Babak Zanjani dan Ekonomi Bayangan Iran: Dapatkah Sanksi AS Menembus Jaringan Lama?
Baca dalam 60 detik
- Washington memperluas sanksi ke mata uang kripto dan jaringan bayangan yang dipimpin Babak Zanjani, yang baru bebas dari hukuman mati.
- Zanjani, yang mengendalikan puluhan perusahaan di berbagai negara, kembali menjadi andalan Teheran untuk mempertahankan ekonomi di bawah tekanan AS.
- Efektivitas sanksi terbaru masih diragukan karena Iran telah puluhan tahun beradaptasi, sementara kepatuhan global menjadi kunci.

Pemerintahan Donald Trump kembali mengencangkan jerat sanksi terhadap Iran, kini tidak hanya menyasar sektor minyak dan perbankan, tetapi juga mata uang kripto yang selama ini menjadi celah bagi Teheran untuk bertransaksi di luar sistem dolar AS. Di tengah upaya ini, muncul sosok kontroversial Babak Zanjani, miliarder yang baru bebas dari hukuman mati, yang justru diandalkan untuk mengelola jaringan ekonomi bayangan yang memungkinkan Iran bertahan selama puluhan tahun di bawah isolasi internasional.
Langkah AS yang dijuluki "economic D-Day" ini merupakan eskalasi dari tekanan militer yang dimulai Februari lalu dan dinilai gagal menundukkan kepemimpinan Iran. Dengan menargetkan aset digital seperti Bitcoin yang digunakan untuk transfer dana dan transaksi minyak, Washington berupaya memutus jalur finansial yang selama ini luput dari pengawasan. Yang menarik, ide pemanfaatan kripto untuk mengamankan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz disebut-sebut berasal dari Zanjani, seperti dilaporkan kantor berita Fars yang dekat dengan Garda Revolusi.
Zanjani, yang berusia 53 tahun, adalah simbol dari jaringan pengusaha yang telah lama menjadi tulang punggung ekonomi Iran di bawah sanksi. Jaringan ini tidak hanya terdiri dari individu, melainkan melibatkan perusahaan-perusahaan di Malaysia, Tajikistan, Turki, dan Uni Emirat Arab, serta sistem keuangan yang saling terhubung. Sebagai imbalan atas perlindungan dari tokoh pemerintahan, mereka dipercaya membagi sebagian keuntungan. Fenomena ini mencerminkan korupsi yang sistemik, sebagaimana skor Indeks Persepsi Korupsi Iran yang hanya 23 dari 100, menempatkannya di peringkat 153 dari 182 negara.
Karier Zanjani dimulai tiga dekade lalu sebagai sopir gubernur bank sentral, yang membukakan akses ke lingkaran kekuasaan. Ia kemudian membangun kerajaan bisnis yang mencakup penjualan minyak secara gelap dan impor barang, termasuk pesawat terbang. Namun, pada 2016, ia terseret kasus korupsi besar karena gagal mengembalikan US$2,6 miliar pendapatan minyak, dan dijatuhi hukuman mati. Setelah bertahun-tahun bernegosiasi, ia dibebaskan pada 2025 dan kembali berbisnis, bahkan menandatangani kontrak miliaran dolar dengan operator kereta api negara. Ia juga berupaya membangun citra baru sebagai mediator, seperti terlihat dalam surat terbukanya kepada Elon Musk.
Kisah Zanjani tidak lepas dari figur lain seperti Reza Zarrab, pengusaha Turki-Iran yang ditangkap di AS pada 2016 dan kemudian menjadi informan kunci bagi Washington. Pengalaman Zarrab membantu AS memahami mekanisme penghindaran sanksi, namun juga menunjukkan betapa dalamnya jaringan ini. Ekonom Jamshid Assadi menilai orang-orang seperti Zanjani dan Zarrab tumbuh dalam sistem yang terhubung dengan pusat kekuasaan, sehingga sulit untuk dihilangkan sepenuhnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur minyak dunia. Jika sanksi AS berhasil mempersempit ruang gerak Iran, harga minyak global berpotensi bergejolak, yang akan berdampak pada APBN dan harga energi domestik. Di sisi lain, Indonesia juga perlu mewaspadai risiko kepatuhan terhadap sanksi AS, terutama bagi perusahaan yang memiliki transaksi dengan Iran. Pengalaman Indonesia dalam menghadapi sanksi serupa di masa lalu bisa menjadi pelajaran, namun setiap negara memiliki kepentingan yang berbeda.
Pertanyaan besarnya, apakah sanksi terbaru AS benar-benar mampu menembus jaringan yang telah beradaptasi selama puluhan tahun? Assadi mengakui bahwa jalur tradisional penghindaran sanksi semakin sulit digunakan karena tekanan AS terhadap negara lain. Namun, Iran memiliki sejarah panjang dalam menemukan cara-cara baru untuk bertahan. Peran Babak Zanjani yang kembali menonjol menunjukkan bahwa Teheran masih mengandalkan para pengusaha lama untuk menghadapi tekanan ekonomi. Akankah sanksi ini menjadi pukulan telak, atau justru semakin mengokohkan ekonomi bayangan yang telah menjadi ciri rezim ini? Waktu yang akan menjawab, sementara dunia menyaksikan apakah Washington mampu belajar dari kegagalan masa lalunya.



