Ledakan di Barak Militer Bolivia Tewaskan 2 Orang, 14 Hilang: Gudang Petasan Diduga Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Ledakan di barak Viacha, 30 km dari La Paz, menewaskan sedikitnya dua personel dan melukai puluhan lainnya, dengan 14 orang masih belum ditemukan.
- Sumber api diduga berasal dari gudang penyimpanan bahan piroteknik milik Kementerian Pertahanan, meski penyebab pasti masih diselidiki.
- Otoritas setempat mengimbau warga menjauhi lokasi karena masih ada titik panas yang berisiko memicu ledakan susulan, menyoroti lemahnya protokol keamanan penyimpanan material berbahaya.

Ledakan dahsyat mengguncang barak militer di Viacha, Bolivia, sekitar 30 kilometer dari La Paz, pada Jumat (4/9) siang waktu setempat. Insiden yang terjadi di area penyimpanan bahan piroteknik milik Kementerian Pertahanan itu menewaskan sedikitnya dua orang, melukai puluhan lainnya, dan membuat 14 personel dinyatakan hilang. Peristiwa ini langsung memicu penyelidikan besar-besaran dan kekhawatiran akan adanya ledakan susulan.
Menteri Pertahanan Bolivia, Ernesto Justiniano, membenarkan korban jiwa dan menyebut puluhan lainnya mengalami luka-luka. Namun, angka pastinya masih simpang siur. Direktur Kesehatan Viacha, Rita Nebraska, dalam wawancara dengan televisi lokal sempat menyebut estimasi korban tewas mencapai 10 hingga 15 orang, dengan 62 orang terluka. Dari jumlah tersebut, 14 korban luka berat dilarikan ke rumah sakit di La Paz, termasuk seorang anak perempuan yang mengalami luka bakar tingkat tiga. Sementara itu, kepolisian mencatat lebih dari 50 orang terluka dan puluhan rumah rusak, sebagian besar akibat pecahan kaca jendela yang hancur terkena getaran ledakan.
Ledakan terjadi sekitar pukul 14.30 waktu setempat, saat banyak personel berada di area barak. Tim penyelamat, ambulans, dan aparat langsung dikerahkan ke kompleks militer untuk mengevakuasi korban dan menilai tingkat kerusakan. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti ledakan belum dapat dipastikan. Namun, otoritas militer menduga kuat sumber api berasal dari gudang penyimpanan kembang api dan bahan piroteknik lain yang berada di dalam kompleks. Dugaan ini memperkuat kecurigaan akan lemahnya pengawasan terhadap material berbahaya di lingkungan militer.
Insiden ini menyoroti praktik penyimpanan material berbahaya di instalasi militer yang kerap luput dari pengawasan ketat. Bolivia, seperti banyak negara berkembang, memiliki sejarah panjang kecelakaan serupa akibat standar keselamatan yang longgar. Pada 2015, ledakan di pabrik amunisi di Cochabamba menewaskan belasan orang. Kasus Viacha kali ini kembali menegaskan bahwa prosedur keamanan penyimpanan bahan mudah meledak harus menjadi prioritas, terutama di tengah keterbatasan anggaran militer.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan gudang amunisi dan bahan peledak di lingkungan TNI. Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI Angkatan Darat pernah mencatat sejumlah insiden serupa di tanah air, seperti ledakan di gudang amunisi Ciangsana, Bogor, pada 2024, yang memaksa evakuasi warga. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian tersebut menunjukkan bahwa risiko ledakan di instalasi militer selalu mengintai jika protokol keselamatan tidak dijalankan dengan ketat. Insiden Bolivia ini bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengaudit ulang standar keamanan gudang material berbahaya di seluruh jajaran TNI.
Rita Nebraska juga mengungkapkan bahwa pemadam kebakaran telah memperingatkan adanya sumber panas yang masih tersisa di lokasi ledakan, meningkatkan risiko ledakan kedua. Warga sekitar diminta untuk tidak mendekati area tersebut dalam radius 150 meter. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, mengingat material piroteknik yang tersisa bisa memicu reaksi berantai. Tim penjinak bom dan ahli bahan peledak telah dikerahkan untuk mengamankan lokasi dan memastikan tidak ada korban lain yang tertimbun.
Pemerintah Bolivia kini menghadapi tekanan untuk mengungkap tuntas penyebab ledakan dan mengevaluasi prosedur penyimpanan material berbahaya di seluruh instalasi militer. Pertanyaan besarnya, apakah insiden ini akan mendorong reformasi keselamatan yang selama ini dinilai lamban, atau justru menjadi catatan kelam lain dalam sejarah militer Bolivia? Sementara itu, keluarga korban menanti kepastian nasib 14 personel yang masih hilang, berharap mereka selamat dari reruntuhan.



