Skandal Kualitas Nidec: 844 Kasus Manipulasi Terungkap, Saham Justru Menguat
Baca dalam 60 detik
- Produsen motor asal Jepang, Nidec, mengakui 844 pelanggaran kendali mutu yang terjadi sejak 2012, termasuk penggantian material tanpa izin dan pemalsuan uji produk.
- Investigasi internal dipicu oleh temuan kecurangan akuntansi tahun lalu, menunjukkan tekanan target yang ekstrem di lini produksi sebagai akar masalah.
- Kendati reputasi 'monozukuri' Jepang tercoreng, Nidec memastikan tidak ada isu keselamatan sehingga recall massal tidak diperlukan; sahamnya malah naik 5,7%.

Produsen motor listrik raksasa asal Jepang, Nidec Corporation, mengakui adanya 844 kasus pelanggaran dalam pengendalian mutu yang terjadi sepanjang dekade terakhir. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh CEO Mitsuya Kishida dalam konferensi pers, Jumat (4/9), dengan membungkukkan badan sebagai bentuk permintaan maaf kepada investor, pelanggan, dan publik.
Temuan ini merupakan hasil investigasi internal yang diluncurkan setelah kasus kecurangan akuntansi mencuat pada tahun sebelumnya. Sebagian besar pelanggaran berupa perubahan material atau proses produksi tanpa persetujuan resmi, sementara sisanya melibatkan pemalsuan hasil uji dan pelabelan asal-usul produk yang tidak sesuai fakta. Yang memprihatinkan, praktik ini diduga sudah berlangsung sejak 2012, periode ketika Nidec tengah gencar melakukan ekspansi besar-besaran.
Manajemen Nidec menyebut hampir seluruh kasus dilakukan oleh pekerja yang berada di bawah tekanan kuat untuk mencapai target. Mereka menganggap tindakan tersebut sebagai upaya memenuhi ekspektasi atasan, bukan niat jahat. Namun, analis menilai fenomena ini mencerminkan budaya kerja korporat Jepang yang terlalu kaku dan berorientasi pada hasil, sehingga memicu penutupan kesalahan di lini produksi.
Kishida menegaskan bahwa meskipun masalah ini menyentuh inti dari reputasi manufaktur, belum ditemukan indikasi bahaya keselamatan yang mengarah pada penarikan produk massal. โKami sedang bekerja keras untuk meninjau dan memperbaiki sistem pengendalian mutu,โ ujarnya, seperti dikutip dari laporan Mainichi. Sementara itu, Senior Vice President Masayuki Minai berjanji memperkuat tata kelola dan kepatuhan, seraya mengampanyekan prinsip โSpeak up. Bad news firstโ kepada seluruh karyawan.
Skandal ini menambah daftar panjang kasus serupa di Jepang, mulai dari pengakuan Kobe Steel pada 2017 atas pemalsuan inspeksi besar-besaran, hingga manipulasi data emisi Mitsubishi Motors pada 2016. Fenomena ini menggambarkan dilema antara mengejar efisiensi dan menjaga integritas proses, terutama ketika perusahaan tumbuh terlalu cepat.
Bagi Indonesia, kasus Nidec menjadi pengingat penting bagi industri manufaktur yang tengah berkembang, khususnya di sektor komponen otomotif dan elektronik. Dengan meningkatnya investasi asing di sektor ini, standar kualitas dan tata kelola perusahaan menjadi faktor krusial untuk menjaga kepercayaan pasar global. Regulator dan pelaku industri di Indonesia perlu memastikan bahwa tekanan produktivitas tidak mengorbankan transparansi dan akuntabilitas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Nidec akan memulihkan kepercayaan publik dan investor. Langkah perbaikan tata kelola yang dijanjikan manajemen akan menjadi ujian nyata, apakah perusahaan mampu keluar dari bayang-bayang skandal atau justru terjerumus dalam krisis berulang seperti yang dialami Mitsubishi Motors dua dekade lalu.



