Taylor Fritz Melaju Mulus ke Putaran Ketiga US Open, Kian Kokoh Sebagai Kandidat Juara
Baca dalam 60 detik
- Unggulan kesembilan asal Amerika Serikat itu menang telak 6-0, 6-1, 6-1 atas Mattia Bellucci dalam 98 menit.
- Kemenangan ini memperpanjang catatan impresif Fritz di turnamen tanpa kehilangan satu set pun, memperkuat statusnya sebagai penantang serius gelar Grand Slam.
- Dengan performa yang semakin matang, Fritz dijadwalkan menghadapi Francisco Cerundolo di babak ketiga, sekaligus menguji konsistensinya menuju final.

NEW YORK โ Taylor Fritz kembali menunjukkan tajinya di ajang Grand Slam. Pada Kamis (5/9) waktu setempat, petenis tuan rumah itu melibas Mattia Bellucci dengan skor telak 6-0, 6-1, 6-1 dalam laga putaran kedua US Open yang berlangsung hanya 98 menit. Kemenangan ini menegaskan ambisi Fritz untuk menjadi petenis Amerika pertama yang merebut gelar tunggal putra Grand Slam sejak Andy Roddick menjuarai turnamen yang sama pada 2003 silam.
Sejak awal pertandingan, Fritz langsung tampil agresif dan mendominasi jalannya laga. Ia hanya butuh 35 menit untuk menuntaskan set pembuka tanpa sekalipun kehilangan game. Bellucci, yang berada di peringkat 95 dunia, nyaris tak punya kesempatan untuk mengembangkan permainan. Satu-satunya momen perlawanan terjadi pada set kedua ketika petenis Italia itu berhasil memenangkan satu game setelah melalui pertarungan ketat. Namun, keunggulan Fritz terlalu besar untuk dikejar.
Kemenangan ini bukan sekadar angka. Bagi pengamat tenis, cara Fritz menang menjadi sinyal bahwa ia berada dalam performa terbaiknya. Sebelumnya, di putaran pertama, ia juga menang tanpa kehilangan set. Konsistensi ini penting mengingat turnamen Grand Slam menuntut ketahanan fisik dan mental yang ekstra. "Saya pikir saya bermain sangat baik hari ini. Saya tampil percaya diri sejak awal dan fokus sepanjang pertandingan," ujar Fritz dalam konferensi pers usai laga, seperti dikutip Channel News Asia.
Fritz memang dikenal sebagai salah satu pemain dengan servis dan groundstroke mematikan. Namun, yang membuatnya berbahaya di US Open tahun ini adalah kemampuannya mengelola energi. Ia sadar betul bahwa turnamen dua pekan ini bisa menguras tenaga, terutama jika harus melalui lima set. "Penting untuk tidak memforsir diri di awal-awal pertandingan. Satu hari istirahat tidak cukup untuk pulih dari laga lima set," tambahnya.
Kemenangan telak ini juga memberi dampak psikologis. Fritz mengaku kepercayaan dirinya meningkat dibanding setelah laga pertama. Ia kini menatap babak ketiga dengan modal berharga, di mana ia akan berhadapan dengan Francisco Cerundolo, unggulan ke-24 asal Argentina. Pertemuan ini diprediksi menjadi ujian sesungguhnya bagi Fritz, mengingat Cerundolo adalah petenis tangguh di lapangan keras.
Bagi publik tenis Indonesia, performa Fritz menarik untuk disimak bukan hanya karena kualitasnya, tetapi juga karena ia mewakili generasi baru petenis Amerika yang mencoba memecah dominasi Eropa. Di tengah maraknya turnamen di Asia, termasuk Indonesia yang mulai menggelar turnamen internasional, kebangkitan petenis seperti Fritz bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air untuk menembus level tertinggi.
Terlepas dari itu, perjalanan Fritz masih panjang. Ia belum memenangkan satu pun gelar Grand Slam, meski pernah menjadi runner-up di US Open 2024. Tekanan untuk mengakhiri puasa gelar Amerika selama 23 tahun jelas membebaninya. Namun, dengan performa seperti sekarang, ia menunjukkan bahwa dirinya layak diperhitungkan. Pertanyaannya, akankah ia mampu mempertahankan konsistensi ini hingga partai puncak? Atau akankah ada kejutan dari petenis lain yang menghentikan lajunya? Kita tunggu saja.



