Tiga Kekalahan Beruntun, Arbeloa Minta Waktu: Fulham di Ujian Berat
Baca dalam 60 detik
- Fulham menelan tiga kekalahan beruntun di Premier League di bawah pelatih anyar, Alvaro Arbeloa, dengan kebobolan tujuh gol.
- Jadwal berat melawan Liverpool dan Manchester United mengancam memperpanjang tren negatif, namun Arbeloa menegaskan bulan ini tak akan menentukan musim.
- Produktivitas lini depan (4 gol) menjadi modal berharga, tetapi kelemahan pertahanan yang kebobolan gol mudah menjadi pekerjaan rumah utama.

LONDON โ Tiga kekalahan beruntun di tiga laga perdana Premier League jelas bukan awal yang diimpikan Alvaro Arbeloa sebagai manajer Fulham. Namun, pria asal Spanyol itu justru memilih bersikap tenang dan meminta kesabaran, sembari mengingatkan bahwa jadwal berat masih menanti di depan mata.
Fulham sebenarnya sempat unggul dua kali saat menjamu Crystal Palace di Craven Cottage akhir pekan lalu, tetapi akhirnya takluk 2-3. Sebelumnya, tim asal London Barat itu juga kalah dengan skor identik dari Chelsea di kandang sendiri dan tumbang 0-1 di markas Sunderland. Satu-satunya kemenangan musim ini baru diraih di ajang Piala Liga putaran kedua kontra AFC Wimbledon.
Kekalahan demi kekalahan itu memicu kekecewaan suporter yang terlihat dari rentetan boo di tribun. Total tujuh gol sudah bersarang di gawang Fulham, angka yang menjadi sorotan utama. Meski demikian, Arbeloa yang menggantikan Marco Silva sejak akhir musim lalu menolak panik. Ia justru menegaskan bahwa periode ini hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang musim.
"Tiga laga, tiga kekalahan, memang sulit," ujarnya seperti dikutip media Inggris. "Kini kami harus ke Anfield dan menjamu Manchester United. Dua laga yang sangat berat. Kami tahu bulan ini akan sulit, tetapi saya katakan kepada pemain bahwa bulan ini tidak akan menentukan seluruh musim kami."
Arbeloa menilai para pemainnya sudah bekerja keras dan menunjukkan karakter yang tepat. "Mereka bermain dengan memberikan segalanya. Dengan mentalitas dan karakter seperti ini, saya yakin kemenangan akan datang," tambahnya.
Catatan positifnya, gaya menyerang yang diusung Arbeloa mulai terlihat. Fulham sudah mencetak empat gol dalam tiga kekalahan itu, dan saat melawan Palace mereka melepaskan 25 percobaan tembakan. Namun, masalah justru ada di lini belakang. Mantan bek Real Madrid dan Liverpool ini mengakui timnya kebobolan gol yang seharusnya bisa dicegah.
"Kami kebobolan gol yang sangat mudah. Palace tidak perlu melakukan banyak hal untuk mencetak tiga gol. Situasi itu seharusnya bisa dikendalikan. Ini mirip dengan gol-gol Chelsea. Kami harus segera belajar, karena ketika kebobolan, jalannya pertandingan bisa berubah," jelas Arbeloa. Ia menambahkan, "Jika kami unggul 2-1 di kandang, kami tidak boleh kecolongan lewat serangan balik. Saat sedang unggul, kami tidak boleh membiarkan hal itu terjadi."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Fulham ini menarik untuk dicermati karena mengingatkan pada pentingnya kesabaran terhadap pelatih baru. Di Liga Indonesia, tak jarang pelatih dipecat hanya karena hasil buruk di awal musim. Padahal, seperti kata Arbeloa, membangun tim butuh waktu dan proses. Filosofi menyerang yang ia tanamkan mungkin butuh waktu untuk berbuah, tetapi jika lini belakang terus rapuh, tekanan akan semakin besar.
Jadwal berikutnya jelas menjadi ujian berat. Liverpool di Anfield adalah lawan yang tidak pernah ramah bagi tim tamu, sementara Manchester United datang ke Craven Cottage dengan ambisi besar. Jika dua laga itu kembali berakhir dengan kekalahan, bukan tidak mungkin suara-suara miring akan semakin nyaring. Namun, Arbeloa tampak berpegang pada keyakinan bahwa kerja keras dan karakter akan membawa Fulham keluar dari badai ini. Pertanyaannya, akankah manajemen dan suporter memberinya waktu yang cukup?



