tiga laga awal. Hasil imbang 0-0 melawan Aston Villa pada Sabtu lalu menegaskan soliditas pertahanan mereka, yang belum kebobolan satu gol pun sepanjang musim. Namun, pertanyaannya adalah: apakah ini awal dari keajaiban atau hanya kilasan sesaat?
Kemenangan atas Manchester United dan Coventry City, ditambah hasil seri kontra Aston Villa, membawa Hull hanya tertinggal dua poin dari pemuncak klasemen sementara Manchester City. Bagi pendukung The Tigers, mimpi untuk bersaing di papan atas mungkin mulai terasa nyata. Namun, pelatih Sergej Jakirovic, dengan nada bercanda, mengingatkan bahwa musim masih panjang. "Mungkin kami bisa menargetkan tempat di Liga Champions?" ujarnya, sebelum menegaskan bahwa evaluasi baru bisa dilakukan setelah beberapa pekan ke depan.
Perjalanan Hull menuju papan atas bukanlah kebetulan belaka. Musim lalu, di bawah asuhan Jakirovic, mereka tampil impresif di Championship meskipun berada di bawah embargo transfer yang membatasi mereka hanya pada pemain bebas transfer dan pinjaman. Keberhasilan menembus play-off dan menang dramatis atas Middlesbrough berkat gol Oli McBurnie menjadi titik balik. Di musim panas ini, Hull menjadi klub paling agresif di bursa transfer dengan 18 pemain baru senilai sekitar £150 juta, termasuk gelandang Tim Iroegbunam yang diboyong dari Everton seharga £22 juta.
Filosofi permainan Hull di bawah Jakirovic jelas: mengutamakan soliditas pertahanan. Tiga bek tengah—John Egan, Semi Ajayi, dan Nobel Mendy—menjadi tembok yang sulit ditembus. Egan mengungkapkan bahwa formasi ini sudah terasah sejak babak play-off. "Kami punya banyak pemain yang mau bekerja sama, bertahan untuk satu sama lain," katanya. Statistik menunjukkan Hull hanya menguasai bola 29% sepanjang musim, angka terendah di liga, tetapi efektivitas mereka dalam bertahan justru menjadi senjata utama.
Namun, sejarah juga mengingatkan bahwa awal yang baik tidak menjamin kelangsungan hidup. Wolves (2011-12), West Brom (2017-18), dan Leeds United (2022-23) adalah tiga tim yang terdegradasi meski mengumpulkan tujuh poin dari tiga laga pertama. Hanya 4% dari 78 tim yang pernah meraih poin tersebut akhirnya turun kasta. Meski probabilitasnya kecil, Jakirovic tidak mau berpuas diri. "Target kami adalah mengumpulkan poin, sekitar 38-40 poin, secepat mungkin," tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Hull City bisa menjadi pelajaran berharga. Klub-klub promosi di Liga 1 sering kali gagal mempertahankan performa awal mereka karena manajemen yang buruk atau kurangnya pengalaman. Hull menunjukkan bahwa perencanaan matang, baik di dalam maupun luar lapangan, adalah kunci. Mereka tidak hanya mengandalkan belanja besar, tetapi juga membangun skuad yang kompak dan memiliki identitas permainan yang jelas.
Dengan jadwal padat yang menanti, termasuk laga Carabao Cup melawan Sunderland, Hull harus menjaga konsistensi. Jakirovic masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengintegrasikan pemain anyar yang belum menjalani pramusim penuh. Pertanyaannya, mampukah mereka mempertahankan performa ini hingga akhir musim? Atau akankah mereka menjadi cerita sukses lain yang gagal bertahan di tengah kerasnya Premier League? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: Hull City telah memberi sinyal bahwa mereka bukan tim promosi yang mudah menyerah.



