Hideki Shirakawa, Peraih Nobel Kimia yang Membuktikan Plastik Bisa Menghantarkan Listrik, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Ilmuwan Jepang Hideki Shirakawa, yang menemukan polimer konduktif, meninggal dunia pada usia 90 tahun.
- Penemuan Shirakawa membuka jalan bagi pengembangan elektronik fleksibel dan layar OLED yang digunakan secara luas saat ini.
- Kepergiannya meninggalkan warisan besar bagi sains material, menginspirasi generasi peneliti di Asia, termasuk Indonesia.

Dunia sains kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Hideki Shirakawa, peraih Nobel Kimia 2000 asal Jepang yang dikenal atas penemuannya di bidang polimer konduktif, dilaporkan meninggal dunia pada akhir Agustus lalu. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh pihak keluarganya pada Kamis (3/9). Ilmuwan yang juga menjabat sebagai profesor emeritus di Universitas Tsukuba itu menghembuskan napas terakhir di usia 90 tahun.
Shirakawa mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai orang Jepang kesembilan yang meraih Nobel, sekaligus yang kedua untuk kategori Kimia setelah Kenichi Fukui pada 1981. Bersama dua ilmuwan Amerika, Alan Heeger dan Alan MacDiarmid, ia dianugerahi Nobel Kimia pada tahun 2000. Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan mereka menunjukkan bahwa plastik, yang selama ini dikenal sebagai isolator, ternyata mampu menghantarkan listrik.
Penemuan ini bukan sekadar pencapaian akademis belaka. Ia membuka pintu bagi pengembangan material baru yang menggabungkan fleksibilitas plastik dengan sifat konduktif logam. Dari sinilah lahir berbagai inovasi teknologi yang kita nikmati hari ini, mulai dari layar OLED pada ponsel pintar, panel surya organik, hingga sensor medis yang dapat ditekuk. Tanpa kerja keras Shirakawa dan rekan-rekannya, mustahil perangkat elektronik modern bisa seramping dan seringan sekarang.
Perjalanan intelektual Shirakawa dimulai dari Tokyo Institute of Technology, yang kini dikenal sebagai Institute of Science Tokyo, tempat ia meraih gelar doktor pada 1966. Ia kemudian melanjutkan riset di Universitas Pennsylvania di Amerika Serikat, sebelum akhirnya mengabdikan diri sebagai profesor di Universitas Tsukuba sejak 1982. Selain aktif di laboratorium, ia juga sempat duduk dalam panel ahli kebijakan sains dan teknologi pemerintah Jepang selama dua tahun, menunjukkan bahwa ia tidak hanya peduli pada riset murni, tetapi juga pada arah pembangunan iptek bangsanya.
Bagi Indonesia, sosok Shirakawa menyimpan pelajaran berharga. Negeri ini tengah giat mendorong hilirisasi industri dan pengembangan material maju, termasuk dalam sektor baterai kendaraan listrik yang mengandalkan konduktivitas tinggi. Riset polimer konduktif yang dirintis Shirakawa bisa menjadi inspirasi bagi para ilmuwan dan insinyur muda Indonesia untuk tidak takut mengeksplorasi hal-hal yang tampaknya mustahil. Sebab, apa yang dulu dianggap mustahilโplastik yang menghantarkan listrikโkini telah menjadi fondasi teknologi masa depan.
Kepergian Shirakawa meninggalkan jejak yang mendalam. Namun, pertanyaan yang kini menggantung adalah: siapa yang akan meneruskan obor inovasi di bidang material konduktif? Apakah akan lahir ilmuwan-ilmuwan baru dari Asia, termasuk Indonesia, yang mampu menembus batas-batas sains seperti yang telah dilakukan Shirakawa? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi warisan pemikirannya akan terus hidup dalam setiap perangkat yang kita gunakan sehari-hari.



