Keributan D'Amico vs Percassi: Roma dan Atalanta Saling Lapor ke Otoritas Liga
Baca dalam 60 detik
- Perseteruan antara dua direktur klub Serie A memanas setelah laga dramatis di Olimpico, memicu pernyataan resmi dari kedua kubu.
- Roma mengecam sikap CEO Atalanta yang dinilai tidak profesional, sementara Atalanta membantah dan siap menghadapi investigasi.
- Insiden ini berpotensi memicu sanksi disipliner dan memperuncing rivalitas kedua klub di papan atas Italia.

Ketegangan di akhir laga Serie A antara AS Roma dan Atalanta tak berhenti di lapangan. Perseteruan antara dua petinggi klub, Luca Percassi dan Tony D'Amico, berlanjut hingga ke area parkir Stadio Olimpico, memaksa kedua klub mengeluarkan pernyataan resmi dan melibatkan otoritas keadilan olahraga.
Insiden terjadi setelah Roma membalikkan keadaan secara dramatis dengan dua gol di masa injury time, mengubah skor 0-1 menjadi 2-1 lewat aksi Mario Hermoso dan Matias Soulรฉ. Euforia kemenangan tuan rumah berubah menjadi riak ketegangan ketika peluit panjang berbunyi. Kartu merah untuk gelandang Atalanta, Gianluca Gaetano, semakin memanaskan suasana, namun puncaknya justru terjadi di luar lapangan.
Menurut laporan media Italia, Percassi yang merupakan CEO Atalanta mendekati D'Amico, direktur olahraga Roma, dan melontarkan makian. Yang membuat situasi kian pelik, keduanya bukanlah orang asing. D'Amico baru beberapa pekan lalu meninggalkan kursi direktur olahraga di Atalanta sebelum bergabung dengan Roma. Ikatan profesional yang sempat erat itu justru membuat konflik pribadi ini terasa lebih dalam.
D'Amico disebut memilih bungkam dan tidak membalas hinaan tersebut. Petugas keamanan pun terpaksa turun tangan untuk memisahkan keduanya. Sikap tenang D'Amico ini kemudian menjadi sorotan utama dalam pernyataan resmi Roma. Klub ibu kota itu menyatakan dukungan penuh kepada D'Amico dan menilai perilaku Percassi tidak dapat diterima. Roma juga mengisyaratkan akan membawa perkara ini ke otoritas keadilan olahraga yang berwenang.
Atalanta, di sisi lain, merespons dengan pernyataan yang tidak kalah tegas. Mereka menolak evaluasi yang dilontarkan Roma terhadap Percassi dan menegaskan kesiapan untuk bekerja sama sepenuhnya dengan investigasi. Meski memilih tidak memperpanjang polemik di depan publik, langkah Atalanta menunjukkan mereka tidak tinggal diam atas tuduhan yang dialamatkan kepada CEO mereka.
Bentrokan antarofisial seperti ini sebenarnya bukan hal baru di sepak bola Italia, yang dikenal penuh gengsi dan rivalitas. Namun, kasus ini menarik karena melibatkan dua klub yang tengah bersaing ketat di papan atas Serie A. Roma yang sedang dalam masa transisi kepelatihan, dan Atalanta yang konsisten menjadi penantang gelar, memiliki ambisi besar musim ini. Konflik pribadi di antara petingginya bisa menjadi distraksi yang tidak diinginkan di tengah padatnya jadwal kompetisi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa rivalitas di lapangan sering kali meluas ke ranah manajerial. Di kompetisi domestik kita, tensi serupa juga kerap muncul, meski jarang sampai melibatkan pernyataan resmi dan laporan ke otoritas. Etika sportivitas, baik di dalam maupun luar lapangan, menjadi pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kejadian ini.
Langkah Roma untuk membawa perkara ini ke otoritas keadilan olahraga membuka peluang adanya sanksi bagi Percassi jika terbukti bersalah. Namun, Atalanta yang menolak tuduhan tersebut, siap membela CEO mereka. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan berhenti sebagai perang pernyataan, atau justru memicu rivalitas yang lebih sengit di pertemuan-pertemuan berikutnya? Yang jelas, sepak bola Italia kembali diingatkan bahwa gengsi dan emosi tidak pernah bisa dipisahkan sepenuhnya dari permainan.



