Jadwal Liga Champions Serie A: Inter, Roma, Como, dan Napoli Hadapi Bulan Kritis
Baca dalam 60 detik
- UEFA merilis jadwal fase liga Liga Champions 2025/26, dengan empat wakil Serie A memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi.
- Inter dan Napoli dianggap memiliki jalur lebih mulus, sementara Roma dan Como harus mewaspadai laga tandang berat di bulan-bulan awal.
- Keputusan rotasi pemain dan manajemen cedera akan menjadi kunci bagi tim-tim Italia untuk melaju ke fase gugur.

UEFA telah merilis jadwal resmi Liga Champions musim 2025/26, dan empat wakil Serie A—Inter, Roma, Como, dan Napoli—kini tahu peta jalan mereka menuju fase gugur. Dengan format baru yang mempertemukan setiap tim melawan delapan lawan berbeda, analisis mendalam terhadap kalender menjadi krusial untuk mengukur peluang lolos.
Inter, yang musim lalu tampil impresif di Eropa, mendapat undian yang relatif bersahabat. Lawan-lawan mereka mayoritas berasal dari liga menengah Eropa, dengan hanya dua atau tiga klub unggulan yang harus dihadapi. Namun, jadwal padat di bulan November—bertepatan dengan derby melawan AC Milan dan laga berat di Serie A—bisa menjadi ujian kedalaman skuad. Pelatih Simone Inzaghi diprediksi akan melakukan rotasi besar-besaran untuk menjaga kebugaran pemain kunci.
Napoli, yang kembali ke Liga Champions setelah absen semusim, justru dihadapkan pada jadwal yang lebih menantang di awal. Tiga dari empat laga pertama mereka digelar tandang, termasuk lawatan ke Inggris dan Spanyol. Antonio Conte, yang kini menukangi Partenopei, dikenal dengan pendekatan fisik yang intens; pertanyaan besarnya adalah apakah skuadnya mampu menjaga konsistensi saat bermain dua kali seminggu. Data dari musim lalu menunjukkan Napoli kesulitan saat melawan tim dengan pressing tinggi, sebuah kelemahan yang bisa dieksploitasi lawan-lawannya.
Roma dan Como, dua tim yang lolos lewat jalur kualifikasi, mendapat undian yang jauh lebih berat. Roma harus menghadapi tiga juara liga domestik dalam enam laga pertama, sementara Como—yang baru pertama kali tampil di kompetisi ini—langsung dipertemukan dengan raksasa seperti Real Madrid dan Bayern Munchen. Bagi Como, pengalaman ini lebih tentang belajar dan membangun fondasi, tetapi bagi Roma, targetnya jelas: menembus 16 besar. Tekanan di ibu kota Italia akan sangat tinggi, terutama jika hasil buruk terjadi di awal musim.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, jadwal ini punya arti tersendiri. Banyak pemain diaspora dan keturunan Indonesia yang berkarier di Eropa, dan laga-laga ini akan menjadi tontonan wajib di platform streaming. Selain itu, performa klub-klub Italia di Eropa sering kali memengaruhi harga transfer pemain Asia Tenggara yang bermain di liga tersebut. Jika Inter atau Napoli tampil gemilang, minat sponsor dan investor dari kawasan ini bisa meningkat, membuka peluang bagi pemain muda Indonesia untuk dilirik klub-klub Serie A.
Menilik tren musim lalu, tim-tim Italia cenderung kesulitan di bulan Februari, saat jeda musim dingin berakhir dan akumulasi kelelahan mulai terasa. Bagi Inter dan Napoli, manajemen beban pemain di bulan Januari akan menentukan apakah mereka bisa tampil prima di fase gugur. Sementara itu, Roma dan Como harus memanfaatkan laga kandang sebagai basis poin, karena laga tandang mereka melawan tim unggulan diprediksi akan berakhir dengan kekalahan.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah Serie A kembali mendominasi Eropa seperti era 1990-an, atau justru semakin tertinggal dari Premier League dan La Liga? Jawabannya mungkin akan mulai terlihat pada matchday pertama, ketika Inter dan Napoli membuktikan kualitas mereka di panggung terbesar. Bagi Como, setiap pertandingan adalah sejarah; bagi Roma, setiap hasil adalah penentu nasib pelatihnya.



