Drama Inter vs Napoli: Kontroversi Wasit Bayangi Comeback Lautaro Martinez
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan dramatis Inter atas Napoli diwarnai protes keras terkait insiden handball yang tidak ditinjau VAR.
- Keputusan wasit Simone Sozza memicu perdebatan, termasuk gol penyeimbang Marcus Thuram yang dinilai kontroversial.
- Hasil ini memperketat persaingan papan atas Serie A dan menegaskan pentingnya kejelasan aturan VAR.

Inter Milan memetik kemenangan emosional 3-2 atas Napoli di San Siro, Sabtu malam, namun sorotan tajam justru tertuju pada sederet keputusan wasit yang memicu perdebatan sengit. Comeback dramatis yang dituntaskan Lautaro Martinez pada menit akhir seolah menjadi buntut dari kontroversi yang membayangi jalannya laga.
Pertandingan berjalan panas sejak babak pertama. Inter merasa dirugikan ketika Stanislav Lobotka, gelandang Napoli, dianggap menyentuh bola dengan tangan dalam duel dengan Nicolo Barella di kotak penalti. Wasit Simone Sozza memutuskan untuk melanjutkan permainan tanpa berkonsultasi dengan VAR, dan beberapa detik kemudian Napoli justru mencetak gol pembuka lewat Matteo Politano melalui serangan balik cepat. Keputusan itu memicu kemarahan para pemain tuan rumah yang merasa hak mereka diabaikan.
Mantan wasit yang kini menjadi analis DAZN, Luca Marelli, mengakui bahwa rekaman video tidak cukup jelas untuk memastikan pelanggaran tersebut. "Ada banyak keraguan. Tidak mungkin memastikan apakah terjadi kontak, meskipun lengannya terentang. Melihat semua rekaman yang tersedia, Anda tidak bisa menentukan apakah dia menyentuh bola dengan tangan atau tidak," ujarnya, seperti dikutip Sportal. Pernyataan ini justru menambah spekulasi tentang efektivitas teknologi VAR dalam mengambil keputusan krusial.
Kontroversi kedua muncul pada menit ke-82 ketika Marcus Thuram menyamakan kedudukan dengan sundulan. Saat itu, bek Napoli Amir Rrahmani tergeletak di depan kiper Alex Meret, namun Sozza menganggap Rrahmani jatuh terlalu mudah dan bukan karena pelanggaran pemain lawan. Gol tersebut tetap disahkan, memicu protes keras dari kubu Napoli yang merasa timnya dirugikan.
Terlepas dari kontroversi, tim asuhan Cristian Chivu menunjukkan mentalitas juara dengan membalikkan keadaan. Tertinggal 0-2, Inter tampil agresif di babak kedua. Lautaro Martinez, sang kapten, menjadi pahlawan dengan dua golnya di masa injury time, memastikan tiga poin yang sangat berharga bagi perburuan gelar. Kemenangan ini tak hanya mempertegas kekuatan Inter di kandang, tetapi juga memberikan tekanan psikologis bagi para pesaing di papan atas Serie A.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini menjadi pengingat bahwa keputusan wasit dan teknologi VAR masih menjadi titik rawan dalam sepak bola modern. Di Liga Indonesia, polemik serupa kerap muncul, terutama dalam penggunaan VAR yang baru diperkenalkan di kompetisi domestik. Kejelasan aturan dan konsistensi penerapan menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan publik terhadap integritas pertandingan.
Ke depan, pertanyaan besar mengemuka: apakah federasi sepak bola akan mengevaluasi kembali protokol VAR, terutama dalam situasi yang ambigu seperti insiden Lobotka? Ataukah keputusan seperti ini akan terus menjadi bahan perdebatan yang mengaburkan kualitas pertandingan? Yang jelas, drama di San Siro ini akan menjadi bahan diskusi hangat di kalangan penggemar dan analis dalam beberapa pekan ke depan.



