Ujian Kedua yang Menakutkan: Australia Waspadai Kebangkitan Argentina di Mendoza
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Les Kiss menegaskan Wallabies tak boleh lengah menghadapi Argentina di laga kedua meski memimpin seri 1-0.
- Rotasi besar dilakukan Australia untuk menjaga kebugaran pemain jelang laga berat melawan Afrika Selatan dan Selandia Baru.
- Catatan buruk Australia di laga tandang kedua melawan Argentina menjadi peringatan keras bagi tim tamu.

Pelatih Australia, Les Kiss, mengakui laga kedua melawan Argentina pada Sabtu (7/9) di Mendoza akan menjadi ujian yang 'menakutkan' bagi timnya. Meski memimpin seri 1-0 setelah kemenangan tipis 27-21 di San Salvador de Jujuy akhir pekan lalu, Kiss menolak berpuas diri. Ia sadar betul bahwa sejarah pertemuan kedua tim di Argentina kerap berakhir pahit bagi kubu tamu.
Sejak mengambil alih kursi pelatih dari Joe Schmidt pada akhir Juli, Kiss memang berhasil membawa Wallabies meraih tiga kemenangan beruntun. Namun, torehan itu belum cukup untuk membuatnya tenang. "Arah tim sudah solid, tapi kami tidak akan terbawa euforia," ujarnya kepada wartawan di Argentina, Jumat (6/9). "Laga akhir pekan ini menakutkan karena ini tes kedua. Tidak banyak tim yang mampu melakukannya dua kali berturut-turut, dan kita tahu apa yang terjadi terakhir kali."
Pernyataan Kiss merujuk pada kekalahan telak 27-67 yang dialami Australia pada laga kedua tur Argentina tahun 2024. Saat itu, Wallabies yang sempat menang di laga pertama justru dihancurkan Pumas di laga penentu. Argentina, dengan lini depan yang agresif dan dukungan publik yang fanatik, memang selalu tampil berbeda saat bermain di kandang sendiri.
"Ini tim Argentina yang sangat bagus. Mereka punya lock dan pemain belakang yang besar. Jika kita memberi mereka celah, mereka akan memanfaatkannya berulang kali," tambah Kiss. "Kami harus tampil disiplin dan tidak memberi mereka kesempatan untuk mengontrol permainan."
Menghadapi laga ini, Kiss kembali melakukan rotasi besar-besaran. Ben Donaldson akan mengisi posisi flyhalf menggantikan Carter Gordon yang mengalami luka di kepala pada laga sebelumnya. Sementara di sektor belakang, Len Ikitau dan Joseph Suaalii akan menjadi duet centre, dan Filipo Daugunu menggantikan Harry Potter di sayap kiri. Perubahan juga terjadi di lini depan dengan masuknya Harry Wilson sebagai kapten tim, menggeser Rob Valetini ke posisi flanker.
Rotasi ini bukan tanpa alasan. Australia memiliki jadwal padat setelah laga ini, yakni menghadapi juara dunia Afrika Selatan dan dua kali bertemu Selandia Baru di Nations Championship. Kiss ingin memastikan semua pemain dalam kondisi prima dan tidak kelelahan. "Kami harus pandai mengelola energi tim," kata Kiss. "Setiap pemain harus siap berkontribusi."
Meski lini belakang Australia dihuni banyak pemain bertalenta, performa mereka di bawah Kiss belum benar-benar moncer. Sejauh ini, Wallabies lebih banyak mengandalkan kekuatan lini depan untuk memenangkan pertandingan. Kiss pun menekankan pentingnya pengambilan keputusan yang tepat saat membangun serangan. "Tidak ada yang bisa langsung mengalir dalam rugby tes. Kami harus menciptakan peluang dan memanfaatkannya dengan baik," jelasnya.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana tim-tim besar dunia mengelola tekanan dan strategi. Australia, yang kerap dianggap sebagai kekuatan utama belahan bumi selatan, sedang diuji konsistensinya. Sementara Argentina membuktikan bahwa mereka bukan tim sembarangan, terutama saat bermain di depan pendukung sendiri.
Pertanyaan besarnya, mampukah Australia mematahkan kutukan laga kedua di Argentina? Atau justru Pumas akan membalas kekalahan mereka dengan performa yang lebih garang? Laga ini akan menjadi jawaban apakah Kiss benar-benar telah membawa perubahan signifikan bagi Wallabies, atau hanya sekadar keberuntungan belaka.



