Shaughna Phillips: Love Island Bukan Pilihan Karier Ideal untuk Anak-Anak Saya
Baca dalam 60 detik
- Bintang reality TV asal Inggris itu mengaku tidak akan merekomendasikan industri hiburan kepada kedua putrinya karena sifatnya yang kompetitif dan tidak menentu.
- Meski mendukung penuh pilihan anak-anaknya, Shaughna lebih membayangkan mereka meniti karier di bidang yang lebih stabil, bahkan bercanda soal Downing Street.
- Ia juga belum siap memperkenalkan masa lalunya di Love Island kepada putri sulungnya yang kini berusia tiga tahun.

Shaughna Phillips, yang namanya melambung lewat ajang pencarian jodoh Love Island musim dingin pertama pada 2020, mengaku tidak akan menempatkan reality show tersebut sebagai pilihan karier utama bagi kedua putrinya, Lucia (3) dan Sofia (10 bulan). Meski demikian, ia menegaskan akan memberikan dukungan penuh bila suatu saat mereka memutuskan mengikuti jejaknya di dunia hiburan.
Perempuan 32 tahun itu menilai industri hiburan sangat kompetitif dan memiliki "masa kedaluwarsa". Dalam wawancara eksklusif dengan BANG Showbiz atas nama BetWright Casino, ia menganalogikan profesi ini dengan pesepak bola: harus memanfaatkan momentum sebaik mungkin karena peluang tidak datang dua kali. Ketidakpastian ini pula yang membuatnya merasa seperti berada di "roda hamster" selama enam tahun terakhir, dengan mengakui bahwa menjadi pekerja lepas bisa sangat menakutkan.
Shaughna, yang memiliki kedua anak dari mantan kekasihnya Billy Webb, mengaku lebih membayangkan buah hatinya menempuh jalur yang lebih mapan. "Saya lebih mengarahkan mereka ke Downing Street daripada vila Love Island," candanya. Meski bercanda, pernyataan itu merefleksikan kegelisahan banyak orang tua yang berkecimpung di industri kreatif: bagaimana menyeimbangkan dukungan terhadap mimpi anak dengan realitas profesi yang tidak stabil.
Fenomena ini juga relevan di Indonesia, di mana industri hiburan, termasuk reality show dan konten digital, semakin diminati generasi muda. Banyak orang tua dihadapkan pada dilema serupa: mendukung anak yang bercita-cita menjadi selebritas atau mengarahkan mereka ke profesi konvensional yang lebih terjamin. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka di kalangan lulusan SMK masih tinggi, sementara lapangan kerja di sektor kreatif terus bertumbuh namun tidak menawarkan kepastian pendapatan.
Shaughna juga mengaku belum siap memperkenalkan masa lalunya di Love Island kepada Lucia. Ia merasa momen ketika sang putri menyaksikan ibunya di layar kaca akan menjadi pengalaman yang mencengangkan, bahkan mungkin belum siap ia hadapi. "Saya belum membahas dengan anak-anak, setidaknya Lucia yang berusia tiga tahun, tentang penampilan saya di televisi," ujarnya. "Saya pikir itu akan menjadi momen yang sangat mengejutkan bagi saya karena saya tidak tahu apakah saya siap untuk dia melihat atau mengetahui hal itu terjadi."
Meski enggan menyarankan karier di industri hiburan, Shaughna tetap mengenang masa-masanya di vila Love Island dengan penuh kehangatan. Ia mengaku ingin kembali menjadi dirinya yang berusia 25 tahun untuk menikmati pengalaman itu lagi. "Itu luar biasa. Saya berharap bisa kembali menjadi 25 tahun dan mengalaminya lagi dengan lebih menikmati. Karena ketika Anda berada di dalamnya, sama seperti segala hal dalam hidup: Anda menganggapnya remeh saat sedang menjalaninya," kenangnya.
Pernyataan Shaughna ini memicu pertanyaan lebih luas tentang bagaimana para orang tua di era digital menyikapi profesi yang mengandalkan popularitas sesaat. Apakah dukungan tanpa syarat cukup, atau justru perlu diimbangi dengan arahan yang lebih pragmatis? Di tengah maraknya konten kreator dan selebritas dadakan, batas antara mimpi dan realitas semakin kabur. Yang jelas, bagi Shaughna, kebahagiaan anak-anaknya tetap menjadi prioritas utama, apa pun pilihan mereka kelak.



