Cuaca Ekstrem Memangkas Rute, Van Aert Menang Sprint di Vuelta Etap 15
Baca dalam 60 detik
- Van Aert memenangi sprint lima pembalap di Cordoba setelah rute dipangkas 79,5 km akibat suhu ekstrem.
- Kemenangan ini memperkuat posisinya di klasemen sprint, sementara Enric Mas tetap aman di pimpinan umum.
- Kebijakan protokol cuaca ekstrem UCI menjadi sorotan, mengingat dampaknya pada strategi balapan dan keselamatan pebalap.

Wout van Aert kembali membuktikan ketajamannya di Vuelta a Espana. Pada etape 15 yang berakhir di Cordoba, Minggu (6/9), pebalap Visma Lease a Bike itu memenangi sprint lima pembalap setelah rute diperpendek drastis akibat gelombang panas. Ini menjadi kemenangan keduanya dalam tiga etape terakhir, sekaligus sinyal bahwa ia masih menjadi ancaman serius di sisa balapan.
Etape yang semula dirancang sepanjang 189,7 kilometer dari Palma del Rio ke Cordoba harus dipangkas 79,5 kilometer di bagian tengah. Panitia menerapkan Protokol Cuaca Ekstrem setelah beberapa hari suhu sangat tinggi melanda wilayah Andalusia. Keputusan ini mengubah peta permainan: para pebalap tidak lagi menguras tenaga di rute panjang, dan taktik pun berubah menjadi lebih agresif di kilometer akhir.
Van Aert, yang dikenal sebagai spesialis klasik dan sprint, memanfaatkan situasi dengan sempurna. Ia menempel ketat setiap serangan dari empat rekannya yang lolos dalam breakaway, lalu melesat di meter-meter terakhir. Alessandro Romele dari XDS Astana dan Thibau Nys dari Lidl-Trek harus puas mengekor di belakangnya. "Kami mencoba mengejutkan peloton dengan mengontrol balapan sepanjang hari. Saya mencium momen di sprint antara, dan dengan Matthew di belakang, tidak ada risiko untuk mencoba," ujar Van Aert seusai balapan, seperti dikutip media internasional.
Kemenangan ini menegaskan peran Van Aert sebagai kandidat kuat untuk jersey hijau (klasifikasi poin). Namun, di sisi lain, para pesaing general classification justru memilih bermain aman. Enric Mas, pemimpin klasemen, finis bersama rombongan utama setelah timnya, Movistar, mengontrol laju balapan di belakang kelompok depan. Dengan demikian, Mas tetap mengenakan jersey merah saat memasuki hari istirahat kedua pada Senin (7/9).
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kejadian ini menarik karena menyoroti bagaimana perubahan iklim mulai memengaruhi kalender olahraga global. Suhu ekstrem yang memicu pemangkasan rute bukan lagi hal langka di Grand Tour Eropa. Beberapa tahun terakhir, Vuelta dan Tour de France kerap menghadapi keputusan serupa, memaksa penyelenggara dan tim untuk lebih fleksibel dalam strategi.
Dari sisi regulasi, Protokol Cuaca Ekstrem yang digagas Union Cycliste Internationale (UCI) memang dirancang untuk melindungi kesehatan pebalap. Namun, penerapannya kerap menuai pro-kontra. Sebagian tim menilai keputusan ini mengganggu ritme balapan dan mengurangi daya tarik kompetisi, sementara yang lain mendukung penuh demi keselamatan. Menurut analis olahraga, keseimbangan antara aspek keselamatan dan sportivitas akan terus menjadi perdebatan, terutama ketika suhu global terus meningkat.
Di sisi lain, performa Van Aert yang konsisten juga menjadi pengingat bahwa ia masih menjadi salah satu pebalap paling serba bisa di generasinya. Setelah cedera yang sempat menghambat kariernya, kemenangan demi kemenangan di Vuelta ini menunjukkan bahwa ia belum selesai bersaing di level tertinggi. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan momentum ini hingga Madrid? Atau akankah strategi tim lain berhasil meredam agresivitasnya? Jawabannya akan terungkap pada etape-etape pegunungan yang masih menanti di pekan terakhir.



