Alcaraz Makin Perkasa di US Open: Jalan Menuju Gelar Kedua Kian Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Carlos Alcaraz melaju mulus ke babak keempat US Open setelah mengalahkan Wu Yibing, memperpanjang rekor kemenangan beruntunnya di Grand Slam menjadi 17 laga.
- Dengan tersingkirnya sejumlah unggulan utama, petenis Spanyol itu berpotensi melaju ke final tanpa menghadapi lawan dari jajaran top-10 sebelum semifinal.
- Performa Alcaraz yang terus meningkat setelah cedera pergelangan tangan menjadi sinyal kuat bagi persaingan menuju final, sekaligus menambah ketatnya persaingan di sektor putra.

Carlos Alcaraz kembali menunjukkan tajinya di ajang Grand Slam. Pada Jumat (29/8) waktu setempat, petenis peringkat dua dunia itu menundukkan Wu Yibing dari China dengan skor telak 6-3, 6-4, 6-1 di babak ketiga US Open. Kemenangan ini memperpanjang catatan impresifnya: 17 kemenangan beruntun di turnamen mayor, termasuk gelar US Open 2025 dan Australia Terbuka 2026 yang baru saja ia rebut.
Bagi Alcaraz, turnamen tahun ini terasa istimewa. Ini adalah penampilan pertamanya di lapangan tunggal setelah 139 hari absen akibat cedera pergelangan tangan yang ia derita pada April lalu. Meski sempat kehilangan satu set di babak kedua melawan Jaime Faria, petenis 23 tahun itu kini mengaku kondisinya jauh lebih baik dari perkiraan. "Sejujurnya, saya lebih baik dari yang saya bayangkan. Secara fisik, saya pikir akan kesulitan setelah pertandingan pertama, tetapi pemulihan saya berjalan sangat baik," ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
Kemenangan atas Wu memang tidak semulus yang terlihat di atas kertas. Alcaraz mencatatkan 21 winner, tetapi juga melakukan 33 kesalahan sendiri dan tingkat keberhasilan servis pertama hanya 67 persen. Pada set kedua, akurasi servisnya bahkan sempat merosot ke angka 53 persen. Meski demikian, juara tujuh kali Grand Slam ini mampu bangkit dan menutup pertandingan dalam dua jam 20 menit. "Setiap kali saya turun ke lapangan, saya mencoba memberikan segalanya. Saya hanya berusaha berkembang dan menjadi lebih baik di setiap pertandingan," tambahnya.
Jalan Alcaraz menuju gelar kedelapan di turnamen mayor kini semakin lapang. Sejumlah unggulan utama telah tersingkir lebih awal. Novak Djokovic kandas di babak pertama, sementara unggulan ketiga Felix Auger-Aliassime gugur di babak kedua. Alexander Zverev, yang menjadi unggulan teratas setelah Jannik Sinner absen karena cedera, justru tampil kurang meyakinkan. Dua pertandingan pertamanya harus berakhir lima set dan berlangsung hingga dini hari. Kondisi ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi Alcaraz yang tidak akan bertemu Zverev sebelum final.
Di sisi lain, petenis asal Spanyol itu masih harus mewaspadai beberapa nama. Di babak keempat, ia akan berhadapan dengan Tommy Paul, unggulan ke-20 asal Amerika Serikat, yang belum pernah ia kalahkan dalam enam pertemuan terakhir. Sebelum semifinal, lawan potensial terberatnya adalah Ben Shelton, unggulan kedelapan, yang juga selalu kalah darinya. Sementara di semifinal, ia berpotensi bertemu Daniil Medvedev, yang pernah mengalahkannya di Indian Wells Maret lalu.
Mantan juara Wimbledon, Pat Cash, menilai Alcaraz semakin difavoritkan untuk mempertahankan gelar. "Empat bulan tanpa bertanding lalu langsung memenangi US Open? Dia kelas di atas yang lain ketika dalam performa terbaiknya, dan dia semakin membaik dari waktu ke waktu. Cara dia bergerak di lapangan, tidak ada alasan untuk tidak percaya dia akan melaju jauh," kata Cash kepada BBC Radio 5 Live.
Sementara itu, Medvedev juga melaju mulus ke babak keempat setelah menaklukkan Arthur Rinderknech tiga set langsung. Mantan juara US Open 2021 itu tampil solid dan belum kehilangan satu set pun sepanjang turnamen. Ia akan menghadapi pemenang antara Frances Tiafoe dan Valentin Vacherot pada babak berikutnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Alcaraz ini menarik untuk disimak. Meski tidak ada wakil Indonesia di turnamen ini, persaingan di papan atas tenis putra selalu menjadi tontonan yang dinantikan. Apalagi, dengan semakin terbukanya undian, peluang Alcaraz untuk menciptakan sejarah baru semakin nyata. Pertanyaannya, akankah ia mampu menjaga konsistensi hingga partai puncak? Atau justru ada kejutan lain yang menanti di Flushing Meadows tahun ini?



