Beau Greaves Cetak Sejarah di European Tour: Kemenangan Perdana Wanita Setelah 15 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Greaves menaklukkan Daryl Gurney 6-4 di Czech Open, menjadi wanita pertama yang memenangi laga di European Tour PDC.
- Prestasi ini menambah deretan pencapaiannya, termasuk gelar ranking PDC dan sembilan-dart finish di ProTour.
- Kemenangan ini membuka jalan bagi Greaves untuk menghadapi Luke Humphries, dan menandai perubahan lanskap darts profesional.

Beau Greaves, pelempar panah asal Doncaster, mencatatkan namanya dalam buku sejarah darts internasional. Pada ajang Czech Open yang berlangsung di Praha, ia mengalahkan Daryl Gurney dengan skor 6-4. Kemenangan ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah tonggak: untuk pertama kalinya dalam 15 tahun sejarah European Tour, seorang wanita berhasil memenangi pertandingan. Prestasi ini sekaligus menjawab keraguan yang selama ini melekat pada kompetisi darts yang didominasi pria.
Perjalanan Greaves di turnamen ini tidak mudah. Pekan sebelumnya, dalam debutnya di European Tour Hungaria, ia harus mengakui keunggulan Rob Cross dengan selisih tipis 5-6. Namun, di Praha, ia menunjukkan mentalitas juara. Sempat tertinggal 1-3 dari Gurneyโyang sebelumnya mengalahkannya di Piala Dunia PDC Desember laluโGreaves bangkit dengan tiga leg beruntun yang impresif: 14, 13, dan 11 darts. Meski Gurney sempat menyamakan kedudukan 4-4, Greaves akhirnya menuntaskan laga dengan kemenangan meyakinkan.
Bagi pengamat darts, kemenangan ini adalah puncak dari serangkaian pencapaian yang telah diraih Greaves sepanjang 2024. Pada April lalu, ia menjadi wanita pertama yang memenangi gelar ranking PDC setelah mengalahkan Michael Smith. Dua bulan sebelumnya, ia juga mencatat sejarah sebagai wanita pertama yang berhasil melakukan sembilan-dart finish di PDC ProTour, saat mengalahkan Mensur Suljovic. Belum lagi gelar Women's World Matchplay ketiganya yang direbut pada Juli, mengungguli Fallon Sherrock.
Kemenangan bersejarah ini tidak hanya bermakna bagi Greaves secara pribadi, tetapi juga bagi perkembangan darts wanita secara global. Dalam wawancara usai laga, Greaves mengaku sempat gugup di awal pertandingan. "Saya tidak tahu kenapa, butuh waktu lama untuk merasa nyaman, tetapi akhirnya saya berhasil melakukan yang terbaik," ujarnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada penonton yang memberikan dukungan luar biasa. "Mereka membuat saya merasa seperti di rumah sendiri," tambahnya.
Bagi Indonesia, fenomena Greaves bisa menjadi inspirasi bagi atlet panah atau olahraga lain yang kerap dianggap maskulin. Meskipun darts belum populer di Tanah Air, kisah Greaves menunjukkan bahwa batasan gender di dunia olahraga semakin terkikis. Ini sejalan dengan tren global yang mendorong kesetaraan di berbagai cabang olahraga, termasuk yang selama ini didominasi pria. Federasi olahraga di Indonesia pun bisa belajar dari bagaimana PDC memberikan ruang kompetitif bagi atlet wanita.
Langkah Greaves berikutnya adalah menghadapi Luke Humphries, pemain peringkat dua dunia, pada babak kedua yang akan berlangsung Sabtu. Greaves mengakui tantangan ini akan menjadi ujian terbesarnya. "Saya pernah bermain melawan Luke di panggung besar, jadi saya tahu apa yang harus saya hadapi. Dia pemain kelas dunia, dan saya harus tampil lebih baik dari malam ini," ujarnya. Ia menambahkan, "Tidak ada yang lebih saya inginkan selain bermain melawan salah satu pemain terbaik di European Tour. Saya akan menantikan pertandingan itu dan siap bertarung."
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah kemenangan ini akan membuka pintu bagi lebih banyak wanita untuk bersaing di level tertinggi darts? Dengan semakin seringnya Greaves tampil di panggung utama, ia tidak hanya memperkuat posisinya, tetapi juga menjadi pionir yang menginspirasi generasi baru pelempar panah wanita. Jika ia mampu mengalahkan Humphries, bukan tidak mungkin ia akan menjadi kandidat kuat untuk merebut gelar juara dunia suatu saat nanti. Semua mata kini tertuju pada Praha, menanti apakah Greaves mampu melanjutkan tren positifnya.



