Anak Krakatau Kembali Bergolak: Erupsi 30 Detik, Abu Vulkanik Menyebar hingga Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Letusan terbaru Anak Krakatau terekam pukul 03.53 WIB dengan amplitudo 46 mm, memicu imbauan menjauhi radius 3 km.
- BMKG memetakan dua klaster sebaran abu yang menjangkau DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga Lampung dan Bengkulu.
- Status waspada ini menguji kesiapsiagaan daerah penyangga Selat Sunda, termasuk dampak terhadap penerbangan dan aktivitas maritim.

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Minggu dini hari, 6 September 2026, pukul 03.53 WIB, gunung yang berada di Selat Sunda ini erupsi dengan durasi 30 detik dan amplitudo maksimum 46 milimeter. Meski kolom abu tidak teramati secara visual, Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan bahwa erupsi masih berlangsung hingga laporan dikeluarkan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Anak Krakatau, yang lahir dari letusan dahsyat Krakatau pada 1883, tetap menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Sepanjang 2026, gunung ini telah mencatatkan puluhan kali erupsi dengan intensitas yang bervariasi. Namun, letusan kali ini menarik perhatian karena sebaran abunya yang cukup luas, mencapai wilayah padat penduduk seperti Jakarta dan sekitarnya.
Badan Geologi telah mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekati kawah atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer. Imbauan ini bukan tanpa alasan; sejarah mencatat bahwa pada 2018, letusan Anak Krakatau memicu tsunami Selat Sunda yang menewaskan lebih dari 400 orang. Meskipun kondisi saat ini berbeda, potensi bahaya tetap mengintai.
BMKG, melalui analisis citra satelit Himawari-9 dan data dari PVMBG serta VAAC Darwin, mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik. Klaster pertama, dengan ketinggian hingga 20.000 kaki, bergerak ke arah timur laut-selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Klaster kedua, yang lebih tinggi hingga 50.000 kaki, menyebar ke arah barat daya-barat laut, meliputi sebagian Lampung, Bengkulu, hingga Samudra Hindia.
Bagi warga Indonesia, terutama yang berada di sekitar Selat Sunda, kabar ini tentu memicu kekhawatiran. Namun, yang lebih penting adalah kesiapsiagaan. Pemerintah daerah bersama BPBD telah diminta untuk meningkatkan pemantauan dan menyiapkan langkah mitigasi. Masker menjadi barang yang disarankan untuk dibawa, terutama bagi mereka yang berada di wilayah yang berpotensi terkena hujan abu tipis.
Dari sisi ekonomi, erupsi ini berpotensi mengganggu sektor pariwisata di sekitar Anyer dan Carita yang sempat ramai. Selain itu, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Radin Inten II Lampung perlu waspada terhadap sebaran abu yang bisa mengganggu visibilitas dan mesin pesawat. Maskapai penerbangan biasanya akan menyesuaikan rute atau jadwal jika abu vulkanik terdeteksi di jalur penerbangan.
Para ahli vulkanologi menilai bahwa aktivitas Anak Krakatau masih fluktuatif. Menurut catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), status gunung ini masih berada di Level II atau Waspada. Ini berarti masih ada potensi letusan yang lebih besar, meskipun tidak dapat diprediksi secara pasti. Masyarakat diimbau untuk tidak termakan isu yang tidak jelas sumbernya dan selalu merujuk pada informasi resmi dari pemerintah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah aktivitas ini akan mereda seperti siklus sebelumnya, atau justru meningkat menjadi erupsi yang lebih besar. Yang jelas, kolaborasi antara Badan Geologi, BMKG, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam meminimalkan risiko. Bagi warga di sekitar gunung, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi resmi adalah langkah terbaik untuk menghadapi ketidakpastian alam ini.



