Infantino Tegas Maju Lagi, FIFA Bantah Ada Perubahan Rencana
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino memastikan diri kembali bertarung pada pemilihan Maret 2027 meski sempat mendapat tekanan dari tiga konfederasi besar.
- Rencana penjualan saham 20 persen turnamen FIFA yang menuai protes pada Juli lalu menjadi pemicu gelombang oposisi terhadap kepemimpinannya.
- Dukungan dari konfederasi Afrika dan Amerika Selatan dinilai cukup untuk mengamankan kursi presiden keempat Infantino.

Gianni Infantino, Presiden FIFA, menegaskan komitmennya untuk kembali mencalonkan diri pada pemilihan yang dijadwalkan berlangsung Maret tahun depan. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari sejumlah konfederasi sepak bola dunia yang mempertanyakan kepemimpinannya setelah rencana investasi kontroversial gagal total.
Juru bicara FIFA, dalam keterangan resmi yang dirilis akhir pekan lalu, menyatakan bahwa tidak ada perubahan atas keputusan Infantino yang telah diumumkan sejak April. "Pak Infantino akan maju lagi," ujarnya, menepis spekulasi bahwa kekacauan internal enam pekan terakhir dapat mengubah arah kebijakan organisasi.
Kontroversi bermula ketika FIFA berupaya menjual 20 persen saham Piala Dunia dan sejumlah turnamen lainnya kepada investor swasta. Rencana ini memicu reaksi keras dari UEFA, AFC, dan CONCACAF, yang bahkan menyerukan pengunduran diri Infantino. Namun, langkah tersebut akhirnya dibatalkan pada Juli setelah mendapat tentangan luas dari berbagai pihak.
Menariknya, di tengah badai kritik, Infantino tetap mendapat sokongan kuat dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL). Dukungan ini menjadi modal politik yang signifikan bagi pria berusia 56 tahun itu untuk mempertahankan kursinya di puncak organisasi sepak bola global.
Ketika ditemui di sela-sela Piala Dunia U-20 di Polandia pada Sabtu lalu, Infantino memilih bungkam saat ditanya apakah ia menyesali gejolak yang terjadi. Ia hanya berujar singkat, "Akan ada banyak hal untuk disampaikan, tetapi harus pada tempat dan waktu yang tepat." Pernyataan ini ditafsirkan sebagai isyarat bahwa ia akan angkat bicara lebih terbuka menjelang masa kampanye.
Bagi pengamat sepak bola, dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun ada oposisi, Infantino masih memiliki pijakan kuat. Dukungan dari dua konfederasi besar, Afrika dan Amerika Selatan, sering kali menjadi penentu dalam pemilihan presiden FIFA. Sistem pemungutan suara yang memberikan bobot besar pada konfederasi membuat Infantino berada di posisi yang menguntungkan.
Di Indonesia, perkembangan ini patut dicermati mengingat FIFA memiliki peran penting dalam pembinaan sepak bola nasional. Beberapa program FIFA, seperti pengembangan infrastruktur dan pelatihan wasit, sangat bergantung pada kebijakan presiden FIFA. Jika Infantino kembali terpilih, kontinuitas program-program tersebut diyakini akan berlanjut, yang dapat berdampak positif bagi perkembangan sepak bola Indonesia.
Namun, kritik terhadap Infantino tidak hanya berhenti pada isu investasi. Beberapa pihak menilai gaya kepemimpinannya yang cenderung otoriter dan kurang transparan menjadi perhatian serius. Meski demikian, hingga kini belum ada figur kuat yang berani tampil sebagai penantang. Pertanyaan besarnya adalah: akankah muncul kandidat alternatif yang mampu menggeser dominasi Infantino, atau ia akan kembali memimpin FIFA tanpa perlawanan berarti?



