Pertamina Ajak Generasi Muda Ubah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat
Baca dalam 60 detik
- Pertamina memanfaatkan ajang IdeaFest 2026 untuk mengedukasi anak muda tentang potensi minyak jelantah sebagai bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF).
- Program ini merupakan bagian dari strategi transisi energi yang juga bertujuan memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi emisi karbon.
- Keberhasilan ekosistem SAF dinilai bergantung pada partisipasi masyarakat dalam pengumpulan minyak jelantah serta dukungan regulasi dan industri.

PT Pertamina (Persero) menjadikan IdeaFest 2026 sebagai panggung untuk memperkenalkan inovasi pengolahan minyak jelantah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), sebuah langkah yang tidak hanya menjawab tantangan energi terbarukan tetapi juga mengajak generasi muda berperan aktif dalam transisi energi nasional. Di booth perusahaan pelat merah di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, pengunjung diajak menelusuri perjalanan minyak jelantah dari dapur rumah tangga hingga menjadi bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan.
Inisiatif ini lahir dari kesadaran bahwa limbah rumah tangga, yang selama ini kerap dibuang begitu saja, menyimpan nilai ekonomi dan ekologis yang besar. Arya Dwi Paramita, Corporate Secretary Pertamina, menegaskan bahwa pengembangan SAF merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan transisi energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional. "Risetnya sudah dimulai sejak 2015, diuji coba dari 2021 hingga 2025, dan kini telah digunakan pada penerbangan Pelita Air Service untuk rute Jakarta-Bali," ungkapnya di sela-sela acara, Sabtu (5/9/2026).
Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF menjadi salah satu topik yang paling menyedot perhatian pengunjung IdeaFest, yang mayoritas adalah anak muda. Ibrahim Akbar, SAF Project Commercial PT Pertamina Patra Niaga, mengaku antusiasme pengunjung sangat tinggi. "Semua pertanyaan yang masuk hampir semuanya tentang UCO (used cooking oil)," katanya. Ia menilai karakter pengunjung yang didominasi generasi milenial dan Gen Z memberikan ruang bagi Pertamina untuk mengenalkan transisi energi dengan cara yang lebih dekat dan relevan.
Namun, pengembangan ekosistem SAF tidak semata-mata soal teknologi. Ibrahim menggarisbawahi sejumlah tantangan yang masih membayangi, seperti disparitas harga, mekanisme pengumpulan minyak jelantah yang belum optimal, serta perlunya dukungan regulasi yang lebih kuat. "Keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk membangun rantai pasok UCO yang berkelanjutan," tegasnya. Pertamina pun telah memiliki program pembelian minyak jelantah, namun sosialisasi yang lebih masif dinilai perlu dilakukan agar volume bahan baku yang terkumpul semakin besar.
Bagi Indonesia, pengembangan SAF memiliki arti strategis. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, inisiatif ini sejalan dengan target pemerintah untuk menekan emisi karbon di sektor penerbangan, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar. Jika ekosistem ini berhasil dibangun, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci dalam industri bahan bakar penerbangan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara, sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor energi hijau.
Ke depan, keberhasilan transisi energi di sektor aviasi tidak hanya ditentukan oleh inovasi di laboratorium, tetapi juga oleh kesediaan masyarakat untuk mengubah kebiasaan kecil, seperti menyisihkan minyak jelantah untuk didaur ulang. Pertamina tampaknya sadar bahwa edukasi dan partisipasi publik adalah fondasi yang tidak bisa diabaikan. Pertanyaannya, akankah dukungan regulasi dan insentif dari pemerintah datang cukup cepat untuk mempercepat adopsi SAF di seluruh maskapai nasional? Hanya waktu yang akan menjawab, namun langkah Pertamina ini setidaknya telah membuka pintu bagi masa depan energi yang lebih hijau.



