Kontrak UFC Hampir Habis, Michael 'Venom' Page Menuntut Bukti di Paris
Baca dalam 60 detik
- Petarung asal Inggris, Michael Page, akan menjalani laga terakhirnya di bawah kontrak UFC saat menghadapi Nursulton Ruziboev di Paris, Sabtu (26/10).
- Page mengaku performanya di UFC belum sesuai ekspektasi, dengan semua kemenangannya diraih lewat keputusan juri, dan ia ingin menunjukkan kemampuan sebenarnya.
- Jika kalah atau menang tanpa knockout, masa depan Page di UFC bisa berubah, dengan opsi pindah ke promosi lain seperti Bellator atau PFL.

Michael 'Venom' Page akhirnya mendapat kesempatan untuk membuktikan nilainya di hadapan UFC. Petarung berusia 39 tahun itu akan menjalani laga pamungkas dalam kontraknya saat berhadapan dengan Nursulton Ruziboev di UFC Fight Night Paris, Sabtu (26/10) waktu setempat. Bagi Page, ini bukan sekadar pertarungan biasaโini adalah panggung untuk meyakinkan UFC bahwa dirinya layak dipertahankan.
Sejak bergabung dengan UFC pada 2024, Page mencatat rekor empat kemenangan dari lima pertarungan. Namun, semua kemenangan itu diraih melalui keputusan juri, tanpa satu pun kemenangan knockout atau submission. Gaya striking-nya yang atraktif belum mampu menghentikan lawan-lawannya. Hal ini menjadi sorotan utama, terutama karena Page dikenal sebagai petarung spektakuler di masa jayanya bersama Bellator.
Dalam wawancara menjelang laga, Page mengakui bahwa ia merasa belum memberikan yang terbaik. "Saya masih bersemangat berada di olahraga ini, tapi saya merasa belum memberikan apa yang saya inginkan," ujarnya. Ia juga menyiratkan adanya ketidakselarasan antara dirinya dan UFC. "Mungkin di awal saya merasa kami sejalan, tapi ada yang berubah. Tapi apa pun itu, tujuan saya tetap melangkah dan menendang wajah orang," tambahnya dengan nada bercanda.
Ketegangan antara Page dan UFC sebenarnya sudah terlihat dari frekuensi pertarungannya yang jarang. Sejak debut, Page hanya bertarung lima kali, dan ia kerap mempertanyakan mengapa UFC tidak menjadwalkannya lebih sering. Situasi ini diperparah dengan kepindahannya ke kelas menengah (middleweight) meski basisnya di welterweight. Dua kemenangan terakhirnya justru diraih di kelas menengah, melawan Sharabutdin Magomedov dan Jared Cannonier.
Di sisi lain, pertarungan yang dinanti-nanti melawan sesama petarung Inggris, Leon Edwards, tak kunjung terwujud. Padahal, duel all-British itu bisa menjadi magnet besar bagi UFC. Namun, hingga kini, rencana tersebut belum membuahkan hasil. Kini, Page harus fokus menghadapi Ruziboev, petarung asal Uzbekistan yang datang dengan reputasi mengerikan.
Ruziboev, 32 tahun, bukan lawan sembarangan. Ia tiba di UFC pada 2024 dengan catatan 20 kemenangan submission sepanjang karier MMA-nya. Dari 50 pertarungan yang sudah dijalaninya, ia mengoleksi 50 kemenangan, dengan empat di antaranya lewat stoppage di UFC. Meski berstatus underdog, Ruziboev punya modal untuk mengejutkan Page, terutama jika ia berhasil membawa pertarungan ke ground.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana seorang petarung top harus berjuang mempertahankan kariernya di panggung global. Page, yang pernah menjadi bintang di Bellator, kini berada di persimpangan jalan. Jika ia gagal tampil impresif, bukan tidak mungkin UFC akan melepasnya. Sebaliknya, jika ia berhasil menghentikan Ruziboev, ia bisa kembali diperhitungkan.
Page sendiri mengaku ingin duduk bersama manajemen UFC setelah laga ini untuk membahas masa depannya. "Saya ingin bertanya, apa yang kalian harapkan dari saya? Arah mana yang terbaik untuk saya? Apa yang kalian butuhkan dari saya?" katanya. "Saya lebih suka jika ada target yang jelas, lalu saya bisa menyerangnya." Sikap ini menunjukkan bahwa Page tidak ingin sekadar menjadi petarung bayaran, melainkan ingin berkontribusi maksimal.
Pertarungan melawan Ruziboev juga menjadi ujian nyata bagi Page di kelas menengah. Jika ia mampu mengatasi tekanan dan meraih kemenangan meyakinkan, ia bisa membuka peluang untuk mendapatkan pertarungan besar, termasuk melawan Leon Edwards. Namun, jika ia kembali menang lewat keputusan juri, kritik akan semakin deras.
Dengan status free agency yang mengintai, laga di Paris ini bisa menjadi titik balik karier Page. Apakah ia akan tetap di UFC dengan kontrak baru yang lebih baik, atau justru hengkang ke promosi lain? Jawabannya akan mulai terungkap setelah pertarungan usai. Satu hal yang pasti, Page tidak ingin meninggalkan UFC dengan kesan setengah hati.



