Banjir Bandang Himalaya: Tim Penyelamat Nepal Berlomba Lawan Waktu di Terowongan PLTA
Baca dalam 60 detik
- Dua pekerja berhasil dievakuasi hidup-hidup dari terowongan Trishuli 3A setelah sembilan hari terjebak, memicu optimisme di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung.
- Bencana yang dipicu longsoran gletser ini telah menewaskan sedikitnya 1.311 orang di Nepal dan Tibet, dengan lebih dari 5.300 lainnya masih hilang, termasuk warga asing dari 34 negara.
- Para ahli mendesak perbaikan sistem peringatan dini di kawasan pegunungan, menyusul bukti ketidakstabilan gletser yang terdeteksi sebelum kejadian.

Operasi pencarian dan pertolongan di Nepal memasuki babak krusial setelah tim penyelamat berhasil menarik dua pekerja keluar dari terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Trishuli 3A dalam kondisi hidup, sembilan hari pasca-banjir bandang dahsyat yang melanda kawasan perbatasan dengan Tibet, China. Keberhasilan ini membuka secercah harapan di tengah kepastian jumlah korban yang terus bertambah, dengan lebih dari 150 orang masih dikhawatirkan terjebak di tujuh terowongan PLTA lain.
Banjir yang dipicu oleh longsoran gletser pada 26 Agustus lalu itu menyapu bersih lembah Himalaya, meratakan desa-desa, dan menghancurkan infrastruktur vital. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 1.311 orang tewas dan 5.330 lainnya hilang di Nepal dan Tibet. Yang memprihatinkan, ratusan warga asing dari 34 negara dilaporkan ikut hilang, menjadikan bencana ini sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah kawasan tersebut. Di sisi Tibet, otoritas China masih belum memberikan rincian lengkap mengenai korban jiwa dan dampak terhadap warga lokal, hanya menayangkan kehancuran melalui media pemerintah.
Di Nepal, fokus penyelamatan tertuju pada tujuh terowongan PLTA yang menjadi lokasi pekerja terjebak, termasuk Trishuli 3A yang menjadi saksi drama penyelamatan Jumat lalu. Tim penyelamat mendengar suara samar dari dalam terowongan dan meneriakkan, "Jangan khawatir, kami di sini untuk menyelamatkan kalian," yang kemudian dijawab dengan lirih "oke". Dua pekerja, Sanjaya Shah dan Kabir Maharjan, ditemukan dengan luka di tangan dan kaki, diduga akibat merangkak di dalam terowongan. Keduanya segera diterbangkan ke Rumah Sakit Angkatan Darat di Kathmandu, dengan Maharjan dalam kondisi kritis. Jenazah orang ketiga juga ditemukan di terowongan yang sama, namun sulit diidentifikasi karena kondisinya membengkak.
Operasi penyelamatan berjalan tidak mudah. Kolonel Jhabindra Reshmi, yang memimpin tim penyelamat, mengungkapkan bahwa lumpur dan bebatuan menyulitkan akses ke dalam terowongan, memaksa tim untuk menggali lubang masuk baru. Mesin berat yang hanyut terbawa banjir juga memperlambat upaya pembersihan. Meski demikian, para insinyur terus memompa udara ke dalam terowongan untuk menjaga harapan hidup para korban. Uttam Bhlon Lama, wakil presiden Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal, menilai penyelamatan dua pekerja itu akan "memotivasi tim penyelamat untuk bekerja lebih keras", namun ia mengingatkan bahwa "ketinggian air masih sangat tinggi".
Bencana ini tidak hanya menimbulkan duka bagi Nepal dan China, tetapi juga menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur di kawasan rawan bencana. Bagi Indonesia, yang juga memiliki banyak wilayah pegunungan dan rawan longsor, peristiwa ini menegaskan pentingnya sistem peringatan dini yang andal dan tata kelola risiko bencana yang matang. Para ahli dari Asian Mountain Academic Alliance, Stimson Centre, dan Institute of Mountain Hazards and Environment China menemukan bukti adanya ketidakstabilan gletser yang meningkat beberapa hari sebelum longsor. Mereka menilai sistem peringatan dini yang lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa.
Pemerintah Nepal telah mengeluarkan peringatan akan potensi banjir susulan akibat hujan yang masih mengguyur kawasan tersebut. Sementara itu, tim penyelamat di Tibet tampaknya lebih fokus pada bantuan bagi para penyintas daripada mencari korban yang mungkin masih hidup. Pertanyaan besar yang kini menggantung: apakah operasi penyelamatan di Nepal mampu menemukan lebih banyak korban selamat di tengah kondisi yang semakin sulit? Atau, apakah bencana ini akan menjadi momentum bagi negara-negara Asia untuk berinvestasi lebih serius dalam mitigasi bencana iklim?



