Karhutla Gunung Ungup-Ungup Meluas ke Bondowoso, Kawah Ijen Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan di Gunung Ungup-Ungup, Jawa Timur, telah meluas hingga 20 hektare dan menembus wilayah Bondowoso, memicu penutupan sementara Kawah Ijen.
- Medan terjal dan licin menghambat upaya pemadaman, sementara tim gabungan dari berbagai instansi masih berjuang mengendalikan api.
- Penutupan kawasan wisata Kawah Ijen menyoroti risiko karhutla terhadap sektor pariwisata dan keselamatan pengunjung di tengah musim kemarau.

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ungup-Ungup, Jawa Timur, kian meluas hingga menembus Kabupaten Bondowoso, memaksa pengelola menutup sementara Taman Wisata Alam Kawah Ijen sejak Jumat (4/9/2026). Luas area terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare, menyebar dari titik awal di Banyuwangi dan kini mengancam destinasi wisata ikonik yang berada di perbatasan dua kabupaten tersebut.
Api pertama kali terdeteksi pada Kamis (3/9) di lereng Gunung Ungup-Ungup, namun angin kencang dan vegetasi kering mempercepat perambatan. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Banyuwangi, BPBD Bondowoso, BKSDA Wilayah Banyuwangi, serta Perhutani telah dikerahkan untuk memadamkan api melalui jalur darat. Namun, medan yang terjal, licin, dan berbahaya menjadi kendala serius, membuat petugas kesulitan mendekati sejumlah titik api yang masih menyala.
Penutupan Kawah Ijen bukan sekadar langkah antisipatif; ini adalah keputusan yang diambil setelah mempertimbangkan keselamatan pengunjung dan personel. Petugas terus memantau pergerakan api di sepanjang jalur pendakian, karena potensi api menyebar ke area wisata sangat nyata. Bagi industri pariwisata lokal, penutupan ini menjadi pukulan telak, terutama saat musim kunjungan masih berlangsung. Kawah Ijen, yang terkenal dengan fenomena blue fire-nya, menarik ribuan wisatawan domestik dan mancanegara setiap bulannya, dan setiap hari penutupan berarti kerugian ekonomi bagi masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup pada sektor ini.
Kebakaran hutan di Jawa Timur bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Sepanjang musim kemarau, wilayah ini kerap dilanda karhutla, diperparah oleh praktik pembukaan lahan yang tidak terkendali. Menurut catatan BNPB, kebakaran hutan di Indonesia sering kali dipicu oleh faktor manusia, baik disengaja maupun tidak, dan musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering akibat fenomena El Nino. Kondisi ini membuat hutan di kawasan tersebut sangat rentan, dan upaya pencegahan menjadi kunci untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
BNPB telah mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi penutupan kawasan serta ketentuan yang ditetapkan pengelola. Mereka yang melihat titik api atau kepulan asap diminta segera melaporkan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Imbauan ini menegaskan bahwa peran serta masyarakat sangat vital dalam upaya pengendalian kebakaran, mengingat keterbatasan akses dan personel di lapangan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana pemerintah daerah dan pengelola kawasan wisata dapat memperkuat sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap karhutla. Apakah penutupan Kawah Ijen akan berlangsung lama, dan bagaimana dampaknya terhadap kepercayaan wisatawan? Skenario terburuk adalah jika api mencapai area blue fire, yang akan mengancam ekosistem unik tersebut. Namun, dengan koordinasi yang solid dan dukungan masyarakat, diharapkan api dapat segera dipadamkan dan kawasan wisata dapat kembali dibuka, meski pelajaran berharga tentang pengelolaan risiko bencana harus terus diingat.



