Dua Wakil Serie A Berpeluang Tembus Delapan Besar Liga Champions: Inter dan Napoli Jadi Andalan
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan dan Napoli dinilai memiliki peluang terbesar untuk finis di delapan besar fase liga Champions, berdasarkan analisis undian yang baru berlangsung.
- Undian mempertemukan sejumlah klub Italia dengan lawan-lawan berat, termasuk potensi reuni Jose Mourinho dengan Roma dan Inter, serta kembalinya Cesc Fabregas ke Barcelona.
- Kiprah klub Serie A di kompetisi elite Eropa musim ini akan menjadi barometer kebangkitan sepak bola Italia di pentas kontinental.

Undian fase liga Liga Champions musim 2024/2025 yang digelar Kamis lalu langsung memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat. Dua analis Football Italia, Lorenzo Bettoni dan Giancarlo Rinaldi, kompak menilai Inter Milan dan Napoli memiliki peluang terbesar untuk menembus delapan besar klasemen akhir. Jika prediksi itu terwujud, dua wakil Serie A akan melaju langsung ke babak 16 besar tanpa harus melewati play-off—sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sejak format baru diperkenalkan.
Dalam format liga yang menggantikan fase grup tradisional, setiap klub memainkan delapan pertandingan melawan lawan berbeda. Inter dan Napoli dianggap diuntungkan oleh undian yang relatif bersahabat, meski tetap ada jebakan. Sementara itu, AS Roma dan Como, dua klub lain yang mewakili Italia, harus bersiap menghadapi jalan terjal. Roma, misalnya, dijadwalkan bertemu sejumlah raksasa Eropa, sementara Como yang kembali ke pentas Champions setelah puluhan tahun absen, akan menjalani ujian berat melawan tim-tim unggulan.
Dua narasi menarik mewarnai undian kali ini. Jose Mourinho, yang kini menukangi Fenerbahce, akan kembali bertemu dengan dua mantan klubnya di Italia: Roma dan Inter. Reuni ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga ujian taktik bagi pelatih asal Portugal itu. Di sisi lain, Cesc Fabregas, yang kini menjadi pelatih Como, akan kembali ke Barcelona—klub yang membesarkan namanya—dalam laga yang sarat emosi. Duel-duel ini dipastikan menyedot perhatian publik, tidak hanya di Italia, tetapi juga di seluruh dunia.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, performa klub-klub Serie A di Liga Champions selalu menarik diikuti. Banyak pemain yang pernah merumput di Indonesia atau memiliki basis penggemar besar di Tanah Air, seperti Inter dan Roma. Selain itu, keberhasilan Inter dan Napoli di kompetisi elite Eropa akan berdampak pada koefisien UEFA Italia, yang berimplikasi pada jumlah jatah klub Italia di kompetisi Eropa musim-musim berikutnya. Semakin banyak klub Italia yang lolos jauh, semakin besar pula peluang bagi liga untuk mempertahankan empat jatah di Liga Champions.
Menurut Bettoni, kekuatan skuad dan konsistensi menjadi kunci utama. Inter yang diperkuat lini tengah solid dan pertahanan kokoh, serta Napoli dengan serangan tajam, dianggap memiliki kedalaman skuad yang cukup untuk bersaing di dua front. Namun, ia mengingatkan bahwa jadwal padat dan cedera pemain kunci bisa menjadi faktor pengganggu. Sementara itu, Rinaldi menyoroti faktor mentalitas: klub Italia kerap kesulitan menghadapi tim-tim dengan pressing tinggi, seperti yang banyak ditemui di Liga Premier atau La Liga.
Di sisi lain, kegagalan Roma dan Como untuk bersaing di papan atas bukan berarti akhir segalanya. Dengan delapan pertandingan, masih ada peluang untuk finis di peringkat 9-24 dan melaju melalui play-off. Namun, jalan itu tentu lebih berat dan berisiko. Bagi Como, pengalaman tampil di kompetisi terbesar Eropa adalah modal berharga, terlepas dari hasil akhirnya. Klub yang bermarkas di tepi Danau Como ini sedang membangun proyek jangka panjang di bawah arahan Fabregas.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Inter dan Napoli mampu menjaga konsistensi hingga akhir fase liga? Atau justru kejutan dari Roma dan Como yang akan mewarnai perjalanan Serie A di Eropa musim ini? Satu hal yang pasti, persaingan di Liga Champions musim ini akan semakin sengit dengan format baru yang menuntut setiap klub tampil maksimal di setiap laga.



