Gloria Steinem Tutup Usia: Warisan Feminis yang Menyalakan Obor bagi Generasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Aktivis legendaris Gloria Steinem meninggal di usia 92 tahun, meninggalkan jejak enam dekade perjuangan kesetaraan gender.
- Dari investigasi Playboy hingga mendirikan Ms. Magazine, Steinem mengubah wajah jurnalisme dan aktivisme feminis global.
- Pesan interseksionalitas dan 'terlalu sopan' menjadi refleksi bagi gerakan perempuan Indonesia yang masih berjuang melawan ketimpangan.

Gloria Steinem, ikon feminisme yang namanya identik dengan kacamata aviator dan rambut belah tengah, telah mengembuskan napas terakhir di usia 92 tahun. Kepergiannya menandai berakhirnya era perjuangan yang tidak hanya mengubah lanskap gerakan perempuan di Amerika Serikat, tetapi juga menginspirasi gelombang aktivisme di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Lahir di Toledo, Ohio, pada 25 Maret 1934, Steinem tumbuh dalam bayang-bayang perceraian orang tuanya. Ia menghabiskan masa remajanya merawat ibunya yang mengalami gangguan mental, sebuah pengalaman yang kemudian ia akui membentuk pandangannya tentang kemandirian dan penolakannya terhadap pernikahan di usia muda. Baru di usia 66 tahun ia menikah dengan aktivis David Bale, yang meninggal empat tahun kemudian akibat limfoma.
Karier jurnalistiknya dimulai dengan panggilan terbatas pada rubrik 'wanita'—kesehatan dan mode—sebelum ia memberanikan diri menulis soal politik. Editor di The New York Times Sunday Magazine bahkan meragukan kapasitasnya dengan komentar sinis, 'Saya tidak menganggapmu seperti itu.' Namun, Steinem membuktikan diri lewat investigasi bawah tanahnya yang terkenal, 'I Was a Playboy Bunny' (1963), yang tidak hanya mengangkat namanya tetapi juga mengungkap eksploitasi perempuan di klub milik Hugh Hefner.
Ketika Hefner menyatakan dukungannya terhadap hak pilih perempuan, Steinem dengan tajam membalas bahwa ia ingin laki-laki menarik bagi perempuan, tetapi tidak ingin identitas mereka bergantung pada itu. 'Apa yang tidak diketahui Playboy tentang perempuan bisa mengisi sebuah buku,' ujarnya, sebuah sindiran yang menggambarkan kecerdasannya yang tajam.
Pada 1971, frustrasi dengan kebuntuan media arus utama, Steinem bersama rekannya mendirikan Ms. Magazine. Majalah ini menjadi platform penting bagi politik perempuan kontemporer, memperkenalkan kembali sejarah feminis melalui serial 'Lost Women' yang mengangkat kisah para perintis yang terlupakan. Steinem juga aktif dalam berbagai organisasi, termasuk National Women's Political Caucus dan Women's Media Center, yang bertujuan memperkuat representasi perempuan di ranah publik dan media.
Di luar karya jurnalistiknya, Steinem adalah sosok yang vokal memperjuangkan hak reproduksi. Pada 1969, ia secara terbuka mengakui aborsi yang dilakukannya di London saat berusia 22 tahun, sebuah pengakuan berani di masa ketika prosedur tersebut masih ilegal. Ia mendedikasikan bukunya, 'My Life on the Road', untuk dokter yang membantunya, John Sharpe.
Steinem juga dikenal karena pandangannya yang interseksional. Dalam esainya tahun 1969, 'After Black Power, Women's Liberation', ia menekankan pentingnya aliansi dengan perempuan miskin dari semua ras. Ia melihat gerakan perempuan sebagai 'keluarga besar pilihan' dan merasa 'bersemangat dengan perempuan muda sekarang', tetapi tidak segan mengkritik. Tentang gerakan #MeToo, ia menegaskan bahwa itu bukan fenomena baru, melainkan kelanjutan perjuangan yang dimulai pada 1970-an ketika mahasiswi pertama kali menciptakan istilah 'pelecehan seksual'.
Warisan Steinem tidak hanya diukur dari penghargaan, seperti Presidential Medal of Freedom yang diterimanya pada 2013, tetapi juga dari etosnya untuk menghubungkan berbagai kelompok, wilayah, dan waktu. Juliana Stratton, Letnan Gubernur Illinois yang mendapat dukungan Steinem, mengenangnya sebagai sosok yang bekerja di balik layar untuk memperjuangkan kesetaraan rasial dan feminisme interseksional. Pada 2016, di Melbourne, Steinem menjawab pertanyaan seorang perempuan muda tentang kesalahan gerakan perempuan dengan jawaban khasnya: 'Saya pikir kita terlalu sopan.'
Bagi Indonesia, pesan Steinem tentang interseksionalitas dan keberanian untuk tidak 'terlalu sopan' relevan dengan perjuangan melawan ketimpangan gender yang masih marak. Gerakan #MeToo di Indonesia, yang mulai mengemuka pada 2018, adalah bukti bahwa obor yang dinyalakan Steinem terus menyala. Namun, tantangan seperti kekerasan berbasis gender dan kesenjangan upah masih membutuhkan kerja keras. Pertanyaannya, akankah generasi muda Indonesia mengambil obor itu dan menyalakan perubahan yang lebih besar?



