Guendouzi Dilarang Empat Laga Eropa, Batal Jumpa Dybala di Olimpico
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Fenerbahce, Matteo Guendouzi, dijatuhi hukuman larangan tampil empat pertandingan Eropa oleh UEFA usai memprovokasi suporter Lyon.
- Dua laga dari hukuman tersebut ditangguhkan dengan masa percobaan satu tahun, plus denda โฌ50 ribu yang harus dibayar pemain asal Prancis itu.
- Akibat sanksi ini, Guendouzi dipastikan absen saat Fenerbahce bertandang ke markas AS Roma di Liga Champions, sekaligus batal bersua Paulo Dybala.

Gelandang Fenerbahce, Matteo Guendouzi, dipastikan batal tampil saat timnya dijadwalkan melawat ke Stadio Olimpico untuk menantang AS Roma pada laga Liga Champions pekan depan. UEFA menjatuhkan sanksi larangan bermain empat pertandingan usai aksi provokatifnya kala timnya menyingkirkan Lyon di babak play-off, Selasa lalu.
Badan sepak bola Eropa itu resmi mengumumkan hukuman terhadap Guendouzi pada Jumat (21/2). Dari total empat laga larangan, dua di antaranya digantung dengan masa percobaan satu tahun. Selain itu, pemain berusia 25 tahun tersebut juga dikenai denda sebesar โฌ50 ribu atau sekitar Rp850 juta.
Dalam pernyataan resminya, UEFA menyebut Guendouzi terbukti melakukan pelanggaran berupa "menghina dan memprovokasi penonton serta melanggar aturan dasar perilaku yang layak". Insiden ini terjadi setelah Fenerbahce menang 2-1 atas Lyon pada leg kedua play-off Liga Champions di Parc OL, yang memastikan tim asal Turki itu lolos ke fase grup kompetisi musim 2026-27.
Kronologi bermula saat peluit panjang dibunyikan. Guendouzi, yang pernah membela Marseille, terlihat dan terdengar meneriakkan "Allez l'OM" ke arah kamera di pinggir lapangan. Aksi tersebut langsung memicu reaksi panas dari pemain dan staf Lyon, yang sebelumnya baru saja gagal mengamankan tiket ke Liga Champions. Ketegangan pun meluber hingga ke lorong stadion, memicu keributan besar antara kedua kubu.
Bagi Guendouzi, ini bukan kali pertama ia berurusan dengan kontroversi. Selama membela Lazio di Serie A, ia dikenal sebagai pemain yang kerap memancing emosi lawan. Salah satu rival terberatnya adalah Paulo Dybala, bintang Roma yang kini menjadi lawan potensial di laga nanti. Keduanya sering terlibat duel sengit dalam derbi Roma versus Lazio. Musim lalu, usai Roma menang atas Lazio, Dybala sempat melontarkan sindiran tajam, "Saya tetap bersenang-senang, meskipun teman saya tidak ada di sana," merujuk pada absennya Guendouzi.
Keputusan UEFA ini jelas menjadi pukulan telak bagi Fenerbahce yang tengah bersiap menghadapi laga penting melawan Roma. Kehilangan Guendouzi, yang menjadi motor lini tengah, akan memengaruhi strategi pelatih Jose Mourinho. Apalagi, laga nanti akan berlangsung di kandang Roma, tempat Guendouzi pernah merasakan permusuhan langsung dari suporter lawan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa etika di lapangan tetap menjadi prioritas, sekalipun tensi pertandingan sedang tinggi. Perilaku provokatif seperti yang dilakukan Guendouzi tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga tim dan rekan setim. Di tengah gencarnya sorotan terhadap sepak bola Eropa, sanksi tegas UEFA ini menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi pelanggaran etika, apa pun alasannya.
Dengan hukuman ini, Guendouzi akan melewatkan dua laga pertama Fenerbahce di fase grup Liga Champions, termasuk laga tandang melawan Roma. Jika ia kembali tampil setelah masa percobaan, ia harus menjaga sikapnya agar tidak terjerat sanksi lebih berat. Pertanyaannya, mampukah ia menahan diri dari godaan untuk memancing emosi lawan, terutama ketika berhadapan dengan musuh bebuyutan seperti Dybala?



