Les Kiss Dapat Restu Pemain, Wallabies Bidik Kemenangan Kelima Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar Australia, Les Kiss, menuai pujian dari pemain setelah memimpin tiga kemenangan awal.
- Wallabies menatap laga kedua melawan Argentina dengan kepercayaan diri tinggi, di tengah persiapan menuju Piala Dunia 2027.
- Fokus tim disebut tetap pada proses internal, bukan tekanan eksternal, jelang turnamen besar di kandang sendiri.

Pelatih anyar Australia, Les Kiss, mendapat dukungan penuh dari skuad Wallabies menjelang laga kedua melawan Argentina di Mendoza, Sabtu (2/9). Kemenangan dalam tiga pertandingan perdananya menjadi modal berharga untuk memperpanjang tren positif menjadi lima kemenangan beruntun.
Winger cepat Max Jorgensen menilai Kiss, yang mengambil alih kursi pelatih dari Joe Schmidt bulan lalu, cepat membangun identitas tim. Di bawah asuhannya, Australia menaklukkan Jepang dua kali dan memenangi uji coba pertama melawan Argentina di San Salvador de Jujuy pekan lalu.
"Les luar biasa sejak bergabung. Semua tahu dia pelatih kelas dunia, dan tentu saja tiga kemenangan pertamanya luar biasa. Ada perubahan, dia membuat tim ini miliknya, tapi fondasi yang dibangun Joe selama dua tahun terakhir tetap terasa. Dia membawa keahliannya dan benar-benar mendorong kami," ujar Jorgensen dalam konferensi pers virtual, Selasa (30/8).
Kepercayaan diri skuad memang sedang tinggi. Sebelum Schmidt pamit dengan kemenangan atas Italia di Nations Championship akhir Juli, Australia sempat menelan sembilan kekalahan dari sepuluh laga. Kini atmosfer ruang ganti berubah total.
"Semua orang ingin berada di ruang ganti yang menang. Kiss terus menekankan pesan untuk fokus pada diri sendiri, proses kami, dan menjaga hal itu tetap internal tanpa membiarkan gangguan dari luar," tambah Jorgensen.
Laga akhir pekan ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Piala Dunia yang akan digelar di Australia kurang dari 13 bulan lagi. Jorgensen mengakui turnamen itu selalu ada di benak para pemain, tetapi prioritas tetap pada tugas terdekat.
Bagi pengamat rugbi di Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana pergantian pelatih bisa mengubah mentalitas tim secara drastis. Meski rugbi belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, prestasi tim-tim besar seperti Australia kerap menjadi sorotan komunitas penggemar yang terus tumbuh, terutama dengan siaran langsung pertandingan internasional yang semakin mudah diakses.
Kiss, yang sebelumnya dikenal sebagai asisten pelatih di berbagai klub Eropa, dinilai berhasil membawa pendekatan baru tanpa membuang warisan Schmidt. Kombinasi antara pengalaman dan sentuhan segar ini menjadi kunci kebangkitan Australia.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Wallabies mempertahankan konsistensi hingga Piala Dunia? Atau akankah tekanan ekspektasi publik justru menjadi bumerang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi langkah awal Kiss memberikan sinyal positif bagi masa depan rugbi Australia.



