Amy Hunt Cetak Waktu Terbaik Musim di Brussels, Sinyal Kuat Menuju Ultimate Championships
Baca dalam 60 detik
- Sprinter Inggris Amy Hunt finis ketiga 200m di final Diamond League Brussels dengan catatan 22,16 detik, hanya 0,08 detik dari rekor pribadinya.
- Hasil ini menegaskan tren positif Hunt setelah meraih empat medali emas di Kejuaraan Eropa Birmingham, sekaligus menempatkannya sebagai ancaman serius di ajang Ultimate Championships Budapest.
- Dengan jadwal padat yang dijalaninya, Hunt membuktikan metode latihan 400 meter dengan pemulihan singkat efektif untuk kompetisi beruntun, menjadi sorotan jelang musim 2026.

Brussels, 14 September 2025 โ Amy Hunt, sprinter andalan Inggris, kembali menunjukkan performa impresif di penghujung musim dengan mencatatkan waktu terbaiknya tahun ini, 22,16 detik, pada nomor 200 meter di final Diamond League. Catatan tersebut hanya terpaut 0,08 detik dari rekor pribadinya dan cukup untuk mengantarnya finis di posisi ketiga, di belakang Julien Alfred dari St. Lucia yang menjadi juara dengan 21,79 detik, serta Kayla White dari Amerika Serikat yang mencatat 22,00 detik.
Bagi Hunt, hasil ini bukan sekadar angka. Ia menyebut tikungan yang dijalaninya sebagai salah satu yang terbaik dalam kariernya, meski kelelahan di 20 meter terakhir sempat memperlambat lajunya. "Saya sangat bangga dengan pencapaian ini. Tikungan tadi mungkin yang terbaik yang pernah saya lakukan, jika bukan yang terbaik. Saya bisa merasakan jarak dengan Julien sangat dekat, tetapi musim yang panjang akhirnya terasa di akhir balapan," ujarnya kepada BBC World Service.
Finis ketiga di Brussels menjadi bukti nyata peningkatan konsistensi Hunt. Sebelumnya, ia hanya mampu menempati posisi kelima dan keenam pada dua edisi final Diamond League sebelumnya. Kini, dengan empat medali emas yang diraihnya di Kejuaraan Eropa Birmingham bulan lalu, Hunt menjelma menjadi salah satu sprinter paling bersinar di Eropa. Ia juga dijadwalkan turun di nomor 100 meter pada Sabtu malam, bersaing dengan peraih perak Olimpiade Sha'Carri Richardson, sebelum berencana tampil ganda di ajang perdana Ultimate Championships di Budapest yang dimulai 11 September.
Metode latihan yang tidak lazim menjadi kunci ketahanan Hunt. "Kami berlatih di atas 400 meter dan waktu pemulihan terlama di sesi musim dingin hanya 45 detik. Saya melakukan repetisi panjang secara beruntun, dan itu memungkinkan saya menjalani jadwal yang sangat padat ini," jelas Hunt. Pendekatan ini jelas berbeda dari kebanyakan sprinter yang fokus pada kecepatan murni, namun terbukti efektif untuk kompetisi beruntun.
Di sisi lain, final Brussels juga menyajikan drama di nomor lain. Matt Hudson-Smith harus puas di posisi kelima pada 400 meter, jauh di belakang juara dunia asal Botswana, Collen Kebinatshipi. Sementara di 1500 meter, Cameron Myers asal Australia yang baru berusia 20 tahun tampil memukau dengan mengalahkan remaja Kenya, Phanuel Koech, dalam duel yang diprediksi akan menjadi rivalitas panjang. Di nomor 100 meter, Oblique Seville merebut gelar dengan catatan 9,90 detik, sedangkan Emmanuel Wanyonyi dari Kenya memenangkan gelar Diamond League keempatnya secara beruntun di nomor 800 meter.
Kabar kurang menggembirakan datang dari bintang lompat galah, Armand 'Mondo' Duplantis, yang memilih mundur dari final karena cedera. Absennya Duplantis membuka peluang bagi rivalnya, Emmanouil Karalis dari Yunani, yang sukses melesat hingga 6,12 meter dan menang. Sementara itu, Noah Lyles, juara Olimpiade 100 meter, dipastikan absen di Ultimate Championships akibat cedera, sebuah pukulan bagi ajang yang baru lahir tersebut.
Bagi penggemar atletik di Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak. Meski belum ada atlet Indonesia yang berlaga di level ini, konsistensi Hunt dan rivalitas baru seperti Myers vs Koech menunjukkan bahwa regenerasi sprinter dunia berjalan cepat. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi pembinaan atletik nasional yang kerap kesulitan dalam hal periodisasi latihan dan manajemen kompetisi. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu mengadopsi metode latihan modern seperti yang dilakukan Hunt untuk melahirkan sprinter kelas dunia?



