Nscale Incar Dana Rp54 Triliun Jelang IPO, Nvidia dan Third Point Siap Menyuntik
Baca dalam 60 detik
- Penyedia infrastruktur cloud Nscale tengah menjajaki pendanaan pra-IPO senilai US$3,5 miliar dengan skema konversi utang dan suntikan langsung dari Nvidia.
- Langkah ini menegaskan perang kapasitas komputasi AI global, di mana pemain seperti Anthropic telah mengunci kontrak sewa besar-besaran dengan Nscale.
- Keberhasilan putaran ini akan menjadi ujian kepercayaan investor terhadap model bisnis penyedia GPU independen di tengah dominasi raksasa cloud.

Penyedia infrastruktur komputasi awan Nscale dikabarkan tengah bernegosiasi dengan sejumlah investor untuk mengumpulkan dana sekitar US$3,5 miliar atau setara Rp54 triliun dalam putaran pendanaan pra-IPO. Langkah ini menjadi salah satu sinyal terbaru betapa derasnya aliran modal ke sektor kecerdasan buatan (AI), khususnya untuk membangun pusat data dan menyediakan kapasitas komputasi berbasis GPU.
Menurut sumber yang mengetahui langsung proses tersebut, Nscale berencana menerbitkan surat utang konversi senilai hingga US$1,5 miliar kepada sekelompok investor, dengan hedge fund asal New York, Third Point, disebut-sebut akan memimpin investasi tersebut. Selain itu, perusahaan juga mengincar komitmen dana sekitar US$2 miliar langsung dari Nvidia, produsen chip yang produknya menjadi tulang punggung komputasi AI modern. Goldman Sachs dipercaya menjadi penasihat dalam penggalangan dana ini.
Struktur kesepakatan ini menarik karena surat utang konversi ditawarkan dengan diskon dua digit dari harga IPO Nscale di masa depan. Diskon tersebut akan disesuaikan hingga valuasi perusahaan mencapai US$30 miliar; jika valuasi melampaui angka itu, harga konversi tidak akan berubah. Artinya, investor awal mendapatkan proteksi dan potensi keuntungan besar jika Nscale berhasil melantai di bursa dengan valuasi tinggi.
Baik Third Point maupun Nvidia belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari Reuters. Sementara itu, Nscale dan Goldman Sachs memilih bungkam. Bloomberg News pertama kali melaporkan kabar ini pada Jumat (4/9) waktu setempat. Sumber menegaskan bahwa pembahasan masih berlangsung dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Kabar ini muncul hanya beberapa pekan setelah Reuters melaporkan bahwa Anthropic, pengembang model AI terkemuka, telah menandatangani perjanjian senilai US$45 miliar untuk menyewa kapasitas komputasi AI dari kampus pusat data Nscale di West Virginia selama enam tahun. Kesepakatan sebesar itu menggarisbawahi peran penting yang dimainkan penyedia infrastruktur independen seperti Nscale di tengah melonjaknya permintaan akan daya komputasi untuk melatih dan menjalankan model AI berskala besar.
Nscale sendiri merupakan pemain yang relatif baru. Didirikan pada 2024, perusahaan ini memiliki dan mengoperasikan pusat data, unit pemrosesan grafis (GPU), serta tumpukan perangkat lunaknya sendiri untuk menyediakan komputasi AI bertenaga GPU dalam skala besar. Model bisnis semacam ini menempatkan Nscale di jalur yang berbeda dibandingkan raksasa cloud seperti Amazon Web Services atau Microsoft Azure yang juga gencar membangun infrastruktur AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang tidak bisa diabaikan. Meski Nscale beroperasi di Amerika Serikat, arus investasi global di sektor AI mencerminkan pergeseran besar dalam ekonomi digital yang akan berdampak pada rantai pasok teknologi di kawasan Asia Tenggara. Indonesia, yang tengah giat membangun ekosistem AI dan data center, perlu mencermati bagaimana para pemain global memonetisasi infrastruktur komputasi. Ketergantungan pada GPU dan chip buatan Nvidia juga menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi sumber daya teknologi.
Ke depan, keberhasilan putaran pendanaan ini akan menjadi ujian kepercayaan investor terhadap model bisnis penyedia GPU independen. Jika Nscale berhasil mengumpulkan dana sesuai target dan melantai di bursa dengan valuasi di atas US$30 miliar, hal itu bisa membuka jalan bagi lebih banyak pemain serupa untuk mengejar pendanaan besar. Namun, jika negosiasi buntu atau valuasi tidak sesuai harapan, pasar mungkin akan lebih berhati-hati dalam menilai prospek perusahaan infrastruktur AI yang belum terbukti profitabilitasnya. Pertanyaan yang menggantung: apakah ledakan investasi ini akan berkelanjutan atau hanya gelembung yang menunggu waktu untuk pecah?



