Piala Dunia U-20 Wanita di Polandia: Bayang-bayang Krisis FIFA dan Masa Depan Infantino
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia U-20 Wanita 2026 di Polandia menjadi ajang pertama yang berpotensi terdampak gejolak kepemimpinan FIFA pasca gagalnya rencana investasi swasta.
- Kehadiran Gianni Infantino di laga pembuka masih tanda tanya, sementara tekanan untuk mundur dari UEFA, AFC, dan CONCACAF terus menguat.
- Turnamen ini menjadi panggung penting bagi pengembangan sepak bola wanita, dengan regulasi baru yang mewajibkan pelatih wanita di setiap tim.

Ketika sekitar 15.000 penonton bersiap memadati stadion di Katowice untuk menyaksikan laga pembuka Piala Dunia U-20 Wanita, satu pertanyaan masih menggantung: akankah Presiden FIFA Gianni Infantino hadir di tengah krisis kepemimpinan yang belum mereda? Turnamen yang berlangsung hingga 27 September ini menjadi ujian pertama bagi FIFA setelah rencana kontroversialnya menjual saham kompetisi kepada investor swasta gagal total pada akhir Juli lalu.
Rencana yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE) itu sempat mengguncang tatanan sepak bola global. Infantino mengusulkan pembentukan anak perusahaan baru yang akan mengelola hak komersial Piala Dunia pria, wanita, dan Piala Dunia Antarklub, dengan nilai bisnis ditaksir mencapai US$20 miliar. Investor luar dijanjikan kepemilikan saham senilai US$4,2 miliar. Namun, penolakan keras dari UEFA dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya memaksa pria asal Swiss itu menarik kembali usulannya pada 31 Juli.
Kegagalan FFE tidak hanya meninggalkan luka politik, tetapi juga memicu gelombang desakan mundur terhadap Infantino. UEFA, AFC, dan CONCACAF secara terang-terangan meminta presiden berusia 56 tahun itu untuk mengundurkan diri. Meski demikian, Infantino justru mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri kembali untuk periode keempat pada Kongres FIFA Maret 2027. Hingga kini, belum ada penantang resmi yang mendeklarasikan diri, namun UEFA menegaskan akan berupaya menyodorkan kandidat alternatif yang kredibel.
Di tengah pusaran politik FIFA, Piala Dunia U-20 Wanita di Polandia menjadi sorotan. Turnamen ini bukan sekadar ajang usia muda, melainkan batu loncatan bagi para pemain yang bercita-cita tampil di Piala Dunia Wanita senior di Brasil tahun depan. Sebanyak 24 tim dari enam konfederasi berlaga, dengan tuan rumah Polandia menghadapi Argentina di laga pembuka, disusul duel Meksiko kontra Benin. Untuk pertama kalinya, FIFA memberlakukan aturan yang mewajibkan setiap tim memiliki pelatih kepala atau asisten pelatih wanita, sebuah langkah maju bagi kesetaraan gender di sepak bola.
Kehadiran Infantino di ajang ini masih menjadi tanda tanya. FIFA tidak memberikan konfirmasi resmi hingga Jumat lalu. Meski presiden FIFA kerap absen pada laga pembuka turnamen kelompok umur, sejak gagalnya FFE, Infantino justru tampil sangat aktif. Ia hadir pada penutupan Esports World Cup di Paris bulan lalu, tiga hari kemudian menyaksikan Vietnam menjuarai ASEAN Championship di Hanoi, dan sempat mengunjungi Republik Dominika saat turnamen U-14 CFU berlangsung. Kunjungan terakhir itu menuai kritik dari Presiden CONCACAF Victor Montagliani yang memintanya untuk tidak hadir, dengan alasan kontroversi yang membayangi Infantino dapat mengganggu fokus turnamen remaja tersebut.
Montagliani sendiri disebut-sebut sebagai kandidat potensial penantang Infantino, namun ia belum menyatakan maju. Batas waktu pendaftaran kandidat adalah 18 November, memberi waktu bagi dinamika politik untuk berkembang. Sementara itu, turnamen di Polandia tetap berjalan dengan semangat kompetisi. Korea Utara, juara bertahan sejak 2024, ditempatkan di pot unggulan bersama tuan rumah Polandia, Jepang, Spanyol, Brasil, dan Prancis. Pertandingan-pertandingan ini akan menjadi barometer perkembangan sepak bola wanita global, terlepas dari kekisruhan di tingkat puncak FIFA.
Bagi Indonesia, ajang ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi pada pembinaan usia muda, khususnya sepak bola wanita. Meski Timnas Wanita Indonesia belum menembus level ini, keberhasilan negara-negara Asia seperti Korea Utara dan Jepang menunjukkan bahwa konsistensi pembinaan sejak dini adalah kunci. Pertanyaan yang muncul: apakah PSSI dan pemerintah memiliki visi jangka panjang untuk membawa sepak bola wanita Indonesia bersaing di panggung dunia? Atau kita hanya akan menjadi penonton pasif di tengah hiruk-pikuk politik FIFA yang tak kunjung usai?



