Teleskop Luar Angkasa Roman: Mata-Mata yang Beralih Fungsi untuk Mengungkap Misteri Kosmos
Baca dalam 60 detik
- NASA meluncurkan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman, yang awalnya merupakan satelit mata-mata, untuk memetakan miliaran galaksi dan menyelidiki energi gelap.
- Dengan biaya US$4 miliar, teleskop ini akan mengorbit di Titik Lagrange 2 dan diharapkan memberikan gambar pertama sebelum liburan akhir tahun.
- Misi ini berpotensi mengubah pemahaman tentang alam semesta, termasuk distribusi materi gelap dan energi gelap yang misterius.

NASA resmi mengirim wahana antariksa terbarunya, Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman, pada Minggu (30/8) dari Kennedy Space Center, Florida. Misi ini bukan sekadar menambah koleksi observatorium orbit; ia membawa misi besar untuk memetakan lebih dari dua miliar galaksi dan menguak tabir energi gelap serta materi gelap yang selama ini menjadi teka-teki terbesar astrofisika.
Proyek senilai sekitar US$4 miliar ini diangkut roket SpaceX Falcon Heavy tak lama setelah matahari terbit. Teleskop yang semula dirancang untuk program satelit mata-mata National Reconnaissance Office (NRO) itu dihibahkan ke NASA pada 2012 setelah programnya dibatalkan karena membengkaknya biaya. Kini, setelah melalui proses adaptasi panjang, Roman siap menjalankan tugas baru yang sama sekali berbeda: mengintip kedalaman alam semesta.
Roman akan menempati orbit di Titik Lagrange 2 (L2), sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi. Para ilmuwan akan menghabiskan 90 hari ke depan untuk menguji instrumen dan mempersiapkan operasi sains. Manajer proyek Jackie Townsend menyebut gambar resolusi tinggi pertama diharapkan bisa diterima "sebelum liburan musim dingin". Jika berjalan mulus, teleskop ini akan beroperasi lima tahun, dengan cadangan bahan bakar untuk lima tahun tambahan.
Kehadiran Roman melengkapi dua pendahulunya: Teleskop James Webb yang fokus pada pengamatan mendalam dan Teleskop Hubble yang legendaris. NASA menganalogikan Roman sebagai lensa sudut lebar, sementara Webb adalah lensa zoom. Julie McEnery, ilmuwan senior proyek Roman, menjelaskan bahwa teleskop ini memiliki sensitivitas dan ketajaman setara Hubble, tetapi mampu memindai langit jauh lebih cepat. "Roman bisa memetakan seluruh galaksi Bima Sakti dalam sebulan, sedangkan Hubble butuh satu abad," ujarnya.
Misi utama Roman adalah menciptakan peta tiga dimensi alam semesta paling komprehensif, yang akan memakan waktu lebih dari satu tahun. Data ini diharapkan memberi petunjuk tentang energi gelap yang mendorong percepatan ekspansi alam semesta, serta materi gelap yang menyusun sekitar 27 persen isi kosmos. Dengan mengukur tarikan materi gelap dan dorongan energi gelap, para astronom berharap bisa mendekati jawaban atas dua misteri terbesar dalam kosmologi.
Selain itu, Roman akan melakukan pencarian eksoplanet paling ekstensif, dengan proyeksi menemukan ribuan planet baru dan memberikan sensus statistik pertama sistem planet mirip tata surya kita. Ini membuka peluang besar bagi astrobiologi dan pemahaman tentang potensi kehidupan di luar Bumi.
Bagi Indonesia, peluncuran ini punya makna strategis. Meski tidak terlibat langsung, data yang dihasilkan Roman akan menjadi referensi bagi peneliti dan akademisi di dalam negeri, terutama di bidang astrofisika dan kosmologi. Lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bisa memanfaatkan data terbuka NASA untuk memperkuat riset antariksa nasional. Selain itu, momen ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi di bidang sains dan teknologi antariksa, seiring dengan upaya Indonesia yang tengah mengembangkan program luar angkasanya sendiri.
Di balik keberhasilan peluncuran, terselip kisah politis yang menarik. Presiden Donald Trump, yang sempat berupaya membatalkan atau memangkas dana proyek ini, justru memberi ucapan selamat langsung melalui sambungan telepon saat konferensi pers. Anggaran NASA tahun 2026 sebesar US$24 miliar selamat dari usulan pemotongan US$6 miliar, dan peluncuran Roman bahkan terjadi sembilan bulan lebih cepat dari jadwal. Ini menunjukkan bahwa proyek sains besar bisa bertahan di tengah dinamika politik, asalkan didukung oleh kongres dan komunitas ilmiah.
Dengan segala kemampuannya, Roman diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental: Terbuat dari apakah alam semesta? Bagaimana galaksi terbentuk dan berevolusi? Apakah ada planet lain yang layak huni? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya milik para ilmuwan, tetapi juga menyentuh rasa ingin tahu manusia secara universal. Akankah Roman menjadi saksi lahirnya paradigma baru dalam kosmologi? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: babak baru eksplorasi antariksa telah dimulai.



