100 Influencer di US Open Picu Perdebatan: Antara Modernisasi dan Etiket Tenis
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 100 kreator konten mendapat akreditasi khusus di US Open 2025, dua kali lipat dari tahun lalu, memicu perdebatan tentang keseimbangan antara atraksi baru dan tradisi tenis.
- Insiden seperti pemotretan dengan ring light saat Naomi Osaka bertanding memaksa wasit turun tangan, sementara pemain seperti Jessica Pegula menyebut perilaku tersebut 'tidak sopan'.
- USTA merespons dengan meningkatkan imbauan di layar stadion dan menegaskan komitmennya untuk menjaga pengalaman menonton tanpa mengorbankan esensi kompetisi.

New York, 30 Agustus 2025 โ Gelaran Grand Slam Amerika Serikat tahun ini tidak hanya menyajikan aksi para petenis papan atas, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar tentang bagaimana olahraga yang sarat tradisi ini beradaptasi dengan era digital. Sekitar 100 influencer dan kreator konten telah diberikan akreditasi khusus untuk meliput turnamen di Arthur Ashe Stadium, jumlah yang dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah ini, yang diambil oleh Asosiasi Tenis Amerika Serikat (USTA), bertujuan menjaring generasi baru penggemar, namun justru memicu perdebatan sengit mengenai batas antara hiburan dan penghormatan terhadap etiket tenis.
Kehadiran para kreator konten ini memang membawa angin segar. Mereka mampu menjangkau jutaan pengikut di platform seperti TikTok dan Instagram, memperkenalkan tenis kepada audiens yang mungkin tidak pernah menonton pertandingan sebelumnya. Namun, di sisi lain, beberapa insiden selama pekan pertama turnamen menunjukkan bahwa kebebasan ini kerap mengganggu konsentrasi pemain. Salah satu momen yang menjadi sorotan terjadi saat Naomi Osaka, juara dua kali US Open, menjalani laga babak pertama. Sekelompok influencer melakukan pemotretan di suite mereka dengan menyalakan ring light tepat ketika Osaka bersiap melakukan servis. Wasit terpaksa menegur mereka, dan saat Osaka kembali bertanding pada hari Kamis, wasit berulang kali harus meminta penonton untuk tenang.
Osaka, yang dikenal tenang di lapangan, mengaku gangguan tersebut cukup mengganggu. "Hari ini wasit menyuruh semua orang untuk diam lebih sering daripada yang pernah saya dengar," ujarnya. "Saya biasanya fokus pada pertandingan, tapi ada momen di mana orang-orang berteriak dan terdengar jelas. Saya pikir itu juga mengganggu lawan saya." Pernyataan ini menggambarkan dilema yang dihadapi penyelenggara: bagaimana memanfaatkan popularitas influencer tanpa mengorbankan kualitas pertandingan yang menjadi inti turnamen.
Pendapat para pemain terbelah. Coco Gauff, petenis peringkat empat dunia, menyambut baik kehadiran demografi baru ini, tetapi mengingatkan pentingnya mengikuti aturan main. "Jika Anda diundang ke karpet merah, Anda tidak akan datang dengan jeans," katanya, menekankan bahwa etiket adalah bagian dari menghormati olahraga. Sementara itu, Daniil Medvedev, yang pernah bersitegang dengan penonton New York, justru melihat sisi positif. "Semakin banyak yang kita lakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang tenis, semakin baik. Saya percaya pada USTA," ujarnya. Namun, Jessica Pegula, petenis Amerika peringkat tiga dunia, menilai perilaku sebagian influencer sudah melampaui batas. "Saya bisa menghargai mereka datang untuk memamerkan pengalaman US Open, tapi ketika mereka mengambil gambar dengan lampu selfie di tengah pertandingan, itu terasa tidak sopan. Orang-orang di lapangan sedang berusaha tampil maksimal, itu karier mereka," tegasnya.
- Arthur Ashe Stadium, stadion tenis terbesar di dunia, memiliki kapasitas lebih dari 23.000 penonton.
- Jumlah influencer yang diakreditasi mencapai 100 orang, dua kali lipat dari edisi 2024.
- US Open memperpanjang turnamen menjadi 15 hari dan memperkenalkan 'Fan Week' untuk menarik pengunjung.
- USTA telah meningkatkan pesan di layar stadion yang mengingatkan penonton untuk tidak menggunakan lampu kilat atau ring light selama pertandingan.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran berharga. Turnamen seperti Indonesia Terbuka atau even lokal lainnya bisa mengambil inspirasi dari upaya US Open untuk menjangkau audiens muda melalui kreator konten. Namun, perlu ada regulasi yang jelas agar kehadiran mereka tidak mengganggu jalannya pertandingan. Di Indonesia, di mana tenis masih berusaha bangkit dari keterpurukan, keseimbangan antara hiburan dan sportivitas menjadi kunci untuk menarik minat tanpa kehilangan esensi olahraga.
Menanggapi insiden tersebut, USTA mengeluarkan pernyataan yang menegaskan komitmennya untuk terus mencari cara menjangkau penggemar baru, namun tetap memastikan mereka tidak mengganggu aksi di lapangan. Craig Tiley, CEO turnamen, bahkan bercita-cita menjadikan US Open sebagai "Disneyland-nya tenis", sebuah tempat di mana hiburan dan olahraga berpadu sempurna. Namun, pertanyaannya, mampukah US Open menjaga keseimbangan ini di tengah derasnya arus konten digital? Atau justru etiket tenis yang selama ini dijunjung tinggi akan tergerus oleh kebutuhan akan popularitas? Jawabannya mungkin akan menentukan arah masa depan tenis profesional, tidak hanya di Amerika, tetapi juga di seluruh dunia.



