Jakarta Incar Adopsi Teknologi Air Shenzhen: AI dan IoT Jadi Kunci Tekan Kehilangan Air
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta mulai menjajaki kolaborasi teknologi pengelolaan air bersama Shenzhen Water Group, dengan fokus pada pemanfaatan AI dan IoT.
- Kerja sama ini menyasar efisiensi distribusi dan penurunan non-revenue water, yang selama ini menjadi tantangan klasik PAM Jaya.
- Langkah ini berpotensi mempercepat transformasi Jakarta menuju kota digital dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang transfer teknologi bagi Indonesia.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah memperluas cakrawala pengelolaan air minum ibu kota dengan menggandeng Shenzhen Water Group, perusahaan utilitas asal China yang dikenal memiliki keunggulan dalam penerapan teknologi pintar. Penjajakan yang dilakukan pekan ini di Shenzhen ini bukan sekadar kunjungan diplomatik, melainkan upaya konkret menjawab persoalan klasik distribusi air yang selama ini membebani PAM Jaya, seperti tingginya angka kehilangan air dan inefisiensi jaringan.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, dalam keterangan resminya, Sabtu, mengungkapkan bahwa Jakarta memiliki kebutuhan dan tantangan perkotaan yang kompleks, sementara Shenzhen menawarkan pengalaman dan inovasi teknologi yang relevan. โKami berharap koneksi ini dapat berkembang menjadi knowledge-sharing, kerja sama teknis, dan transfer teknologi,โ ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa DKI tidak hanya mencari solusi jangka pendek, tetapi juga membangun kapasitas internal jangka panjang.
Fokus pembicaraan dalam pertemuan tersebut meliputi potensi penerapan smart water management, terutama pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi distribusi serta mengendalikan non-revenue water (NRW). NRW, yang mencakup air yang hilang akibat kebocoran pipa maupun pemakaian ilegal, merupakan salah satu indikator kinerja utama perusahaan air minum. Di Jakarta, angka NRW masih cukup tinggi, dan adopsi teknologi serupa yang telah berhasil di Shenzhen diharapkan mampu menekan angka tersebut secara signifikan.
Langkah ini merupakan bagian dari rangkaian agenda Jakarta di China, bersamaan dengan keikutsertaan Indonesia dalam China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 di Guangzhou. CISMEF sendiri merupakan platform yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, dan mitra ekonomi dari kawasan Asia-Pasifik, sekaligus menjadi batu loncatan menuju APEC Economy Leader's Meeting yang akan digelar di Shenzhen pada 18-19 November 2026. Bagi Jakarta, partisipasi dalam forum-forum ini tidak hanya untuk memperluas akses pasar UMKM, tetapi juga untuk membuka jejaring kerja sama di sektor-sektor strategis, termasuk teknologi dan infrastruktur perkotaan.
Bagi Indonesia, kerja sama ini memiliki arti strategis yang lebih luas. Di tengah tekanan perubahan iklim yang semakin nyata, ketersediaan air bersih menjadi isu krusial, tidak hanya bagi Jakarta tetapi juga kota-kota besar lainnya di tanah air. Adopsi teknologi pengelolaan air yang telah teruji di Shenzhen dapat menjadi model bagi pengelolaan air perkotaan di Indonesia. Lebih dari itu, transfer teknologi yang diharapkan terjadi dapat mendorong tumbuhnya industri pendukung, seperti manufaktur sensor dan perangkat IoT, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kapasitas teknologi nasional.
Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kerja sama semacam ini memerlukan kajian mendalam, terutama terkait aspek pendanaan, kesesuaian regulasi, dan perlindungan data. Penerapan AI dalam pengelolaan air juga menuntut kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni. Oleh karena itu, langkah DKI Jakarta ini perlu diikuti dengan persiapan yang matang, termasuk skema pembiayaan yang jelas dan pengembangan kapasitas internal PAM Jaya.
Ke depan, keberhasilan kerja sama ini akan menjadi ujian bagi komitmen Jakarta dalam mewujudkan kota global yang tangguh dan berkelanjutan. Apakah teknologi canggih Shenzhen mampu menjawab persoalan air yang mengakar di Jakarta, atau justru menimbulkan ketergantungan baru? Hanya waktu yang akan membuktikan, namun yang jelas, langkah ini menunjukkan bahwa Jakarta tidak tinggal diam dalam menghadapi tantangan perkotaan yang semakin kompleks.



