Dua Pekerja Hidup dari Terowongan Hidroelektrik Nepal: Keajaiban di Tengah Duka Banjir Himalaya
Baca dalam 60 detik
- Setelah sepuluh hari terjebak di bawah reruntuhan, dua teknisi proyek Trishuli 3A dievakuasi dalam kondisi selamat, memicu harapan baru di tengah krisis kemanusiaan yang menewaskan lebih dari 1.200 orang.
- Operasi penyelamatan yang melibatkan tim internasional ini mengandalkan deteksi suara samar dari dalam terowongan, sebuah metode yang pernah berhasil menyelamatkan 41 pekerja di India pada 2023.
- Bencana yang dipicu longsoran es dan batu di perbatasan China-Nepal ini menyoroti kerentanan infrastruktur energi di kawasan rawan bencana, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi proyek serupa di Indonesia.

Di tengah duka mendalam yang menyelimuti Nepal pasca-banjir bandang dahsyat, secercah harapan muncul saat dua pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Trishuli 3A berhasil ditarik hidup-hidup dari dalam terowongan yang terkubur material longsor, Jumat (4/9). Keduanya adalah Sanjay Shah (30), mandor mekanik, dan Kabir Maharjan (45), supervisor mekanik, yang selamat setelah sepuluh hari terperangkap di bawah tumpukan puing.
Momen dramatis itu terekam dalam video yang dirilis Kementerian Energi Nepal. Terlihat seorang pria muncul dari celah berlumpur, kemudian dituntun dan digendong oleh tim penyelamat menuju helikopter. Rekan lainnya dievakuasi dengan tandu, tangan bertumpu dalam doa. “Saya sangat bahagia, hati saya terasa ringan,” ujar Amir Maharjan, saudara dari Kabir, kepada AFP. Keberhasilan ini disebut sebagai “keajaiban” oleh para petugas, mengingat hingga Jumat pagi belum ada satu pun pekerja terowongan yang dipastikan selamat.
Peristiwa ini bermula pada 26 Agustus lalu, ketika longsoran es dan batu besar di pegunungan perbatasan China-Nepal memicu gelombang lumpur dan puing yang menghantam sejumlah distrik. Lebih dari 12 proyek PLTA rusak parah, dan ratusan pekerja dilaporkan hilang. Pemerintah Nepal awalnya memperkirakan lebih dari 100 pekerja mungkin masih hidup di dalam beberapa terowongan. Namun, upaya pencarian terus terhambat oleh dinding puing yang memadat, dan tim penyelamat yang dibantu ahli dari India, China, dan Korea Selatan harus bekerja ekstra keras.
Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudan Gurung, mengonfirmasi identitas kedua korban selamat. Sementara itu, Angkatan Darat Nepal menyatakan keduanya tengah menjalani perawatan medis dan operasi pencarian masih berlanjut. Arnold Dix, pakar penyelamatan terowongan asal Australia yang turut mendukung operasi dari jarak jauh, mengungkapkan bahwa tim di Trishuli 3A sempat mendengar respons samar dari dalam terowongan. “Mereka percaya ada jawaban samar dari dalam yang mengatakan ‘hunchha’, ya atau oke,” kata Dix, presiden International Tunnelling and Underground Space Association, yang juga dikenal karena perannya dalam penyelamatan 41 pekerja India di terowongan Silkyara pada 2023. Tim telah menggali puing sepanjang 50 hingga 60 meter dan berharap tembus kapan saja. Kurang dari satu jam setelah komunikasi itu, kedua pekerja berhasil dikeluarkan.
Bencana ini telah meluluhlantakkan wilayah pegunungan Nepal. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menyebut gelombang raksasa yang dipicu longsoran batu dan es itu sebagai “tsunami Himalaya”. Banjir merobek jalan, jembatan, dan bendungan, menyisakan lanskap yang bagaikan puzzle kehilangan bagian-bagiannya. Desa-desa yang indah dengan sawah hijau kini berubah menjadi hamparan tanah tandus. Komunitas di dekat episentrum masih terisolasi, dan PBB memperingatkan bahwa “besarnya kehancuran” membuat pengiriman bantuan menjadi tantangan besar. “Akses sangat, sangat, sangat sulit,” kata Lila Pieters Yahia, koordinator PBB di Nepal. Kargo drone dan porter tengah dipertimbangkan untuk menjangkau daerah terpencil.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan risiko besar pembangunan infrastruktur di daerah rawan bencana. Negeri ini juga tengah giat membangun PLTA, terutama di wilayah pegunungan seperti Sulawesi dan Sumatera, yang memiliki potensi longsor dan gempa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan kejadian longsor setiap tahunnya. Kejadian di Nepal menunjukkan pentingnya sistem peringatan dini, desain terowongan yang tahan terhadap tekanan geologis, serta protokol penyelamatan yang cepat dan efektif. Pengalaman Arnold Dix dalam menyelamatkan pekerja di India dan Nepal dapat menjadi referensi berharga bagi pengembangan kapasitas tim SAR Indonesia.
Di tengah upaya penyelamatan yang masih berlangsung, sebagian keluarga korban yang belum menemukan sanak saudaranya mulai menggelar upacara pemakaman simbolis, sebuah tanda meredupnya harapan. Namun, keberhasilan penyelamatan dua pekerja ini memberikan sedikit pelipur lara. Pertanyaannya kini, apakah masih ada lagi keajaiban serupa di balik tumpukan puing yang menyelimuti terowongan-terowongan lain? Operasi pencarian terus berlanjut, dan dunia menanti kabar baik berikutnya dari Nepal.



