Paper Test Bandara Soetta Masih Positif Abu Vulkanik, 35.000 Penumpang Terlantar: Kapan Normal?
Baca dalam 60 detik
- Uji berkala di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 12.00 WIB masih mendeteksi partikel abu vulkanik, memaksa perpanjangan penutupan operasional.
- Kemenhub mengkombinasikan paper test dengan data radar BMKG untuk memantau sebaran abu, mengingat pola angin yang dinamis.
- Sebanyak 301 penerbangan dan puluhan ribu penumpang terdampak; kepastian pembukaan kembali masih menggantung pada kondisi cuaca.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali memperpanjang status penutupan operasionalnya setelah uji sampel berkala yang dilakukan siang ini masih menunjukkan jejak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Hasil paper test pada pukul 12.00 WIB, Minggu (6/9/2026), dinyatakan positif, memupus harapan ribuan calon penumpang yang sejak pagi memadati terminal.
Metode yang menjadi rujukan utama otoritas penerbangan ini sejatinya sederhana: selembar kertasโbaik kertas khusus maupun HVS biasaโdiletakkan di area terbuka bandara selama periode tertentu. Petugas kemudian memeriksa secara visual atau dengan perabaan apakah ada endapan partikel halus di permukaannya. Jika ditemukan butiran debu, area itu dinilai terpapar abu vulkanik dan lalu lintas udara di sekitarnya dianggap tidak aman.
Menteri Perhubungan Dudi Purwagandhi, saat meninjau Posko Terminal 1B, mengungkapkan bahwa pengujian ini dijalankan secara intensif setiap 30 menit. Namun, ia menegaskan bahwa paper test bukanlah satu-satunya instrumen penentu. Kementerian Perhubungan memadukan hasil uji darat tersebut dengan data radar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memetakan sebaran abu di berbagai lapisan ketinggian. "Kami belum bisa memastikan kapan akan berakhir karena cuaca terlalu dinamis," ujarnya, menggambarkan tantangan dalam mengambil keputusan.
Fluktuasi arah angin yang bergerak ke timur dan barat membuat otoritas bersikap sangat hati-hati. Keputusan untuk membuka kembali bandara tidak bisa diambil hanya berdasarkan satu indikator. Kombinasi data permukaan dan atmosfer ini menjadi standar keselamatan yang ketat, terutama setelah erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung dan berpotensi menyebarkan material vulkanik dalam radius luas.
Dampak dari penutusan ini sangat terasa. Data Kementerian Perhubungan mencatat sedikitnya 35.000 penumpang dan 301 penerbangan terganggu. Ribuan orang harus menunggu di terminal, sementara banyak lainnya membatalkan atau menunda perjalanan. Bagi maskapai, ini berarti kerugian operasional yang tidak sedikit, mulai dari biaya parkir pesawat hingga kompensasi penumpang.
Bagi pelaku industri penerbangan dan logistik, situasi ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur terhadap bencana geologi. Indonesia, yang berada di Cincin Api Pasifik, memiliki banyak gunung berapi aktif. Ketika erupsi terjadi, bandara-bandara di sekitarnya harus siap dengan protokol keselamatan yang adaptif. Namun, pertanyaannya, apakah protokol saat ini sudah cukup efisien untuk meminimalkan dampak ekonomi?
Pengamat penerbangan menilai bahwa penggunaan paper test yang manual dan periodik mungkin perlu dilengkapi dengan teknologi pemantauan real-time yang lebih canggih, seperti sensor partikulat atau citra satelit. Meski demikian, keandalan dan biaya menjadi pertimbangan. Sementara itu, koordinasi antara Kemenhub, BMKG, dan operator bandara menjadi kunci untuk mempercepat pengambilan keputusan tanpa mengorbankan keselamatan.
Situasi di Soekarno-Hatta juga berdampak pada konektivitas domestik dan internasional. Banyak penerbangan dialihkan ke bandara alternatif seperti Halim Perdanakusuma atau Bandara Kertajati, yang kapasitasnya terbatas. Para penumpang yang terjebak berharap ada kejelasan, sementara otoritas terus memantau perkembangan. Akankah esok hari membawa kabar baik? Semua bergantung pada apakah angin mau bekerja sama dan gunung berapi mereda.



