SCO di Persimpangan: Agenda Xi, Putin, dan Modi yang Saling Menjauh di Usia Seperempat Abad
Baca dalam 60 detik
- KTT SCO di Bishkek menampilkan tiga pemimpin besar dengan prioritas kontradiktif, dari kritik terorisme hingga ajakan damai.
- Organisasi yang mewakili seperempat populasi dunia ini belum mampu menjadi penengah konflik antaranggota, hanya panggung bilateral.
- Pergeseran fokus Xi ke Kairo dan BRICS mengisyaratkan menurunnya nilai strategis SCO bagi Beijing.

Dua puluh lima tahun Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) dirayakan di Bishkek, Kirgistan, dengan segala kemegahan protokoler: 21 kepala negara dan pemerintahan berfoto bersama, menandatangani Deklarasi Bishkek setebal dua halaman, serta 28 kesepakatan lain termasuk penguatan kemitraan keselamatan nuklir. Namun di balik seremoni itu, pertemuan tahunan ini justru memperlihatkan keretakan yang semakin dalam di antara tiga kekuatan utamanya: China, Rusia, dan India.
Bagi pengamat hubungan internasional, SCO memang lebih berfungsi sebagai wadah bilateral ketimbang organisasi multilateral sejati. Dalam seperempat abad, blok yang mewakili sekitar 23-25 persen PDB global ini belum pernah mampu menyelesaikan sengketa antaranggota—bahkan yang terjadi di luar ruang sidang. Setiap pemimpin datang dengan agenda domestiknya masing-masing, dan Bishkek menjadi panggung untuk menyampaikan pesan yang lebih ditujukan ke publik di dalam negeri daripada ke sesama peserta KTT.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, tampil paling ofensif. Di hadapan PM Pakistan Shehbaz Sharif, Modi menegaskan tidak ada tempat bagi standar ganda dalam memerangi terorisme dan menyerukan pembongkaran ekosistem pendanaan serta rekrutmen teroris. Meski tidak menyebut nama, semua hadirin memahami ini adalah sindiran langsung terhadap Pakistan. Lebih jauh, Modi juga menyinggung soal penghormatan kedaulatan dan integritas teritorial—sebuah pesan yang dapat dibaca sebagai kritik terhadap perang Rusia di Ukraina, koridor Belt and Road China yang melintasi Kashmir, serta klaim teritorial Pakistan.
Kepada Vladimir Putin, Modi menyampaikan pesan yang lebih personal. Setelah pelukan hangat khas mereka, PM India itu mengingatkan bahwa setiap hari perang mendorong umat manusia mundur dan mendesak transisi dari perang tanpa akhir menuju penghentian konflik. Ini bukan pertama kalinya Modi menekan Putin di depan publik; pada 2024 ia bahkan mengutuk serangan rudal Rusia yang menewaskan anak-anak Ukraina. Sikap ini mempertegas posisi India yang berusaha menjaga keseimbangan antara Barat dan Rusia, sambil tetap memosisikan diri sebagai pembela negara-negara Selatan.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, justru menjadi pemimpin dengan jadwal bilateral terpadat. Selain Modi dan Xi, ia bertemu presiden Iran, Tajikistan, Mongolia, Kirgistan, Kazakhstan, serta pemimpin Turki dan Armenia. Namun kesibukan ini bukan indikator kekuatan. Surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) membatasi ruang gerak Putin, membuatnya hanya bisa hadir di forum seperti SCO dan BRICS. Kondisi ini kontras dengan ambisinya sebagai pemimpin kekuatan besar yang pengaruhnya justru menurun di Suriah, Venezuela, hingga Mali.
Presiden China, Xi Jinping, memilih sikap berbeda: selektif dan efisien. Satu-satunya pertemuan bilateral yang dikonfirmasi hanyalah dengan Putin. Ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa Beijing mulai menganggap SCO kurang bernilai dibandingkan jalur bilateral langsung atau forum BRICS. Setelah Bishkek, Xi langsung terbang ke Kairo untuk kunjungan kenegaraan pertamanya ke Mesir dalam satu dekade—negara yang baru bergabung dengan BRICS pada 2024. BRICS sendiri akan menggelar KTT di New Delhi pada 12 September, yang tampaknya lebih menarik perhatian Beijing.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan. Sebagai negara yang pernah menjajaki kerja sama dengan SCO dan aktif di berbagai forum multilateral, Indonesia dapat menarik pelajaran bahwa organisasi seperti SCO lebih sering menjadi ajang unjuk kekuatan dan negosiasi bilateral ketimbang solusi kolektif. Ketika tiga poros utamanya saja tidak sejalan, efektivitas SCO dalam merespons isu global—termasuk keamanan energi dan stabilitas kawasan—menjadi pertanyaan besar. Indonesia justru bisa memanfaatkan posisinya yang non-blok untuk menjembatani kepentingan yang saling bertabrakan, tanpa harus terjebak dalam rivalitas internal SCO.
KTT Bishkek mungkin saja mencatatkan deklarasi dan kesepakatan, tetapi pesan sebenarnya adalah tentang bagaimana Xi, Modi, dan Putin menggunakan forum ini untuk mengejar agenda yang sepenuhnya berbeda. Mereka pulang tanpa menyelesaikan satu pun isu yang memisahkan mereka. Pertanyaannya kini: akankah SCO tetap relevan di tengah pergeseran pusat gravitasi diplomatik menuju BRICS dan jalur bilateral? Atau justru menjadi museum diplomasi abad ke-20 yang semakin ditinggalkan para pendirinya sendiri?



